SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
JANGAN LUPAKAN JASAKU


__ADS_3

Ingin sekali rasanya Kimberly mengikat Bu Melisa di kursi dan membuatnya mengatakan apa maksud perkataannya tadi. Sampai semua rekan rekan kerjanya kembali dari makan siang dan Kimberly masih terlihat berkutat dengan pekerjaannya, tapi di dalam kepalanya masih terus memikirkan perkataan Bu Melisa.


"Tha, kamu tahu nggak siapa nama CEO perusahaan ini? Setahu aku namanya Tuan Jeremy."


"Iya, bener kok itu Kim. Emang kenapa?"


"Kamu pernah ketemu?"


"Nggak lha, kecuali aku pantengin di depan pintu masuk, baru deh ketemu. Pengen sih lihat orangnya, tapi nanti aku malah kena SP dari Bu Melisa lagi gara gara magabut."


Kimberly memutar tubuhnya lagi menghadap meja, sambil memeriksa pekerjaannya. Kimberly tidak tahu bahwa Anantha benar benar penasaran maksud Kimberly bertanya seperti itu.


Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Sebentar lagi jam pulang kantor. Kimberly membawa pekerjaannya ke ruangan Pak Lukas.


"Ini Pak, saya sudah selesai."


"Letakkan saja di sana. Ini selanjutnya yang harus kamu kerjakan. Selesaikan hari ini juga," Lukas kembali memberikan pada Kimberly setumpuk berkas yang harus diperiksa dan dibuat laporan dari salah satu anak cabang perusahaan.


"T-tapi Pak, sekarang sudah jam 4. Tidak mungkin jika saya menyelesaikannya dalam waktu 1 jam."


"Saya tidak memintamu menyelesaikan dalam waktu 1 jam. Hari ini masih ada 8 jam, kamu bisa menyelesaikannya."


"Tapi itu sudah lewat jam kerja yang seharusnya, Pak. Apa boleh kalau saya bawa pulang berkas berkas ini?"


"Kerjakan di sini. Tidak ada satupun laporan ini yang boleh keluar. Atau jangan jangan kamu mau mencuri data keuangan perusahaan," tembak Lukas tanpa alasan.


"Pak, maaf sebelumnya, tapi apa sebenarnya masalah Pak Lukas dengan saya? Jujur saya tidak tahu mengapa rasanya beban pekerjaan saya jauh lebih banyak dibanding yang lain. Bahkan rekan rekan yang lain terlihat lebih santai dalam bekerja."


"Ooo, jadi kamu mulai menghitung jumlah pekerjaan? Memang benar apa yang dikatakan Melisa bahwa kemampuan kamu tak seberapa, masuk kemari karena koneksi dari pimpinan."


Kimberly menarik nafasnya dalam, ia mencoba menahan agar amarahnya tak keluar lagi. Ia membawa berkas yang diberikan oleh Lukas dan berjalan keluar.


Apa aku harus menemui Tuan Jeremy untuk memperjelas semuanya? Tapi tidak mungkin aku kucluk kucluk datang, mengetuk pintunya, dan mengatakan padanya bahwa ia sama sekali tidak mengenal laki laki itu. - Kimberly.

__ADS_1


Kimberly benar benar kelelahan, ia baru sampai di rumah pada pukul 10 malam. Hari ini sangat menguras energinya. Bahkan ia harus membatalkan janji makan malam dengan Anthony. Setelah Anthony mengajaknya makan siang di hari pertama bekerja, Kimberly sudah berjanji akan mengajaknya makan siang saat ia mendapatkan gaji pertamanya.


Makan siang gagal, ia menggantinya jadi makan malam, namun gagal juga. Kimberly juga berjanji akan menemui King lagi di rumah sakit, tapi gagal juga.


"Ahhh! Ada apa sih dengan hari ini? " Kimberly akhirnya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, ia langsung membaringkan dirinya di atas tempat tidur. Melihat sekilas ke arah rak bukunya yang berisi novel novel cerita romantis, tersenyum, dan akhirnya terlelap.


*****


Keesokan paginya,


"Sayang, apa Kimberly belum bangun? ini sudah jam 7," ujar Alan di meja makan.


