
Anthony sangat menjaga Kimberly semasa kehamilan ini. Bahkan ia kadang hanya bekerja setengah hari di kantor, dan sisanya ia selesaikan di rumah.
"Sayang, aku bukan anak kecil," ucap Kimberly saat Anthony menyuapinya.
"Biarkan aku melakukannya. Kamu pasti lelah membawa perutmu ini selama 9 bulan."
"Tapi aku masih bisa makan sendiri. Malu aku dilihat Mommy dan Daddy," Kimberly menutup wajahnya yang memerah karena Anthony masih saja menyuapinya.
"Biarkan saja dia melakukannya, Kim. Dulu Daddy juga melakukan hal yang sama pada Mommy," ujar Lee tertawa.
Namun, baru beberapa kali ia menerima suapan, tiba tiba saja perutnya terasa sakit.
"Sayang, ada apa?" tanya Anthony saat melihat Kimberly meringis.
"A-aku ngompol," Kimberly menunduk karena malu, tapi ia juga terus menahan sakit.
"Kim bukan ngompol, sayang. Sepertinya ketubanbya pecah. Kamu segera bawa Kimberly ke rumah sakit, Daddy dan Mommy akan menyusul.
Anthony membawa Kimberly ke rumah sakit. Ia duduk di kursi belakang sambil memeluk dan memegang tangan Kimberly, untuk menguatkan istrinya. Sementara sang supir menyetir.
Sampai di rumah sakit, Anthony langsung diarahkan menuju ruang persalinan karena ketuban Kimberly sudah pecah, jadi harus segera mendapatkan penanganan. Anthony ikut masuk ke dalam ruang persalinan untuk menemani Kimberly.
"Sakit," ucap Kimberly sambil memegang tangan Anthony dengan kuat.
"Apa tidak bisa segera ditangani?" tanya Anthony khawatir.
"Kita akan menunggu dokter kandungan yang menangani Nyonya Kimberly sebentar lagi. Saat ini masih di bukaan 8, jadi kita tunggu sampai bukaan 10," jelas seorang perawat.
Setiap 10 menit, Kimberly merasakan sakit perut yang luar biasa. Lama kelamaan turun menjadi 5 menit. Hingga saat dokter kandungan datang, Kimberly sudah siap untuk mengeluarkan bayinya.
"Tarik nafas, kemudian buang dengan perlahan ya. Jika saya katakan untuk mengejan, maka baru anda mengejan."
Kimberly memegang tangan Anthony dengan kuat saat sakit kembali menderanya.
"Satu, dua, tiga, dorong!" teriak sang dokter.
"Uhhhhh ...."
__ADS_1
"Sedikit lagi, Nyonya. Kita sudah bisa melihat kepalanya."
Sekali lagi, sakit itu datang. Kimberly kembali diminta untuk menarik nafas kemudian mendorong dalam satu kali tarikan nafas.
Oekkk .... oekkk ....
Dokter mengangkat seorang bayi, kemudian memberikannya kepada seorang perawat untuk dibersihkan. Dokter kembali memusatkan perhatiannya untuk membersihkan semua sisa sisa darah dan juga plasenta yang harus dikeluarkan. Dokter harus mengeluarkannya, karena jika terlalu lama, maka akan menyebabkan infeksi dan kehilangan darah yang berlebihan.
Setelah bayi tersebut selesai dibersihkan, dokter kandungan tersebut menggendongnya dan memberikannya kepada Anthony.
"Selamat ya Tuan, bayinya laki laki. Sangat sehat dan sempurna. Kiranya Tuhan selalu menjaga dan menyertai kehidupan anda sekeluarga," ucap sang dokter.
"Terima kasih banyak, Dok," Anthony mencium kening Kimberly dan juga bayinya, "Terima kasih, sayang."
Untuk pertama kali, bayi tersebut diletakkan di atas tubuh Kimberly untuk mencari sumber kehidupannya. Hal itu membuat Anthony dan Kimberly tersenyum.
Lee dan Anita sudah menunggu di depan ruang persalinan. Mereka tidak sabar melihat cucu pertama mereka. Sebelum berangkat, mereka juga sudah menghubungi besan mereka. Alan, Megan, dan King segera berangkat ke Kota New York.
