
William yang baru saja akan merebahkan tubuhnya di atas kasur untuk beristirahat, menjadi meradang saat mendapatkan telepon dari security di rumahnya kalau Viera pergi.
"Ia bahkan tidak menghubungiku untuk sekedar meminta izin," ucap William geram.
Ia menekan layar ponselnya, "man, bantu aku. Ikuti pergerakan Viera, kemanapun dia pergi. Laporkan semuanya padaku," ia pun mematikan sambungan telepon dan merebahkan dirinya. Lelah, sangat lelah, ia pun akhirnya terlelap.
*****
Alan yang baru saja memasuki rumah, langsung bisa mencium aroma masakan yang menggoda indera penciumannya.
"Wow, apa kita akan mengadakan pesta?" tanya Alan karena melihat begitu banyak jenis makanan di atas meja, sementara Megan hanya tersenyum dan meraih tas serta jas milik suaminya.
Kimberly pun menghampiri Alan, "Papi nggak mau kasih ucapan selamat ke Kim?"
"Selamat? Memangnya kamu ulang tahun hari ini? rasanya tidak. Meskipun Papi sudah tua, tapi Papi tidak pikun."
"Ahhh Papi!!" Kimberly memeluk Alan dari samping.
"Wah, banyak makanan nih. Tahu aja kalau hari ini aku lapar berat, belum makan dari siang," ucap King yang baru saja pulang, dan mendudukkan dirinya di salah satu kursi makan.
"Kakkk!!! tunggu! Jangan di makan dulu donk."
"Tapi kakak lapar, Kim."
"Kalian itu tiap kali bertemu ada saja yang diributkan. Tapi kalau berjauhan, malah kangen kangenan. Kamu mandi dulu King. Kamu juga mandi dulu ya, sayang," ucap Megan kepada King dan Alan.
"Kita akan merayakan keberhasilan Kimberly mendapatkan pekerjaan pertamanya," lanjut Megan.
"Benarkah!!" teriak King melihat Kimberly yang menganggukkan kepala.
Mereka pun akhirnya membersihkan diri dan makan bersama. Kebahagiaan terasa begitu lengkap saat satu keluarga makan bersama di meja makan dengan bumbu cerita keseharian mereka.
Malam harinya,
Congrats, Kim. Kamu berhasil. Aku sudah yakin kamu pasti bisa melewati segala test yang diberikan.
__ADS_1
"Ini semua berkat doa orang orang untukku. Aku tak akan jadi apa apa tanpa kalian semua. Kalian selalu mendukungku, bahkan saat aku merasakan kesedihan yang mendalam," ucap Kimberly tiba tiba sendu.
Ada apa, Kim?
Kimberly awalnya ingin menyimpan semuanya sendiri tapi setiap kali melihat Anthony, ia ingin membagikan perasaan dan semua yang ada dalam pikirannya.
"Kak ... Aku bertemu dengannya lagi, dan ...."
Siapa, Kim?
"Seseorang yang ingin kulupakan dan kubuang dari hati ini hingga tak tersisa meski hanya bayangannya saja."
Anthony langsung tahu siapa yang dimaksud oleh Kimberly, ia menarik nafasnya pelan.
Apa kamu masih merasakan sesuatu padanya, Kim?
"Tidak, tidak. Aku tak merasakan apa apa. Bahkan aku tak ingin melihatnya. Aku ...."
Berhentilah menyakiti dirimu, Kim. Katakan padaku, apa yang sebenarnya kamu rasakan. Aku tahu tak semudah itu menghilangkan semuanya, apalagi kamu pernah meletakkannya di dalam ruang spesial di hatimu.
"Kak! Apa aku harus terus hidup seperti ini?"
"Baik, Kak!! Aku akan menunggumu."
Setelah sambungan telepon terputus, Kimberly merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia kembali mengingat masa masa dulu, saat ia dan William masih berteman layaknya saudara. Kemudian semua itu hancur, William mulai mengacuhkan dan membenci dirinya.
