SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
KETIKA AKU MEMBENCI


__ADS_3

Bulan demi bulan terlewati, kini Kimberly sudah melewati semua dan berhasil menyelesaikan ujian tesisnya. Hatinya senang luar biasa, apalagi dengan kedatangan orang tua dan kakaknya pada acara tersebut.


Meskipun tak ada teman terdekatnya, Kimberly sudah bahagia bersama keluarganya. Senyum terus terukir di wajahnya.


"Kamu akan kembali ke Indonesia kan Kim?" tanya King.


"Tentu saja, Kak. Aku akan mencari pekerjaan di sana. Aku juga ingin selalu dekat dengan Mami dan Papi."


"Dengan kakak tidak?"


"Ishhh iri," ucap Kimberly dan membuat mereka semua tergelak.


Anthony dan Hansel juga berada di sana, kemudian mengajak Kimberly berfoto bersama, meskipun mendapat tatapan tajam dari King.


"Kita akan makan bersama dengan Kristy dan Lady saat kamu kembali ke Indonesia," ucap Anthony, menerbitkan sebuah senyuman lagi di wajah Kimberly.


"Congratulation ya Kimchi, mudah mudahan segera mendapatkan pekerjaan. Eh eh, gimana kalau kerja bareng kita aja?" tanya Hansel pada Kimberly, membuat King pun menjadi turut campur, "Ayo, Kim! Kita makan siang."


Kimberly pun melambaikan tangan pada Anthony dan Hansel yang harus segera kembali ke Indonesia karena banyak pekerjaan yang menanti mereka. Sementara itu Kimberly sekeluarga menikmati waktu mereka di Chicago sekalian liburan.


"Bekerjalah dengan Kakak, Kim," pinta King.


"Ahh, tidak mau. Nanti orang orang akan mengira aku memanfaatkan hubungan kakak denganku dan jadi memandang remeh kemampuanku. Lebih baik aku mencari pekerjaan sendiri. Aku akan membuktikan kalau aku mampu! Semangattt!!" teriak Kimberly.


"Papi juga setuju. Kamu pasti bisa, Kim. Kamu sudah melewati banyak hal, Papi yakin Kamu sudah lebih kuat dan lebih dewasa," Alan menepuk bahu Kimberly dan Megan juga tersenyum.


Iya Pi, Kim pasti bisa. Sakit hati sudah terlewati dan kurasa tak ada yang lebih menyakitkan dari pada itu.


*****


"Ahhhh Kimmmm!!!" Lady terlonjak kegirangan saat mereka bertemu.


"Sepertinya kamu makin cantik saja, Kim," puji Kristy.


"Iya benar. Apa aku harus kesana juga ya biar makin cantik?"

__ADS_1


"Kamu mah nggak perlu, bukannya bentar lagi bakal nikah sama mister Dodo?" goda Kristy.


"Ahhh yang bener? kapan?" tanya Kimberly antusias.


Plakkk!!!


"Ngomong sembarangan aja!" gerutu Lady sambil memukul bahu Kristy.


"Ayo ayo ceritakan padaku. Sepertinya aku banyak ketinggalan berita," Kimberly mengerucutkan bibirnya.


"Apa kalian melupakan kami?" Hansel mulai menggerutu karena sedari tadi ia dan Anthony didiamkan oleh mereka yang heboh.


"Memangnya kamu perlu diingat?" Kristy mencebikkan bibirnya kesal.


"Sudah, sudah. Ayo kita pesan makanan dulu," ucap Anthony menengahi mereka.


Mereka kini berada di dalam suatu ruangan VIP sebuah cafe. Mereka sengaja memesan ruangan khusus karena mereka akan banyak bercanda dan mengobrol. Mereka tak ingin mengganggu pengunjung cafe lainnya.


"Kamu sudah mencari pekerjaan, Kim?" tanya Kristy.


"Kenapa kamu tidak bekerja di perusahaan Kak Anthony?" tanya Lady.


"Tidak, tidak! Aku sudah putuskan tak akan bekerja bersama dengan keluargaku ataupun sahabatku. Aku tak mau mereka menganggap aku melakukan nepotisme. Aku harus membangun jati diriku dengan kemampuanku."


"Aku suka Kim dengan pandanganmu," ucap Anthony.


"Terima kasih, Kak! Aku tahu Kakak akan selalu mendukungku."


Mereka menghabiskan waktu untuk saling bercengkerama, bercerita, dan tertawa.


*****


"Kita sudah sampai, Kim," Anthony menghentikan mobilnya di depan kediaman keluarga Harisson. Tadi ia yang menjemput Kimberly, maka ia merasa ia juga yang harus mengantarkan Kimberly pulang ke rumah.


"Terima kasih, Kak," ucap Kimberly sambil membuka seatbeltnya. Namun, seatbelt tersebut tidak terbuka.

__ADS_1


Anthony memiringkan tubuhnya, mencoba membuka seatbelt tersebut, membuat jaraknya dengan Kimberly begitu dekat. Kimberly bisa merasakan harum maskulin yang terdeteksi pada indera penciumannya. Jantung Kimberly berdegup dengan kencang, dan ketika seatbelt tersebut berhasil terlepas, Kimberly langsung keluar dari mobil berharap Anthony tak bisa mendengar suara degup jantungnya.


"Terima kasih, Kak. Maaf jadi merepotkanmu," ucap Kimberly sambil melambaikan tangan.


tung, tenanglah. Apa kamu mau aku copot? Bagaimana kalau tadi sampai terdengar? Atau terlihat menonjol saat kamu berdetak begitu kencang. Aku malu, tung. Sepertinya aku harus meminta tolong pada Papi.


*****


Pranggg!!!


"Lepaskan aku!!" teriak Viera sambil menghentakkan tangannya yang sedang dicengkeram oleh William.


"Aku tidak akan melepaskannya."


"Lepas!!"


Dengan kasar William pun sedikit mendorong Viera sehingga Viera terbaring di atas kasur, di bawah kungkungan William. Mata mereka saling menatap tajam, tapi kali ini manik mata mereka tidak dipenuhi oleh cinta ataupun nafsu.


"Katakan padaku! Apa yang sebenarnya kamu lakukan di luar sana, hah!!" William mencengkeram dagu Viera. Kemudian dengan amarah dan sekali hentakan, ia merobek baju Viera. Kemarahannya semakin meningkat ke ubun ubun ketika ia melihat banyak tanda merah di tubuh istrinya.


Sialannnn!!!


"Kamu berani bermain main di belakangku, hah?" William mencengkeram leher Viera.


"T-to-long, le-lepas-kan aku," ucap Viera terbata.


Amarah benar benar menyelimuti William. Ia tak menyangka istrinya bisa melakukan ini padanya. Belakangan ini memang ia begitu sibuk di kantor karena banyak hal yang harus ia benahi, atau perusahaan akan bangkrut dan terancam tutup.


Ponsel William tiba tiba berbunyi, ia yang awalnya mencengkeram Viera dengan kencang, tiba tiba tersadar saat mendengarnya. Ia langsung bangkit dan mengambil ponselnya. Sementara itu Viera langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Ia tak ingin William melakukan hal itu lagi padanya.


Setelah berbicara di ponsel, William menatap tajam ke arah kamar mandi.


Ketika aku mencintai, aku akan melakukannya dengan sepenuh hati. Tapi ketika aku membenci, aku akan membuatmu serasa mati. - William.


*****

__ADS_1


Mau 1 bab atau 2 bab? cuss tinggalin komen ya. Luph from Cherry at dreamyland


__ADS_2