SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
SALAH LANGKAH?


__ADS_3

Seminggu kemudian,


"Dad, Mom!" panggil William sambil melambaikan salah satu tangannya.


Michael dan Elena menghampiri William, kemudian supir membantu memasukkan koper ke dalam bagasi, sementara William membukakan pintu untuk orang tuanya.


Tanpa banyak bicara, Michael dan Elena memasuki mobil. Mereka duduk di kursi belakang, sementara William duduk di samping supir. Tak ada pembicaraan apapun selama perjalanan, William merasa ada sedikit kecanggungan di antara mereka, sejak pernikahannya dengan Viera.


Sesampainya mereka di rumah,


"Tuan," sapa Alke, babysitter Vivian. Ia langsung berdiri menyambut kedatangan tuannya, padahal ia sedang duduk di sofa sambil memberikan susu kepada Vivian.


Michael dan Elena pun masuk, Alke bisa merasakan suasana yang tiba tiba jadi sedikit mencekam. Elena memandang ke seluruh ruangan, seperti mencari seseorang.


"Mana istrimu?" tanya Elena sedikit ketus.


"Nyonya ada dimana Al?" tanya William.


"Maaf Tuan, Nyonya sedang keluar."


"Keluar? Apa sudah lama?"


"Sekitar 30 menit yang lalu," jawab Alke, membuat William sedikit menghembuskan nafasnya kasar.


"Apa memang seperti itu pekerjaan istri tercintamu itu? keluyuran setiap hari. Bukankah sebaiknya ia menjaga anaknya yang masih bayi, dan juga menunggu kepulangan suaminya di rumah," Elena berdecak kesal.


William sendiri tidak dapat membantah ataupun membela tindakan Viera. Memang sejak mereka menikah, Viera sering pergi keluar bahkan hampir setiap hari. Ia tidak melanjutkan kuliahnya, sementara William harus segera lulus dan bekerja.


Elena pun menghampiri Vivian. Alke dengan perlahan memindahkan Vivian yang kini terlelap ke tangan Elena. William bisa melihat bagaimana Elena begitu bahagia melihat Vivian, seulas senyum tipis terbit di wajahnya.


*****


"Meja meja itu diletakkan di sebelah sini saja, setelah itu baru kita pindahkan beberapa lemari ke dapur," ucap Hanna yang memberi beberapa arahan.


Hari ini ia memindahkan perabot yang ada di kedai makannya ke sebuah ruko yang persis ada di samping toko sembakonya. Hanna juga meminta kepada seorang tukang untuk membuat jalan tembus di area belakang tokonya ke area belakang ruko, untuk memudahkannya bolak balik, tanpa terlihat dari depan.


"Kak Jota, tolong aku," pinta Kinan saat ia akan memindahkan sebuah meja.


Mereka bahu membahu mengerjakan semua, hingga matahari sudah beranjak naik, Hanna memanggil mereka semua untuk makan bersama. Hanna memesan makanan secara online karena tak mungkin ia meminta bantuan Fahri untuk memasak.

__ADS_1


"Wah Kak, bagaimana kalau kita juga mendaftar seperti ini."


"Maksudmu?" tanya Hanna pada Kinan.


"Selain kita jualan di sini, kita jual secara online juga."


"Wah idemu bagus tuh nan. Ayo Han, kita daftar," ucap Fahri. Memang tak ada jarak di antara mereka. Hanna tak pernah membangun dinding antara atasan dan bawahan. Ia selalu menganggap mereka semua adalah sahabatnya, bahkan sudah seperti saudara, karena ia tak memiliki siapa siapa lagi, kecuali Ben.


Tiba tiba saja ia teringat akan Ben. Sudah lama sekali ia tak memberi kabar.


Apa Kak Ben akan marah padaku karena aku mengingkari janjiku?


Hingga sore hari, mereka terus mengangkat dan merapikan barang barang, agar saat minggu berikutnya tiba, mereka sudah kembali bisa berjualan.


*****


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, keluarga Smith sudah siap di meja makan untuk makan bersama. Namun, tidak terlihat sama sekali keberadaan Viera.


"Apa istrimu itu belum pulang juga?" tanya Elena.


"B-belum Mom," jawab William, membuat Elena berdecak kesal.


Mereka pun makan malam tanpa kehadiran Viera. Tak ada perbincangan di antara mereka, membuat suasana terasa begiti dingin dan hening. Ketika mereka tengah menikmati, terdengar suara mobil memasuki kediaman Smith.


