
"Han ..."
Hanna memutar tubuhnya, mengikuti arah suara itu.
"An! Sel! Ahhhh kalian kemari? Ya ampun, kalian sudah besar!"
"Hei! Apa maksudmu sudah besar? Kamu kira aku ini masih anak anak?" gerutu Hansel dengan bibir yang dikerucutkan.
Hanna tersenyum, ya ... sejak kejadian itu hanya Anthony dan Hansel lah laki laki yang menemaninya dan tidak membuatnya takut.
"Ayo masuk," ajak Hanna ke dalan kedai makan miliknya itu.
"Wow, Han. Ternyata kamu sudah sukses ya."
"Sukses matamu!" ucap Hanna tergelak.
"Kamu bisa membangun kedai makanmu sendiri dan sebagus ini, itu suatu kesuksesan, Han," puji Anthony sambil melihat ke sekeliling.
"Kalian mau minum apa?"
"Apa aja Han, asal mahal," ucap Hansel.
"Baiklah, tunggu sebentar," Hanna pergi ke belakang untuk meminta Kinan menyiapkan minuman juga snack. Setelah itu ia kembali duduk di hadapan Anthony dan Hansel.
"Kamu tidak apa apa, Han?" tanya Anthony tiba tiba.
"Apa maksudmu, An? Seperti yang kalian lihat aku baik baik saja."
"Jangan membohongi kami lagi. Apa tidak cukup kamu menutupi trauma dan depresimu itu selama ini? Kami ini temanmu, Han. Kecuali kamu tidak menganggap kami seperti itu," Anthony menatap Hanna dengan tatapan penuh arti.
"Maaf, bukan maksudku. Aku hanya tidak ingin merepotkan kalian."
"Ya ampun, Han. Kita ini teman, kamu justru harus merepotkan kami. Disitulah nilai persahabatan akan terlihat dan berarti. Lalu ... apa Sam menyakitimu lagi?" tanya Hansel.
"Maksud kalian?"
__ADS_1
"Kami tahu bahwa Sam kembali dan menemukanmu, apa kamu baik bail saja?" tanya Anthony.
"A-aku baik. Aku tidak apa apa," Anthony dan hansel bisa melihat raut kesedihan dan kegelisahan yang muncul di wajah Hanna.
"Tenanglah, Han. Kamu akan aman, kami telah meminta beberapa orang mengawasimu setiap hari dari jarak jauh, agar kamu tetap nyaman," ucap Hansel.
"Tidak perlu seperti itu. Aku tidak sendiri di sini, masih ada pegawai pegawaiku."
"Tapi bagaimana kalau kamu pergi sendiri seperti kemarin?"
"Ka-kalian tahu?"
"Tentu saja kami tahu. Hanya saja kami tidak bertindak langsung karena akan menimbulkan bentrok."
"Terima kasih," Hanna sedikit menundukkan wajahnya.
"Tapi ... dari mana kalian mengetahui keberadaanku?" tanya Hanna lagi.
"Hal itu sudah tak penting, yang penting sekarang kami akan selalu bersamamu dan menjagamu."
"Kita akan bahagia bersama sama Han. Siapapun pasangan kita nanti, mereka harus menerima persahabatan kita ini," ucap Hansel yang diikuti anggukan Anthony, sementara Hanna hanya tersenyum tipis.
"Katakan pada kami jika ia menyakitimu lagi. Jika ia datang hanya untuk memaki dan menyakiti hatimu, kami yang akan membuat perhitungan dengannya. Meskipun dulu kita adalah sahabat, tapi jika ia melakukan sesuatu yang tidak baik padamu, kami tak akan pernah memikirkan itu. Sudah cukup ia dulu menyakitimu dan meninggalkanmu, mengerti Han," ucap Hansel.
"Tumben bijak," sindir Anthony dan mereka pun tertawa.
Hingga siang mereka berbincang, "Kami pulang dulu, Han. Jangan lupa untuk selalu menghubungi kami jika kamu membutuhkan sesuatu," pesan Anthony.
"Iya, iya, aku mengerti. Sudah berapa kali kalian mengatakan hal itu."
"Dan jangan pernah pergi lagi, karena kami akan menemukanmu," ucap Hansel.
"Iya, bawel!" celetuk Hanna.
"Nggak apa apa lah bawel, asalkan ganteng," Hansel pun tergelak sendiri, sementara Anthony dan Hanna hanya melihat dengan kening yang berkerut.
__ADS_1
*****
"Wah, kamu cantik sekali," ucap Harry melihat Viera di depan cermin di sebuah butik terkenal.
Viera tersenyum melihat tampilan dirinya. Ia tahu bahwa dirinya cantik, dan ia harus menggunakan kecantikannya itu untuk membuat dirinya selalu berlimpag harta. Ia tak mau hidup dalam kemiskinan seperti dulu.
"Benarkah?"
"Ya, aku tak berbohong. Kamu luar biasa," Harry berbicara dengan berbisik dan sedikit mende sah di telinga Viera.
"Terima kasih," Viera bersikap sedikit manja.
"Aku ambil semua yang ia pilih," ucap Harry meminta pelayan toko segera menghitung semua belanjaan Viera. Viera yang mendengarnya sangat senang. Ia bisa mendapatkan barang barang yang mahal, tanpa harus mengeluarkan uang. Bahkan besok ia akan mendapatkan transferan uang ke rekeningnya.
"Terima kasih," diucapkan sekali lagi oleh Viera.
"Apa malam ini kamu mau menemaniku?" tanya Harry.
"Tentu saja," Viera tersenyun tipis. Di dalam hatinya ia kini hanya memikirkan uang dan uang, bagaimanapun caranya, ia harus mempertahankan derajatnya.
Harry mengajaknya ke dalam mobil dan pergi menuju ke hotel tempat ia menginap. Di dalam kamar, ia segera membersihkan diri, begitu juga dengan Viera.
Dengan hanya menggunakan handuk, Viera keluar dari kamar mandi, memperlihatkan kulitnya yang masih mulus terjaga karena perawatan yang ia lakukan. Harry yang melihatnya langsung menelan salivanya dan 'turn on'.
"Kamu menggodaku, sayang?" ucap Harry.
"Tidak. Bukankah tanpa kugoda, kamu sudah tergoda?" Viera mulai bersikap genit dan manja, serta mulai menaikkan handuk di bagian pahanya yang hanya melilit tubuhnya.
"Kemarilah!!" Harry langsung menarik lengan Viera, dan ...
...
...
lanjutannya nanti siang ya ....
__ADS_1