"Aku juga belum melihatnya. Semalam ia baru pulang jam 10. Coba aku cek dulu," Megan pun meninggalkan meja makan dan mengetuk pintu kamar Kimberly.


"Kim! sayang, kamu sudah bangun?" Karena tak terdengar suara dari dalam, Megan berinisiatif untuk masuk. Betapa kagetnya Megan karena kamar Kimberly masih dalam keadaan gelap karena tirai masih tertutup.


"Kim, bangun! Apa hari ini kamu tidak bekerja?" tanya Megan sambil membuka tirai.


"Memang sekarang jam berapa Mi? Kim masih mengantuk."


Kimberly kaget dan langsung bangun dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi. Hanya memerlukan waktu 15 menit, ia telah siap dengan kemeja biru muda dan rok sepan berwarna biru dongker.


"Aku berangkat dulu, Pi, Mi," Kimberly mencium pipi kedua orang tuanya.


"Kamu nggak sarapan dulu, Kim?"


"Nanti saja di kantor, Mi."


Kimberly langsung menyalakan mobilnya dan melajukan dengan kecepatan tinggi. Ia tidak mau terlambat datang ke kantor dan itu dijadikan alasan oleh Bu Melisa untuk bicara hal hal yang tidak benar tentangnya.


Kimberly langsung duduk di tempat ia bekerja, melihat jam di tangannya, delapan kurang 2 menit. Ia mengelus dadanya sambil menghela nafas, "aman ... aman."


"Tumben Kim, mepet," ucap Anantha.

__ADS_1


"Bangun kesiangan," bisik Kimberly.


"Ya ampun, emang semaleman ngapain? pacaran ya? Kenalin donk, cowo yang waktu itu ngajak kamu makan siang bukan?"


"Kaga. Semalem aku baru pulang jam 10, cape banget."


"Jam 10? ngapain aja? Jangan bilang dikasih kerjaan lagi sama Pak Lukas," Kimberly pun menganggukkan kepalanya.


"Gila ya! Dendam apa sih mereka sama kamu. Kamu nggak pengen cari tahu, Kim?"


"Biarin dulu aja lha, tha. Aku masih bisa ngatasin. Aku nggak mau ntar malah jadi masalah dan berpengaruh sama kerjaan aku."


Baru saja Kimberly mau menyalakan komputer yang ada di atas meja kerjanya, Lukas keluar dari ruangannya.


"Ada yang bisa mengantar ini ke klien kita?" Kimberly melihat ke arah rekan kerjanya, mereka semua menunduk dan menganggap tak mendengar apapun. Ia pun diam juga, tak ingin menyodorkan dirinya, karena ia masih merasa lelah.


"Kimberly!"


"Iya, Pak?"


"Kamu antar ini ke Tuan Jeremy di cafe XX. Ia akan melakukan meeting jam 9 dan memerlukan berkas ini."


Kimberly menghela nafas, ia terpaksa bangkit dari duduknya dan menghampiri Lukas.


"Anggap saja kamu sekalian bertemu dengan kekasih. Lumayan kan aku membantumu. Kalau nanti sudah menjadi istri CEO, jangan lupakan jasa jasaku," bisik Lukas, membuat Kimberly menghela nafasnya sedikit kasar.


Tanpa banyak bicara, Kimberly langsung berangkat menuju Cafe XX. Ia menyalakan GPS di mobilnya. Ia tak ingin terlambat dan membuat meeting menjadi gagal. Cafe XX ternyata berada tak jauh dari Rumah sakit Internasional. Ia berencana untuk menemui kakaknya jika ia punya waktu.


"Permisi, saya ingin bertemu dengan Tuan Jeremy," ucap Kimberly pada salah seorang pelayan.


"Ooo, Tuan Jeremy ada di ruang VIP."


Kimberly berjalan menuju ruang VIP yang sudah ditunjukkan oleh pelayan tadi. Saat ia sampai, seorang pelayan keluar dari ruangan tersebut dan membuat pintu dibiarkan terbuka karena pelayan tersebut menyangka Kimberly akan masuk. 5 menit Kimberly berdiri di depan pintu, mengepalkan tangannya.

__ADS_1


*****


__ADS_2