SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
TAK SADARKAN DIRI


__ADS_3

Sam sudah berkeliling kota, juga membayar orang untuk mencari keberadaan Hanna, tapi tetap nihil. Hanya 1 hal yang ia dapatkan, yakni kedai makan yang ia datangi 2 hari yang lalu, adalah milik Hanna.


"Oo Kak Hanna? Kak Hanna baru saja kemarin pergi dan kami belum tahu kapan ia akan kembali kemari," jawab Kinan.


Hal itulah yang menjadi jawaban saat ia bertanya pada salah satu pegawai di kedai makan tersebut, "Sialll!!! seharusnya aku sudah bertemu dengannya 2 hari yang lalu. Kemana lagi aku harus mencari?"


*****


Pagi ini, tubuh Kimberly terasa sangat lelah. Ia seperti tak ingin membuka matanya. Semalam ia baru kembali pukul 12 malam, setelah berkumpul dengan teman temannya. Awalnya ia berencana menginap, namun tingkah kakaknya yang selalu melarangnya dan menganggap dirinya masih seperti anak kecil, membuatnya harus pulang dengan cara dijemput secara paksa. Memalukan? Ya, sangat! Usia sudah 23 tahun menjelang 24 tapi masih diperlakukan seperti anak dibawah umur, begitulah pikir Kimberly.


"Kim, bangun sayang!" panggil Megan.


"Ini hari Minggu, Mi. Biarkan Kim tidur sebentar lagi," jawab Kimberly dari balik selimutnya.


Bagaimana sebentar lagi? Ini sudah jam 11 siang. - Megan menggelengkan kepalanya di balik pintu.


Megan akhirnya pergi ke dapur untuk mempersiapkan makan siang. Sementara King yang berada di sofa ruang depan sedang sibuk bermain dengan ponselnya. Tiba tiba sebuah notifikasi chat masuk ke dalam ponselnya.


'Tuan, sejak tadi malam, nona Hanna tidak keluar dari rumah yang ia tempati bersama dengan Dokter Ben.'


King merasa kesal karena mengetahui bahwa Hanna bermalam di rumah Dokter Ben. Pikirannya mulai menjalar dan menebak kemana mana mengenai apa yang terjadi.

__ADS_1


King meletakkan ponselnya, lalu mengambilnya lagi dan berjalan menuju kamarnya. Ia merasa kesal terhadap dirinya sendiri yang tidak pernah bisa melupakan Hanna, padahal wanita itu telah mengkhianatinya.


*****


Sudah seminggu ini Hanna bekerja di klinik milik Ben, sepupunya. Ia menjadi bagian keuangan yang menangani pembayaran dan pembuatan laporan. Berjumpa dengan banyak orang, terutama anak anak, membuat hari hari Hanna terasa lebih ceria. Dokter anak yang praktek di klinik tersebut adalah salah satu teman Ben di rumah sakit. Setelah praktek di rumah sakit selesai, maka ia akan menyempatkan waktu sekitar 2 sampai 3 jam untuk praktek di klinik Ben, atau sebaliknya, sebelum ke rumah sakit ia akan praktek dulu di sana.


"Kak, aku mau membeli bubur di ujung jalan sana. Kakak mau?" tanya Hanna pada Maria.


"Boleh, Han. Sekalian kamu beli untuk Ben dan Bu Mian ya."


"Siap, Kak," Hanna pun keluar sari klinik, menuju tukang bubur gerobak yang mangkal di ujung jalan. Karena cukup ramai, membuat Hanna harus mengantri. Ia memainkan ponselnya dan sesekali melihat apakah sudah gilirannya.


"Hanna?" gumam seseorang dari dalam mobil yang melintas, "Jadi kamu ada di sini, di kota ini lagi? kamu kembali," senyum langsung tercipta di wajah Sam. Sudah seminggu ia kembali dari salah satu kota di pulau Kalimantan itu, namun suasana hatinya kurang baik karena tidak mendapatkan apa yang dicarinya. Namun kini, langit seperti berpihak padanya, mempertemukannya kembali dengan sang pujaan hati.


"Tidak, tidak mungkin. King tidak boleh tahu jika Hanna berada di sana. Aku harus segera memiliki Hanna sebelum King. Ya, harus kulakukan!" ucap Sam sambil terus melihat ke arah klinik.


Karena ini hari Senin, maka klinik buka sampai malam. Dokter Freya yang praktik di rumah sakit, baru selesai jam 4, sehingga ia baru praktek di tempat Ben pada pukul 5. Hanna selalu standby di klinik untuk melakukan kewajibannya, dan hari ini ia akan bekerja sampai jam 7 malam.


"Han, kami pergi makan malam sebentar ya," ucap Ben karena sedari tadi Maria sudah memaksanya untuk segera menemaninya makan. Ia sedang hamil 3 bulan dan naf su makannya membesar. Ia tidak pusing atau mual, hanya selalu ingin makan.


"Baiklah, Kak. Cepat sana! Nanti ponakanku ngeces lagi gara gara kakak kelamaan," ucap Hanna sambil tertawa.

__ADS_1


"Apa kamu ingin makan sesuatu, Han? Nanti kakak belikan."


"Tidak perlu, Kak. Nanti aku akan membeli sesuatu saat pulang nanti."


"Kakak akan meminta Pak Nano menjemputmu," ucap Ben. Ia tak pernah membiarkan Hanna untuk pulang sendiri. Ini ibukota, keadaan tidak seramah kelihatannya, ia harus extra menjaga Hanna.


"Baik, Kak. Aku pulang naik taksi online juga tidak apa apa."


"Tidak! jangan kemana mana! Kakak akan pastikam Pak Nano yang menjemputmu."


"Baik, Kak. Siappp!!"


Hingga saat jam 7 tiba dan praktek Dokter Freya sudah selesai, Hanna segera membereskan barang barangnya dan berniat pulang. Pak Nano biasa sudah menunggunya di depan klinik. Hanna langsung mengunci pintu klinik, kemudian ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, tapi tidak menemukan Pak Nano sama sekali.


"Kemana Pak Nano? Coba aku telepon Kak Ben dulu," Hanna terus memcoba, tapi sama sekali tidak tersambung. Lalu ia menelepon Maria.


"Kak, apa Pak Nano sudah jalan dari rumah?" tanya Hanna saat mendengar Ben yang menjawab telepon tersebut.


Ya ampun Han, aku lupa. Maaf maaf, batere ponselku habis dan sedang diisi. Kamu jangan kemana mana ya, Pak Nano akan segera berangkat.


"Baik, Kak," sambil menunggu, Hanna menghampiri seirang penjual nasi goreng. Ia pun mendekat dan memesan. Setelah itu, ia duduk di tangga klinik sambil menunggu pesanannya selesai. Namun belum sempat ia mengambil pesanannya, tiba tiba saja ada yang membekapnya dati belakang dan akhirnya ia tak sadarkan diri.

__ADS_1


Maafkan aku, Han.


__ADS_2