SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
SEMUA AKAN BERBEDA


__ADS_3

William duduk termenung di dalam ruangan kantornya. Setelah tadi ia pergi makan siang bersama Arman, ia kini menerawang jauh.


Kamu terlihat begitu cantik dan dewasa Kim. Maafkan aku dulu yang menyakiti hatimu, maukah kamu memaafkanku?


Konsentrasi William buyar, ia sama sekali tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya. Ia hanya memandangi berkas berkas di atas mejanya tanpa sekalipun menyentuhnya.


Tokkk ... tokkk ... tokkk ....


"Masuk," Arman memasuki ruangan sambil membawa sebuah amplop berwarna coklat.


"Ini semua yang kamu minta, Wil," ucap Arman sambil menyerahkan amplop tersebut. William memang meminta Arman memanggil dirinya dengan namanya saja, karena usia Arman yang lebih tua 2 tahun darinya. Ia sungguh berterima kasih pada Daddynya karena meminta Arman untuk menjadi asisten pribadinya. Ia sungguh sangat terbantu, Arman benar benar ahli dalam pekerjaannya.


"Terima kasih," ucap William.


"Sama sama. Segeralah pulang setelah menyelesaikan pekerjaanmu, sepertinya wajahmu terlihat sedikit pucat."


"Aku tidak apa apa."


"Baiklah. Aku kembali ke ruanganku."


William segera membuka amplop coklat yang diberikan Arman, matanya membulat melihat semua yang terpampang di sana.


"Benar benar wanita sialannn!!! Kamu berbuat seperti ini di belakangku, setelah apa yang telah aku lakukan untukmu. Bersiaplah untuk mendapatkan hadiah spesial dariku," William menggenggam salah satu foto dengan kasar dan meremasnya.


*****


Kimberly berdiri di depan sebuah cermin panjang. Ia memperhatikan penampilannya dari atas ke bawah. Hari ini ia mendapat panggilan di sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan.


Setelah melihat bahwa tampilannya sudah sempurna, ia turun ke bawah untuk makan siang bersama dengan Maminya, Megan.

__ADS_1


"Cantik sekali, sayang," puji Megan.


"Aku harus berpenampilan rapi, supaya ada nilai plus."


"Benar, tapi yang terpenting adalah kamu bisa menunjukkan kemampuanmu."


"Tentu saja, Mi. Kim akan melakukan yang terbaik."


"Baiklah, ayo kita makan. Kamu harus segera berangkat atau nanti terlambat."


Mereka pun menyantap makan siang sambil berbincang hingga selesai, dan kini ... Kimberly tengah berdiri di depan sebuah gedung yang cukup besar. Ia memantapkan hati untuk masuk ke dalam dengan semangat dan keyakinan penuh.


Ia duduk di sebuah ruangan besar dengan banyak kursi dan banyak orang yang ia yakini pasti memiliki tujuan yang sama dengannya. Perusahaan Megatech adalah perusahaan yang bergerak di bidang jasa keuangan. Mereka membantu dan menjadi penasehat keuangan bagi perusahaan yang membutuhkan jasa mereka. Hari ini sedang dilakukan rekrut besar besaran karena mereka sedang membuka cabang di beberapa kota besar di Indonesia.


Semangat Kimmy, semangat!! - Kimberly terus menyemangati dirinya sendiri karena melihat begitu banyaknya pelamar, membuat hatinya sukses menjadi lemas. Ada perasaan grogi serta gelisah, apalagi ketika mereka dibagikan selembar kertas, seperti ujian masuk sekolah. Mereka juga diharuskan mengisi data diri secara lengkap.


"Yang sudah selesai, bisa mengumpulkannya ke meja depan. Setelah itu dipersilakan untuk menunggu di depan. Sesi selanjutnya adalah interview bagi yang lolos test tertulis. Terima kasih," salah seorang pengawas memberikan pemberitahuan di hadapan ratusan pelamar.


"Kim ...," sapa seseorang.


Kimberly mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang memanggilnya. Ia kaget melihat siapa yang ada di hadapannya, tapi ia berusaha menetralkan hatinya.


"Ya, bisa saya bantu?" Kimberly menepati janjinya pada dirinya sendiri bahwa ia akan menganggap laki laki di hadapannya ini tak pernah hadir dalam hidupnya.


"Kim, apa kamu lupa padaku?"


"Maaf, saya tidak mengenal anda. Permisi, saya harus ke toilet sebentar," Kimberly pun berlalu meninggalkan laki laki itu.


Apa kamu benar sudah melupakanku, Kim? Aku hanya ingin minta maaf atas semua yang telah kulakukan dan ... bisakah kita kembali menjalin persahabatan?

__ADS_1


Sementara di dalan toilet, Kimberly masuk ke dalam salah satu bilik, kemudian terdiam. Ia memegang dadanya karena jantungnya yang berdetak cepat karena ia tak menyangka akan bertemu kembali dengan William.


Apa yang ia lakukan di sini? Tak mungkin ia juga melamar pekerjaan. Ah sudah, lupakan Kim! kamu harus melanjutkan hidup, tanpa ada bayang bayang dirinya.


Setelah menarik nafas dalam, Kimberly keluar dari salah satu bilik toilet. Ia mencuci wajahnya, kemudian kembali memberikan sapuan make up tipis.


*****


"Will ... Bro!"


"Hai," balas William kurang bersemangat.


"Ada apa? Sudah lama lo nggak ngunjungin gue, sekarang ketemu wajah langsung ditekuk gitu."


"Nggak apa apa. Gue cuma lelah saja."


"Kalau lo lelah, buruan pulang. Ketika bertemu dengan istri dan anak, maka semua kelelahan itu akan hilang."


"Walah, sok bijak sekarang ya. Emangnya udah punya istri bisa ngomong gitu?"


"Ya belom sih, tapi doain lha biar cepet. Cape juga begini begini terus, pengen ada yang pijitin gitu kalau malem," ucap Jeremy tertawa.


"Dasar! Bukannya udah sering nyari pijitan di luar tiap malem?"


"Gue sekarang pengen yang halal aja, Mas Bro. Apalagi nyokap udah mulai kasih ultimatum. Bisa bisa gue ikut kena zaman Siti Nurbaya nanti kaya lo! Untungnya lo bisa lepas!" ucap Jeremy lagi.


Kalau dulu gue terima perjodohan itu, apa semua akan berbeda?


*****

__ADS_1


lunas ya 2 bab 😁 Cherry mau rebahan dulu, terima kasih sudah menyempatkan membaca. Kalau misalnya tidak suka dengan ceritanya atau nggak suka cerita tentang Hanna dan King, atau yang lainnya juga, bisa di skip aja ya. Cherry ga marah kok 😊


__ADS_2