SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
LUKANYA KEMBALI


__ADS_3

Pagi kembali menyapa, dalam sebuah kamar tertidur 3 orang wanita. Semalaman mereka berbincang dan bercanda, hingga hampir subuh barulah mereka terlelap. Anthony membiarkan Kimberly meluapkan semuanya, ia tak mengganggu kebersamaan wanita itu dengan sahabat sahabatnya.


Anthony sudah bangun pukul setengah 6 pagi, ia membersihkan dirinya, kemudian keluar sambil menggunakan pakaian olahraganya. Ia memang terbiasa berolahraga, walaupun hanya sekedar berlari mengelilingi komplek perumahan.


Namun, baru saja ia membuka pintu, ia dikejutkan dengan seseorang yang sudah berdiri di hadapannya.


Bughhh ....


"Mana adikku? Apa yang kamu lakukan padanya, huh?!"


"Tidak pernah berubah, langsung memukul tanpa mendengarkan penjelasan terlebih dahulu."


"Aku tak perlu penjelasan darimu. Aku tahu pria seperti apa dirimu. Seorang pengkhianat!!"


Hampir saja King kembali memukul Anthony, tapi kali ini Anthony berhasil menepisnya.


"Berhentilah menggunakan emosimu, pakailah otakmu untuk berpikir. Pantas saja Hanna pergi meninggalkanmu!"


"Bukan dia yang meninggalkan aku, tapi akulah yang meninggalkannya. Ingat itu!! Dia tidak pantas untukku. Kalian berdua sama, sama sama pengkhianat!!"


Anthony sudah mengepalkan tangannya, ingin sekali ia membalas semua pukulan King padanya, tapi ia tak ingin Kimberly menilainya buruk. Ia yakin, jika Hanna berada di sana, Hanna pasti akan menahannya.


Biarlah ia beranggapan apapun, itu adalah hak nya. Aku tak akan membela diri, karena kurasa hanya sia sia. Bersabar, itu yang bisa kulakukan.


Anthony teringat kata kata Hanna padanya setelah kejadian itu. Mungkin Hanna benar, biarlah King dengan asumsinya sendiri.


"Kim!! keluar!!" King berteriak di depan pintu rumah Anthony. Tak berapa lama, Kimberly pun keluar bersama Kristy dan Lady.


"Apa sih Kak, teriak teriak aja. Nggak tahu apa aku masih ngantuk!" gerutu Kimberly.

__ADS_1


"Ayo pulang!!"


"Aku akan pulang, Kak. Biarkan aku di sini dulu."


"Tidak!! Pulang sekarang atau aku tidaj akan pernah mengijinkanmu keluar lagi!" Kimberly menatap kakaknya, baru kali ini ia dibentak dan dimarahi. Ia semakin penasaran dengan hubungan antara King dengan Anthony. Tanpa berkata kata lagi, ia langsung turun menghampiri King. Ia melihat ke arah Anthony, melihat ada lebam di pipi kakak pengawasnya itu, hati Kimberly menjadi sakit.


"Ayo kita pulang," ucap Kimberly pada King.


"Kak, maafkan aku karena Kak King membuat keributan di sini dan melukaimu. Maaf. Terima kasih sudah menjagaku, aku pamit dulu," bisik Kimberly. Ia juga mengarahkan pandangannya pada Kristy dan Lady yang memperhatikan kejadian itu dari tangga.


"Aku tidak apa apa. Jaga dirimu," Anthony mengusap pucuk kepala Kimberly dan tersenyum.


Tinnn .... tinnnn!!!!


King menekan klakson mobilnya dengan kencang. Kimberly pun segera pamit karena ia tak ingin membangunkan seluruh tetangga Anthony.


*****


Deru nafas saling bersahutan di dalam suatu kamar. Kini mereka melakukannya tanpa harus takut ... tidak! tidak! dulu juga mereka tidak takut. Bagi mereka ini sudah menjadi bagian dari hubungan mereka.


"Faster, honey!" ucap Viera dengan manja.


"As you wish, honey," William kembali menghentak dengan keras dan cepat, membuat mereka berdua terus dilanda kenikmatan yang tiada tara. Hingga selesai satu kali pergulatan mereka, kini sudah disambung lagi dengan pergulatan selanjutnya.


Sementara itu di ruangan lain,


"Sayang, aku mau kita segera pergi. Kita kembali ke Jepang," ucap Elena. Ia tidak tahu mengapa hatinya belum bisa menerima keberadaan Viera. Ia masih sangat merasa bersalah pada keluarga Harisson, terutama pada Kimberly.


Media sudah menampilkan berita utama mengenai pernikahan keluarga Smith yang gagal dengan keluarga Harisson karena sang putra ketahuan telah menghamili wanita lain. Benar benar bukan berita yang patut dibanggakan.

__ADS_1


"Apa kamu tidak ingin lebih dekat dengan menantumu terlebih dahulu?" tanya Michael.


"Aku tidak tahu. Aku perlu menenangkan diriku terlebih dahulu. Mengapa, mengapa semua ini terjadi?"


"Sudah, sudah. Kita pasrahkan saja semua. Mungkin wanita itu adalah kebahagiaan William."


"Tidak, sayang. Kamu sendiri sudah tahu siapa wanita itu. Kita tidak dengan sengaja melarang William berhubungan dengan wanita itu. Mom sudah memilihkan yang terbaik untuknya. Kimberly ... bagaimana keadaannya sekarang?"


*****


"Kakak jahat!! Sebenarnya apa mau kakak?"


"Kakak sudah katakan Kim, jangan dekat dekat dengan laki laki itu. Ia bukan laki laki yang baik."


"Kak Lee adalah laki laki yang baik bagiku. Dia tidak pernah sekalipun membentakku. Ia selalu ada untukku, ia selalu mendengarkanku," ucap Kimberly yang kini mulai mengalirkan air matanya.


"Kakak pernah mengenalnya, dan dia bukan laki laki yang baik. Ia memang terlihat baik di depan, tapi ia akan menusukmu dari belakang. Percayalah pada kakak, Kim."


Kimberly mengarahkan pandangannya ke arah jendela, ia bingung. Keadaan ini terasa rumit baginya. Kimberly kemudian mengarahkan pandangannya kembali pada King, "Kalau kakak mau aku percaya, kakak harus menceritakan semuanya padaku."


"T-tapi, Kim. Kakak tak mau mengungkitnya lagi."


"Jika kakak tidak mau mengungkitnya, itu berarti kakak sudah melupakannya dan aku akan tetap berteman dengan Kak Lee. Setelah kakak bercerita pun, semua keputusan ada di tanganku. Kakak tidak berhak menentukan siapa yang boleh berteman denganku dan siapa yang tidak. Aku sudah dewasa, aku tahu apa yang harus aku lakukan," ucap Kimberly.


"Kalau kamu sudah dewasa dan tahu apa yang harus kamu lakukan, seharusnya kamu tidak perlu mengalami kejadian seperti kemarin."


Deghhh ....


Mendengar hal itu, tiba tiba saja hati Kimberly kembali terasa sakit. Semalaman ia berusaha melupakan semua yang terjadi. Bersama sahabatnya ia bercengkerama, bercanda, tapi kini dengan satu kalimat dari kakak kesayangannya, lukanya kembali terasa. Kimberly akhirnya diam, tak menanggapi ucapan King.

__ADS_1


King melihat ke arah Kimberly, dan ia tahu ia telah salah bicara. Ia pun diam dan melajukan kendaraannya untuk pulang


__ADS_2