Tata hatimu dengan baik, Kim. Jangan terjatuh untuk kedua kalinya. Lagipula ia sudah beristri, tak sepantasnya kamu memikirkannya. - Kimberly.
*****
"Kamu baik baik saja, Han?"
"Aku baik, Kak."
"Tapi matamu tak mengatakan itu."
__ADS_1
"Aku ...," ucapan Hanna terhenti saat melihat seseorang masuk ke dalam kedai makan miliknya. Wajahnya langsung memucat dan peluh mulai mengalir membasahi keningnya.
"Kamu baik baik saja, Han?" tanya Ben sekali lagi, kemudian mengarahkan pandangannya pada arah pandang Hanna.
Apakah laki laki itu yang .... - Ben
Ben langsung membawa Hanna ke area belakang kedai makanan tersebut. Untung saja posisi duduk mereka tidak jauh dengan pintu ke arah dapur, sehingga memudahkannya untuk membawa Hanna keluar dari ruangan itu.
Ia pun meminta Kinan untuk memberitahukan dimana kamar Hanna. Ia harus menenangkan Hanna.
Di dalam sebuah kamar tidur berukuran 3 x 6 m dengan kamar mandi dalam, Ben bisa melihat sebuah tatanan kamar yang begitu sederhana namun sangat bersih dan rapi.
"Bersandarlah, Han. Tenanglah," Ben membantu Hanna untuk naik ke tempat tidurnya dan bersandar pada kepala tempat tidur. Ben meletakkan 2 buah bantal untuk menopang tubuh belakang Hanna.
"Tarik nafas dalam, keluarkan perlahan. Ulangi beberapa kali," pinta Ben.
Hanna memejamkan matanya, tubuhnya kembali bergetar dan buliran air keluar dari sudut matanya. Hanna melipat kedua kakinya lalu memeluknya, isakan kecil terdengar membuat tubuhnya naik turun. Ben mendekat dan memeluknya erat, mengelus punggung belakang Hanna agar sepupunya itu tenang.
"Tunggu sebentar ya, aku akan mengambilkanmu air," Ben langsung menuang air ke dalam gelas yang memang tersedia di dalam kamar, kemudian kembali mendekati Hanna.
"Minumlah," Hanna meminumnya perlahan, kemudian memberikannya lagi pada Ben.
"Terima kasih, Kak."
"Ikutlah pulang denganku. Aku akan menjagamu. Tidak baik jika kamu di sini seorang diri. Aku mengkhawatirkanmu."
"Aku tidak apa apa, Kak."
"Bagaimana tidak apa apa? Sudah lama kamu tidak pernah kambuh dan sekarang ... apa? Sekali ini saja, dengarkan kakak, Han. Apa kamu masih menganggapku kakakmu? atau kamu memang sudah nyaman merasa sendirian?"
"Maafkan aku, Kak. Bukan maksudku untuk meninggalkan Kak Ben dan tidak memberi kabar. Hanya saja, aku tidak ingin orang orang tahu keberadaanku. Aku ingin memulai hidup baru."
"Lalu? Apa dengan hidup baru dan sendirian, kamu bisa melupakan semua? Kamu bisa bertemu dengan laki laki itu lagi kan? Sekarang lebih baik kamu ikut dengan kakak. Kakak akan menjagamu, dan tak ada seorang pun yang akan menyakitimu lagi."
"T-tapi bagaimana dengan toko dan kedaiku?"
__ADS_1
"Kamu percayakan pada pegawaimu. Mereka juga orang orang yang baik kan? Kita akan tetap mengawasi pekerjaan mereka dari jauh. Tenanglah, aku akan membantumu. Yang terpenting sekarang, ikutlah denganku ... pulang," ucap Ben sambil menggenggam tangan Hanna.
*****