Terdengar langkah kaki akibat sepatu heels beradu dengan lantai. Sambil menenteng beberapa belanjaan, Viera masuk ke dalam rumah. Ia memanggil pelayan untuk membawakan barang belanjaannya ke kamar, tanpa menyadari kalau saat ini Michael, Elena dan William berada di ruang makan.


Viera pun berjalan menaiki tangga. Saat sampai di pijakan ke empat, ujung matanya menangkap sesuatu di ruang makan.


Deghhh ...


Mereka sudah datang, dan lihatlah tatapan mereka yang sangat menyebalkan itu. Ckk .... aku sudah memberi kalian cucu dan anak kalian itu tergila gila padaku.


Tanpa menyapa, Viera melanjutkan langkahnya menuju kamar tidurnya.


"Kamu lihat? Apa seperti itu kelakuan seorang istri dan menantu yang harus dibanggakan?" ketus Elena.


"Mom, Viera pasti ingin membersihkan diri dulu sebelum bertemu kalian," bela William.


"Jangan terus membelanya. Kamu sudah hidup hampir 1 tahun dengannya, kamu juga sebenarnya sudah tahu bagaimana sifat dia yang sebenarnya. Mom berharap kamu tidak menyesal telah memilihnya," Elena merasa selera makannya telah hilang. Ia meletakkan sendok dan garpunya, kemudian beranjak pergi meninggalkan meja makan.

__ADS_1


"Maafkan Viera, Dad," pinta William.


"Seharusnya kamu meminta maaf pada Mommymu. Kamu tahu, selama di Jepang Mommymu terus saja menangis. Ia selalu merasa bersalah karena telah menjodohkanmu dengan Kimberly. Mommymu sangat menyayangi Kimberly, seperti putrinya sendiri, karena itulah ia begitu senang saat mengetahui bahwa Grandpa dan Grandma menjodohkanmu dengan Kimberly."


Kim, sudah lama aku tidak mendengar nama itu. Apa yang saat ini kamu lakukan? Bahkan aku tidak pernah melihatmu lagi sejak hari itu. - William.


"Mommy tidak dapat mengubah keputusanmu, apalagi ada malaikat kecil yang sedang tumbuh. Ia tak mungkin memisahkan seorang anak dengan Daddynya. Perlahan Mommy menerima, tapi sepertinya melihat keadaanmu sekarang seperti ini dan istrimu seperti itu, rasanya Mommy ... ntahlah, Daddy hanya mengharapkan yang terbaik bagimu," Michael akhirnya ikut beranjak, pergi ke kamar tidurnya, mengikuti Elena.


Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Aku hanya ingin keluarga ini bisa bahagia bersama sama.


William pun akhirnya tidak bernafsu untuk melanjutkan makan malamnya. Ia menaiki tangga, menghampiri Viera, karena sedari tadi pulang, istrinya itu sama sekali tidak turun meskipun tahu ada orang tuanya di sana.


Ceklekkk ....


William masuk dan melihat Viera yang sudah membersihkan diri, sedang duduk di sofa sambil memperhatikan kuku kukunya.


"Kenapa kamu tidak turun?" tanya William.


"Untuk apa?"


"Kamu seharusnya menyapa Daddy dan Mommy."


"Mereka tidak menyukaiku, untuk apa aku harus membuat mereka menyukaiku. Lagipula bukankah lebih baik seperti ini, aku aku mereka mereka."


"Mereka itu orang tuaku, sudah seharusnya kamu juga menghormati mereka."


"Aku bukan wanita munafik. Jika mereka tidak menyukaiku, maka aku juga tidak akan menyukai mereka. Setiap hal iti ada timbal baliknya."


"Lalu ... kamu pergi kemana seharian ini?" tanya William.


"Aku? tentu saja bersenang senang. Aku bosan di rumah."


"Bosan? Kita punya Vivian. Ia pasti membutuhkanmu sebagai Mommynya."


"Tugasku sudah selesai setelah melahirkannya. Susu? tinggal beli saja. Pengasuhan? kita sudah membayar babysitter. Kasih sayang? Dia kan masih punya kamu. Aku itu lelah, jangan menggangguku dengan hal hal yang tidak penting seperti ini," Viera melangkahkan kakinya ke tempat tidur, kemudian menyelimuti dirinya sendiri.


William hanya bisa terdiam melihatnya. Ia tak percaya semua kata kata itu keluar dari mulut wanita yang begitu ia cintai.


Apa aku sudah salah langkah? - William.

__ADS_1


*****


__ADS_2