Anthony keluar dari ruang persalinan sambil tersenyum ke arah kedua orang tuanya, "Bagaimana, An?"
"Mereka berdua baik dan sehat, Dad, Mom. Kita akan menemui mereka di ruang rawat saja. Di sini banyak orang, tidak baik untuk bayi yang baru dilahirkan. Daddy dan Mommy tunggu di sini sebentar ya, Anthony akan mengurus kamar untuk Kim dan baby Aiden."
"Ya Mom, aku dan Kimberly memberinya nama Aiden Leandro Graham."
"Nama yang sangat bagus, sayang. Ia akan menjadi pribadi yang kuat seperti yang kalian harapkan."
"Terima kasih, Mom. Aku titip Kimberly sebentar. Aku akan ke bagian administrasi."
"Baiklah, sayang."
*****
Di dalam ruangan tersebut, suara tawa dari anggota keluarga begitu terdengar dengan jelas. Kebahagiaan begitu terpancar di mata mereka. Bagi kedua keluarga, Aiden adalah cucu pertama mereka.
"Selamat ya, Kim. Kakak turut bahagia melihatmu."
"Terima kasih, Kak. Bagaimana dengan kakak sendiri?" tanya Kimberly.
__ADS_1
"Aku juga bahagia, Kim."
"Benarkah?" King pun tersenyum dan mengangguk.
"Aku sudah melamar Hanna ... dan dia menerimanya."
"Ahhhh, selamat kak!!" teriak Kimberly sambil memeluk King.
Anthony pun langsung memberikan selamat kepada King, "Selamat King! Bahagiakanlah Hanna. Ia sudah melewati banyak hal, ia layak untuk bahagia."
"Aku mengerti, An. Terima kasih dulu kamu dan Hansel selalu menemani dan menjaganya."
"Karena aku percaya kami pasti akan kembali dan menyadari semuanya," sekali lagi Anthony memeluk dan menepuk pundak King.
Baby Aiden dibawa ke dalam kamar oleh seorang perawat. Bersama mereka juga datang dokter kandungan yang menangani Kimberly, bersama seorang dokter anak yang direkomendasikan untuk memberi penjelasan kepada Anthony dan Kimberly yang kini telah menjadi orang tua.
*****
Kimberly tengah duduk di sebuah sofa di teras belakang kediaman Graham. Ia memperhatikan Anthony yang sedang bermain bersama Aiden yang kini berusia 5 tahun.
Ia meminum secangkir teh yang berada di hadapannya, kemudian mengelus perutnya yang kini sudah kembali membuncit.
Ia sangat berterima kasih pada Tuhan karena memberikan padanya suami seperti Anthony. Seorang pria yang pada awalnya hanya ia kenal sebagai seorang pengawas ujian masuk universitas. Kebaikan hatinya, ketulusannya, dan perhatiannya, telah meluluhkan hati Kimberly.
Mungkin cinta memang datang karena terbiasa, seperti Kimberly yang suda terbiasa dengan bagaimana tulusnya perhatian Anthony kepadanya. Ia takut ... takut kehilangan seseorang yang begitu menyayanginya, menerima dirinya, dan ternyata mencintainya begitu dalam.
Kimberly tersenyum sambil melambaikan tangan pada putranya yang kini digendong oleh Anthony dan datang menghampirinya.
Kimberly menatap manik mata Anthony, "Terima kasih, sayang. Kamu memberikanku begitu banyak kebahagiaan, hingga rasanya hati ini begitu penuh."
"Aku senang jika kamu bahagia, sayang," Anthony mengecup kening Kimberly kemudian memeluk bahunya, "dan aku masih punya begitu banyak cinta yang akan selalu kuberikan padamu setiap harinya."
"Aku mencintaimu, Anthony Lee Graham," ucap Kimberly.
"Dan aku akan selalu lebih mencintaimu, Kimberly Harisson," Anthony tersenyum menatap Kimberly. Sambil menggendong putra mereka, ia memberikan sebuah ciuman yang begitu dalam pada istrinya itu.
*****
__ADS_1
Terima kasih sekali lagi readers atas atensinya.
Cherry luph u full!!