SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
MEMBAWAMU KE PENJARA


__ADS_3

"Lo bisa kan Jer terima Kim kerja di sini?" tanya William.


"Itu sebenarnya tugas bagian HRD, Bro. Tapi ... demi lo, ntar coba gue usahain."


"Jangan cuma diusahain! Lo itu kan bos di sini, masa nggak bisa cuma masukin pegawai satu," William melipat kedua tangannya di depan dada.


"Bukan nggak bisa, Bro. Tapi apa nanti kata dunia persilatan. Sejak Bokap gue mimpin ini perusahaan, nggak pernah gue ikut campur masalah rekrut pegawai," Jeremy merebahkan tubuhnya di sofa sebelah William.


"Ya tolongin gue aja kali ini."


"Lo sampai minta tolong gini, emang lo ada masalah apa sebenarnya sama tetangga lo itu?"


"Kimberly, Jer. Namanya Kimberly."


"Iya, iya! Dari dulu kayanya lo masalah banget kalau gue kaga nyebut namanya."


"Ahh... udahlah! Pokoknya lo harus bisa terima dia kerja di sini."


"Ckk ... hmm! Ntar gue tanyain bagian HRD," Jeremy menghela nafasnya pelan. Ia sebenarnya tidak mau ikut campur dengan permasalahan pegawai. Kalau sampai ketahuan pegawai yang lain, ia pasti akan menjadi bahan omongan karena dianggap pilih kasih. Apalagi Kimberly adalah seorang wanita, bisa bisa dikira ia menyukai Kimberly.


"Trus, lo mau cerita nggak sebenernya lo kenapa? Muka suntuk bener," lanjut Jeremy.


"Viera selingkuh di belakang gue, Bro. Menurut lo, apa yang mesti gue lakuin? Kalau nggak ada Vivian di antara gue sama dia, pasti dengan cepat gue akan pisah. Tapi ... gue mikirin Vivian. Apa gue harus membiarkan dia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu?" tanya William sendu.


Jeremy mulai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Inilah yang ia tak mau terjadi, karena itulah sampai saat ini ia terus mengelak jika orang tuanya meminta agar ia cepat menikah. Keterikatan dengan seorang wanita akan membuatnya pusing kepala. Lebih baik hidup bebas, bukan begitu?


"Gue bukan nggak mau ngasi saran, Bro. Tapi lo tahu kan, gue sendiri belum nikah dan gue paling males ngomongin masalah itu. Sebaiknya lo tenangin diri lo dulu, trus lo berpikir pakai kepala dingin. Setelah itu baru deh lo putusin gimana rencana ke depannya. Biasanya keputusan yang kita ambil saat kita emosi, malah akan menghasilkan penyesalan di kemudian hari," ucap Jeremy sedikit bijak.

__ADS_1


"Hmmm ... ntahlah, Jer. Gue ngerasa semua yang gue lakuin buat dia udah nggak ada artinya lagi. Semua yang gue lakuin selama ini, semua buat dia. Tapi ... (menghela nafas) ... sepertinya semua nggak berarti."


Jeremy menepuk bahu William, memberikan semangat dan kekuatan padanya, "Mending lo pulang sekarang, istirahat. Lo kelihatan nggak sehat, Bro."


"Justru kalau gue pulang, gue bisa makin gila karena harus ngeliat wajah Viera, Jer. Gue langsung ngebayangin gimana dia bercumbu dengan laki laki lain, dan itu jadi bikin gue emosi."


"Kalau gitu, apa lo mau ke apartemen gue aja? Lo tahu kan passwordnya apa, nggak pernah gue ganti dari dulu. Lo istirahat dulu sana."


"Ok, Jer. Gue pinjem apartemen lo dulu ya bentar. Thank you," William melangkahkan kakinya keluar dari ruangan, tapi kemudian ia berbalik lagi, "permintaan gue yang tadi jangan lupa ya."


"Iya, iya!"


William harus kembali melewati area tempat ia bertemu dengan Kimberly tadi. Ia sangat berharap bisa bertemu dan berbicara lagi, tapi ia sama sekali tidak melihat keberadaan wanita itu.


*****


"Argghhh!!! Menyebalkan!! Aku benci hidup seperti ini! Kebebasanku hilang, aku tidak bisa mendapatkan uang, dan aku juga tidak bisa bersenang senang dengan uang yang aku miliki. Dan lebih parah lagi, aku harus mendengar tangisan bayi setiap hari, ahhh!!! Aku bisa gila!" teriak Viera di dalam kamar.


Ia berjalan mondar mandir di dalam kamar, terus berpikir bagaimana caranya ia bisa keluar dari rumah. Tak berapa lama, ponselnya berbunyi,


"Halo," sapanya dengan manja ketika melihat siapa yang menghubunginya.


Datanglah ke tempat biasa, aku menunggumu.


"Tapi aku sedang tidak bisa keluar."


Ahh sayang sekali, padahal aku sebenarnya ingin mengajakmu berkeliling ke beberapa negara Eropa.

__ADS_1


"Benarkah?" Mata Viera langsung berbinar saat mendengar rencana Harry yang ingin mengajaknya berkeliling Eropa.


Tentu saja! Apa aku pernah berbohong padamu? Ayolah, lakukan sesuatu. Jangan lupa siapkan kopermu, kita akan berangkat ketika kamu sampai di sini.


"Baiklah, aku akan mencari cara."


Aku menunggumu, seksi.


Tanpa banyak bicara, Viera langsung mengepak pakaiannya ke dalam sebuah koper. Ia terus mencari alasan agar ia bisa segera pergi dan menghampiri Harry. Ia memang tidak merasa puas dengan tubuh Harry karena setiap kali mereka bermain, dia lah yang harus memuaskan Harry. Namun, uang Harry akan memuaskan sisi lain dari dirinya. Viera pun tersenyum membayangkan bagaimana ia akan berjalan di sepanjang pusat perbelanjaan Kota Paris, dan menikmati kebebasannya.


Ia langsung keluar dari kamarnya sambil menyeret kopernya.


"Nyonya," sapa Alke yang tengah menggendong Vivian.


"Aku harus pergi sekarang."


"T-tapi Nyonya ...," Alke juga sudah mendapatkan pesan dari William agar tidak membiarkan Viera keluar dari rumah.


"Tidak ada tapi tapian. Aku harus mengunjungi adik ibuku di kampung. Ia sedang membutuhkanku saat ini. Ia sedang sakit dan tak ada yang merawatnya," ucap Viera beralasan.


Alke sendiri tak berani menahan kepergian Viera. Viera juga mengatakan hal yang sama pada security yang berjaga di depan. Namun, tetap tak mudah bagi Viera karena security tersebut terus menahannya.


"Kalau sampai BibiKu meninggal, maka aku akan menyalahkanmu dan membawamu ke penjara!" teriak Viera, membuat security itu terdiam dan membiarkan Viera pergi meninggalkan kediaman Smith.


Security tersebut menghubungi William setelah kepergian Viera,


"T-tuan ..."

__ADS_1


*****


__ADS_2