SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
JANGAN BERTINDAK BODOH


__ADS_3

Weekend telah tiba, Kimberly kini duduk di hadapan Anthony. Di sebelahnya ada Lady, Kristy, dan juga Hansel. Sudah lama rasanya mereka tidak berkumpul, sejak Kimberly ditempatkan di perusahaan Smith. Hal tersebut membuat waktunya seperti hanya untuk William. Bahkan ketika malam tiba, Aunty Elena sering mengundangnya makan malam.


Kimberly ingin menolaknya, tapi ia tak tega. Aunty Elena begitu baik padanya, dan ia tak ingin melukai perasaannya. Mommynya, Megan, tidak masalah jika memang Kimberly mau melakukannya. Ia tak bisa melarang.


"Kamu suntuk banget Kim kayaknya?"


"Hmmm, cape banget rasanya."


"Kalau gitu, kita pulang aja yuk. Kita bisa ngumpul lain kali," ucap Kristy.


"Kapan lagi? Belakangan ini kerjaan rasanya nggak ada habisnya. Udah gitu ... hmmm, ntahlah."


Anthony terus memperhatikan Kimberly. Ia bisa merasakan kalau Kimberly belakangan ini kurang bersemangat, "Bagaimana kalau besok kita jalan jalan?"


"Kemana, Kak?" tanya Lady bersemangat.


"Ke taman hiburan. Bagaimana?" ucap Anthony.


"Ahhhh, aku mau, aku mau!" teriak Lady.


Kimberly masih dengan mode diamnya, sementara Kristy dan Lady sudah terlihat bahagia.


Dalam perjalanan pulang,


"Aku akan menjemputmu besok pagi, Kim."


"Baiklah, Kak. Terima kasih," Kimberly turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Anthony sangat menyadari bahwa Kimberly yang ia lihat hari ini, bukanlah Kimberly yang biasa.


Keesokan harinya,

__ADS_1


"Aahhhhh!!!!" teriakan Lady, Kristy, dan juga Kimberly begitu memekakkan telinga. Mereka menaiki wahana roller coaster yang sangat menguji adrenalin.


Kimberly pun berteriak sekencang kencangnya, mengeluarkan semua beban di dalam hatinya. Saat turun dari wahana tersebut, perasaannya terasa lebih lega.


Aaa .... hahahaha hahahaha hahahaa ...


Melihat Lady tertawa terbahak-bahak, pandangan mereka pun tertuju pada Lady yang kini tengah berhadapan dengan Hansel. Tanpa mereka bisa menahan, mereka pun ikut tertawa.


"Kalian menyebalkan!!" teriak Hansel.


"Sel, yang bener aja, masa celana sampai basah gitu sih?" goda Anthony.


"Ahhh sialannn lo!"


"Emang ternyata makhluk jadi jadian yang satu ini takutan ya," kini giliran Kristy yang tertawa terbahak bahak sambil mengeluarkan air mata.


Kimberly benar benar meluapkan semuanya di setiap permainan. Mereka bergegas pulang karena langit mulai gelap.


"Kak, terima kasih buat hari ini. Aku benar benar sangat senang," senyum kembali tercipta di wajah Kimberly, Anthony sangat suka melihatnya.


Ketika sampai di depan rumah Kimberly, Anthony langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk memayungi Kimberly. Kimberly keluar dari mobil dengan tersenyum.


"Aku suka melihat senyummu, Kim. Ingat, jangan pernah kamu kehilangan senyumanmu itu," pesan Anthony dan memeluk Kimberly sambil mengusap rambut Kimberly. Ia juga mencium pucuk kepala Kimberly.


"Masuklah, sudah malam. Nanti kakakmu marah," Anthony memberikan payung miliknya pada Kimberly.


"Tenang saja, ia tak akan marah. Ia tidak ada di rumah," ucap Kimberly.


"Apakah hari minggu dia juga bekerja?"

__ADS_1


"Tidak, dia masih berusaha di rumah Dokter Ben," Kimberly tersenyum saat mengatakannya.


"Aku mengerti, baiklah kalau begitu. Masuklah," Kimberly pun masuk ke dalam rumah setelah melambaikan tangan pada Anthony. Hal tersebut tak luput dari penglihatan William.


Ini tak bisa dibiarkan. Aku harus membuatnya kembali, atau aku akan kehilangan lagi. - William.


*****


King berdiri di depan pintu rumah Dokter Ben. Biasa ia melakukannya setelah pulang dari kantor, tapi kalau weekend ia selalu berdiri sejak pagi.


Dari dalam rumah, Hanna selalu memperhatikannya diam diam. Sejak ia pulang ke rumah, King selalu melakukan itu. Saat ini hati dan pikirannya benar benar tak sejalan, apalagi diluar buliran air hujan mulai turun. Sedari tadi ia bolak balik melihat ke arah luar, apakah King sudah pergi atau setidaknya masuk ke dalam mobilnya.


"Kenapa dia bodoh sekali!" gumam Hanna dari dalam rumah. Hanna pun masuk lagi ke dalam, ia menuju dapur.


Setelah berkutat di dapur untuk membantu pelayan menyiapkan makan malam, hujan turun semakin deras. Hanna kembali teringat pada King yang berdiri di depan rumah.


"Seharusnya ia sudah pulang," gumam Hanna. Namun, perkiraannya salah, King masih saja berdiri di bawah hujan.


Hanna langsung mengambil 2 buah payung. Ia memegang satu payung untuk memayungi dirinya dan yang satu lagi hendak ia berikan pada King. King yang sedang menunduk, tiba tiba tak merasakan air hujan lagi mengenai tubuhnya. Ia mengangkat kepalanya dan melihat Hanna di hadapannya.


"Han ..."


"Pulanglah, jangan bertindak bodoh," ucap Hanna sambil meraih tangan King agar memegang payung yang ia bawa. Kemudian berbalik untuk masuk kembali.


"Maafkan aku, Han. Aku memang bodoh ... aku bodoh karena percaya pada perkataan Sam dan Fika. Aku bodoh karena tidak mempercayaimu. Maafkan aku. Seharusnya aku ada di sampingmu, tapi aku justru meninggalkanmu dan menuduhmu yang bukan bukan," King langsung menghampiri Hanna dan memeluknya dari belakang. Kepalanya kini tertunduk menyentuh bahu Hanna.


"A-aku ..."


Brughhh ....

__ADS_1


__ADS_2