
Luna menjalani hari harinya sebagai istri seorang William Smith. Setelah hari pernikahannya, Luna tinggal di kediaman Smith. Ia yang notabene bukan seorang dari kalangan berada, begitu takjub dengan apa yang ia lihat. Tempat tidur yang empuk, ruangan yang tertata rapi, dan juga pelayan yang begitu banyak untuk mengurus rumah.
Ia duduk di atas sebuah sofa, tapi karena tak ingin mengotorinya, ia hanya duduk di ujung sofanya saja. Saat bangun pun, ia akan mengibaskan tangannya ke arah sofa untuk membersihkannya. Kehidupan seperti ini sangat jauh dari bayangannya selama ini.
Menjadi pelayan di sebuah bar adalah pekerjaannya pada malam hari. Kamar kontrakan yang kecil dan kasur tipis sudah menjadi makanannya sehari hari. Luna sebenarnya adalah keluarga berada di Kota Surabaya, namun kecelakaan yang merenggut nyawa Ayahnya dan membuat Bundanya lumpuh, menjadikan hidupnya berubah 180 derajat.
Harta milik orang tuanya diambil secara paksa oleh saudara ayahnya, yang membuat dirinya akhirnya pergi meninggalkan Surabaya bersama Bundanya. Namun malang tak dapat diukur, Bundanya menyusul kepergian Ayahnya 2 tahun setelah kecelakaan itu.
Setiap hari ia akan menyiapkan kebutuhan William, berusaha menjadi seorang istri yang baik. Michael dan Elena juga bersikap baik padanya, mungkin karena ada calon bayi keturunan Smith di dalam tubuhnya. Luna tak menuntut lebih, asalkan anak yang ia lahirkan memiliki keluarga dan diakui oleh William, itu sudah cukup baginya.
"Silakan," Luna mengambilkan makanan untuk William, kemudian ia kembali ke dapur. Ia terbiasa untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya itu, meskipun para pelayan sudah menghalanginya.
"Duduklah, Lun," ucap William.
__ADS_1
"Tidak, saya di sini saja."
"Kemarilah. Kamu itu istriku, bukan pelayanku!" William mulai meninggikan suaranya, membuat Luna akhirnya menuruti permintaan William.
Saat ini, ia hanya berdua di dalan ruang makan, karena Michael dan Elena sudah kembali ke Jepang untuk kembali mengurus perusahaan di sana. Sementara para pelayan berada di ruang belakang.
Luna duduk di sebelah William, namun ia hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tahu dan sadar diri posisinya saat ini, ia tak akan menuntut apapun.
"Luna Adyaksa, mau sampai kapan kamu terus melihat ke bawah, menundukkan kepalamu?"
"Aku tahu apa yang kamu rasakan saat ini, maafkan aku. Seharusnya aku minta maaf sejak dulu, tapi aku begitu sombong dan menganggapmu memang pantas mendapatkan itu. Kamu tahu kan saat itu aku dipengaruhi obat?" Luna menganggukkan kepalanya.
"Aku juga tidak membenarkan perlakuanku padamu saat itu. Aku benar benar minta maaf. Aku memang bukan laki laki sempurna dan saat ini aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu. Tapi, biarkan aku belajar untuk itu. Aku berjanji akan selalu ada untukmu dan anak kita."
__ADS_1
"Nanti malam, aku akan mengajakmu makan malam berdua. Yaa, hanya kita berdua. Biarlah ini menjadi penanda bahwa aku tak akan main main dengan hubungan pernikahan ini. Aku pernah kecewa, pernah merasakan sakit hati, dan aku tak ingin menghancurkan pernikahanku untuk yang kedua kalinya."
"A-aku ..."
"Kamu bisa meminta apa saja dariku, karena aku adalah suamimu, dan kamu adalah ibu dari anakku. Kita jalani ini bersama. Pernikahan adalah bagaimana kita mempertahankan. Meskipun saat ini tak ada rasa cinta di antara kita, tapi ada seorang malaikat di dalam sini yang akan menjadi pengikat hubungan kita," William menyentuh perut Luna, membuat hati Luna menghangat karena melihat ketulusan William dalam setiap kata katanya.
"Terima kasih," ucap Luna.
"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, karena masih mau menerima laki laki sepertiku ini menjadi suamimu. Jalan di depan kita masih panjang, dan aku butuh seseorang untuk saling berpegangan, agar bisa melewatinya," Luna tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
William berdiri dari duduknya, kemudian mendekat ke arah Luna, "Bolehkah aku memelukmu?"
Luna berdiri dan mendekat pada William. Ia bisa mencium harum maskulin milik suaminya dari jarak yang begitu dekat. Ia masih ingat harum ini saat malam naas itu, malam yang membuatnya menangis sendirian setiap harinya. Tanpa sadar, Luna kembali menitikkan air mata.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi, maafkan aku," William menghapus air mata Luna dengan jarinya, kemudian mencium kening Luna dalam.
Aku selalu memperhatikanmu dalam diam. Aku tahu hatimu pasti terasa sakit saat berdekatan dengan seorang pria yang sudah memperkosamu. Tapi, aku akan berusaha menjadi suami dan orang tua yang baik untuk anak kita nanti. Percayalah, aku akan berubah. - William.