SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
BERITA BAGUS


__ADS_3

Viera mengambil surat tersebut, kemudian membacanya, "CERAI?!"


"Hmm, kamu tidak suka kan menjadi menantu keluarga Smith," ucap William tanpa melihat ke arah Viera. Sejak mengetahui bahwa Vivian bukanlah putri kandungnya, seketika hatinya menjadi tawar terhadap Viera. Namun, rasa kasihnya tetap ada untuk Vivian.


"Kamu kira akan mudah menceraikanku, kamu tahu kan kalau aku ...."


"Uang, ya ... kamu hanya perlu uang."


"Itu kamu tahu. Kekayaan keluarga Smith pasti luar biasa. Tidak masalah aku bercerai denganmu. Setiap bulan juga kamu tetap harus memberikan uang padaku untuk mengurus Vivian."


William seketika tertawa mendengar ucapan Viera, "Mengurus Vivian? jangan membuatku tertawa karena leluconmu. Yang harus kamu tahu, harta keluarga Smith yang bisa kamu bawa hanya setengah dari milikku, dan itu hanya uang yang ada di rekeningku. Tak ada satupun aset Smith yang dibuat atas namaku, jadi itu bukan hak mu."


"Sialannn!!! maksudmu sejak dulu aku berpacaran dan menikah dengan seorang Smith yang tak punya harta apa apa?"


"Tepat sekali!" Kini William semakin tertawa melihat wajah Viera yang menahan amarah.


"Tapi kamu tetap harus memberiku uang bulanan karena kita punya Vivian."


"Ayo terus! cari cara untuk menghasilkan uang. Aku tak akan pernah memberimu uang atas nama Vivian ... Hmmm, atau kamu ingin aku mengatakan padamu untuk mencari ayah kandung Vivian untuk memberikanmu uang?"


Degghh!!!


"K-kamuuu!!!"


"Cepat tanda tangan!!"


"Aku tidak mau!"


"Oooo ... jadi kamu lebih memilih untuk melihat foto foto ini beredar di media besok?" William melemparkan berlembar lembar foto dalam ukuran besar ke arah Viera.


Sialannn!!! jadi dia mengancamku, dia mengetahui semuanya dan memiliki bukti yang sangat jelas. Aku akan kehilangan sebagian penghasilanku. Tapi biarlah, aku masih punya Harry untuk memenuhi segala kebutuhanku, bahkan aku akan terbebas dari anak sialan yang tidak ada gunanya itu. - Viera.


Viera mengambil bolpoin yang ada di atas meja dan tanpa membaca lagi, ia pun menandatangani surat perceraian itu.


"Sekarang kamu tidak punya hak lagi berada di sini. Kemasi barang barangmu dan tinggalkan rumah ini."


"Jangan katakan ini juga bukan rumah milikmu?" tanya Viera.

__ADS_1


"Memang bukan, aku hanya menumpang di sini selama Mommy dan Daddy berada di Jepang."


"Sialannn!!! laki laki sialannn!!! Lihat saja nanti, kamu pasti akan menyesal!"


"Ya, aku memang menyesal. Menyesal kenapa dulu aku bisa terjerat oleh wanita murahan sepertimu. Menyesal karena aku terlalu percaya pada semua kebohonganmu. Menyesal kenapa aku mau menghentikan perjodohanku hanya demi dirimu. Cihh!!!"


"Sana!! Kejar wanita sialan itu! Aku akan pastikan kamu tidak akan pernah bersamanya."


"Kita lihat saja," ucap William dengan percaya diri.


Viera langsung memutar tubuhnya dan masuk ke dalam kamar untuk membereskan barang barang miliknya. Ia mengambil perhiasan yang selalu ia minta dari William dulu.


*****


Kimberly bekerja seperti biasanya. Ia tak lagi mempedulikan perkataan dari Bu Melisa yang suka tiba tiba nyeletuk tentang hal koneksi. Rekan rekan kerjanya pun akhirnya mulai meresapi semua perkataan Bu Melisa, membuat Kimberly semakin merasa tidak nyaman.


Saat jam makan siang,


"Kim, keluar yuk!" ajak Anantha.


"Yuk, Marisa sekalian aja."


Kimberly meraih tas kecil yang berisi dompet dan ponsel, kemudian mengikuti langkah Anantha.


"Tunggu tha," Kimberly berusaha mengimbangi langkah Anantha yang setengah berlari, ntah dia memang pejalan cepat atau karena kelaparan.


"Ayo, Kim! Aku lapar sekali, cacing cacing di perutku sudah demo."


Brughhh ...


"Aduhh, maaf ... maaf," ucap Kimberly.


"Kamu tidak apa apa, Kim?" Kimberly langsung mengenali suara laki laki yang ada di hadapannya.


"Lepaskan, aku tidak apa apa."


"Apa kamu akan makan siang?" tanya William, tapi Kimberly tak menjawab.

__ADS_1


"Permisi," ucap Kimberly.


"Mommy dan Daddy akan datang minggu depan, maukah kamu bertemu dengan mereka? Mereka akan senang bertemu denganmu, Kim."


"Lihat saja nanti," ucap Kimberly sambil pergi menyusul Anantha yang sudah berdiri bersama Marisa di depan pintu lobby.


*****


Brughhh !!!


"Hei, ada apa dengan wajahmu? dan mengapa kamu membawa koper? Apa kamu kabur dari rumah, Vi?" tanya Siska.


"Kemarin saat akan pergi bersama Harry, aku memang kabur. Tapi sekarang aku diusir."


"Hah? diusir?! Apa aku tidak salah dengar, Vi?" Siska langsung menghentikan aktivitasnya dan fokus menatap Viera.


"William menceraikanku."


"Whattt??!!"


Woww, sungguh berita bagus. Kamu memang pantas mendapatkannya, Vi. Aku sangat mendukung apa yang dilakukan William. Kini jalanku mendekati William akan sangat terbuka. - Siska.


"Tapi ... mantan menantu keluarga Smith tak akan hidup susah. Bagaimanapun, kamu akan tetap kaya, meskipun tak bekerja," ucap Siska.


"Cihh!! Jangan pernah kamu berpikir seperti itu. William itu adalah Smith miskin. Bahkan ia tak punya aset apa apa. Tak ada yang bisa dia berikan padaku, kecuali uang yang ada di dalam rekeningnya. Menyedihkan!"


"Yang benar, Vi?"


"Apa aku pernah berbohong? Tapi setidaknya sekarang aku punya Harry. Bahkan ia akan mentransferku hari ini karena telah menemaninya selama jalan jalan ke Eropa kemarin."


"Wahhh, kamu sangat beruntung bertemu Harry, Vi."


"Ya, dan aku tidak keberatan berpisah dengan laki laki miskin. Oya Sis, aku boleh menginap di sini ya sementara."


"Sorry Vi, tapi Mama dan Papaku hari ini datang dari Surabaya. Kamar tamu akan dipakai oleh mereka. Lagipula, aku tak ingin mereka bertanya macam macam padamu, kamu tahu kan orang tuaku itu masih kolot."


"Baiklah, tidak apa. Aku akan menginap di hotel saja. Nanti aku akan minta Harry membelikanku apartemen," ucap Viera sambil tersenyum.

__ADS_1


Viera menceritakan semuanya pada Siska. Bagaimana senang dan bahagia dirinya pergi liburan bersama Harry, hingga akhirnya sore hari Siska mengantarkan Viera menuju salah satu hotel bintang 5 yang ditunjuk oleh Viera.


__ADS_2