SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
MENGURUNGKAN NIAT


__ADS_3

Kimberly terus berusaha menyelesaikan skripsinya tepat waktu. Ia juga mengambil beberapa sisa mata kuliah pada semester akhirnya ini.


Berbeda dengan sahabat sahabatnya selama masa kuliah ini, Kristy dan Lady, yang belum mengambil skripsi. Mereka masih santai menjalani masa perkuliahan mereka.


"Ah rese si Dodo. Kayaknya dia sengaja deh ngerjain gue. Masa tugas gue dibalikin terus. katanya belum sesuai lha, banyak ejaan yang salah lha, bla ... bla ... bla," ungkap Lady kesal.


Mereka duduk bersama di meja kantin.


"Mang, basonya 2 mangkok, pedes puoll!" pesan Lady.


"Lo yakin dy? ntar lo sakit perut lagi kayak kemaren ntu," ucap Kristy.


"Iya dy. Lebih baik mencegah daripada sengaja," timpal Kimberly.


"Si Dodo tuh yang sengaja. Berapa kali gue mesti bolak balik ke ruangan dia cuma buat nyerahin tugas doank. Ngeselin!!"


Mang baso meletakkan pesanan Lady di hadapan gadis itu, sambil bergidik ngeri sendiri membayangkan permukaan mangkok yang sudah tertutupi dengan sambal. Ia pun langsung meninggalkan gadis itu dengan langkah seribu.


Lady melahap baso pesanannya satu persatu. Semakin lama ia mulai merasa pedas. Ia membuka mulutnya sambil mengipasi rongga mulutnya, kemudian melahap baso itu lagi.


"Kak, es teh nya 2 gelas ya!" pesan Lady lagi.


Ia melahap kembali baso tersebut dan sesekali menghirup kuah yang berwarna merah menyala itu.


Hikss ... hikss ... hikss ...


Wajah Lady terlihat memerah, air matanya mengalir dan mulai keluar lendir dari hidungnya.


"dy, kalo pedes jangan dipaksain, yang ada nanti lo sakit perut lagi," ucap Kimberly.


"Biarin, setidaknya gue punya alesan buat nggak masuk mata kuliahnya si Dodo rese. Gue mau berhenti kuliah aja kalo kayak begini," ucap Lady sambil menangis.


Kristy berpindah duduk, yang awalnya berhadapan dengan Lady, kini ia berdampingan dengan gadis itu.


"Tenang dulu dy. Jangan ambil keputusan kalau lagi esmosi, nanti lo nyesel."


"Gue serius!" Lady terus melahap baso tersebut hingga ke dua mangkok tersebut tandas tak bersisa. Wajahnya semakin merah. Kimberly dan Kristy bisa melihat bagaimana Lady berusaha menahan rasa pedas.


Bughh ....


"Lady!!" teriak Kimberly dan Kristy bersamaan.


*****


"Honey, apa tidak ada cara untuk membatalkan pernikahanmu? Ini tinggal 3 bulan lagi," tanya Viera.


"Aku sedang memikirkannya, honey. Aku malah sempat berpikir, bagaimana kalau kita lari saja berdua."


Lari? Jika dia meninggalkan keluarganya, itu sama saja ia tidak memiliki apa apa. Hidupku akan tetap miskin. Aku tidak mau.


"Tidak honey. Aku tidak mau kami menjadi anak yang durhaka pada orang tua. Mereka sangat menyayangimu, dan kamu adalah anak mereka satu satunya. Apa kamu juga akan tega meninggalkan mereka?" ucap Viera memelas.

__ADS_1


"Honey, kamu begitu memperhatikan diriku dan keluargaku. Seharusnya Daddy dan Mommyku tidak memaksakan kehendak Grandpa padaku. Apa mereka tidak ingin melihat kebahagiaanku?"


"Aku sangat mencintaimu, honey. Aku akan melakukan apapun asal kamu bahagia."


Dan aku juga bahagia karena bisa menikmati semua harta kekayaan keluargamu.


"Terima kasih, honey. Kamu adalah kebahagiaanku. Saat kamu bersamaku, itu selalu menjadi kebahagiaan dan hal yang indah untukku," William mengecup bibir Viera yang begitu menggoda di penglihatannya.


Mereka pun hanyut dalam gairah yang seakan selalu menyeruak memenuhi dada mereka.


*****


Lady mengerjapkan matanya, bau obat dan khas rumah sakit kini menyeruak di penciumannya. Memandang ke sekeliling, tak ada siapapun. Ia tahu kini ia berada di sebuah rumah sakit, karena di sebelahnya ada pasien sedang berbincang bincang dengan seorang dokter.


Ia bisa mendengar percakapan tersebut, makanya ia bisa mengambil kesimpulan bahwa ia berada di rumah sakit.


Tirai yang mengelilingi area tempat tidurnya terbuka sedikit, menampakkan kedua sahabatnya.


"Lo udah sadar dy? akhirnya," ucap Kristy sambil mengelus dadanya.


"Apa yang terjadi?" tanya Lady.


"Ihh buset, dia yang pingsan malah dia yang bingung," jawab Kristy.


"Kamu pingsan karena terlalu banyak makan sambel," ujar Kimberly.


"Ya ampun, nggak banget sih pingsan gara gara begitu? ah malu maluin banget," Lady memegang kedua pipinya yang memerah dan menahan malu.


"Dia bakalan lebih malu lagi kalau sampai tahu siapa yang bawa dia ke rumah sakit," gumam Kristy.


"Ohhh nggak kok, nggak. Kita boleh tinggal lo sebentar nggak? Kita mau cari makan dulu nih, laper," ucap Kristy sambil menarik Kimberly.


"Kita keluar sebentar ya dy," pinta Kimberly.


Mereka berdua berjalan keluar dan tak sengaja kembali berpapasan dengan Dodo.


"Maaf Pak, minta izin keluar sebentar ya, mau cari makan," ucap Kristy sambil menarik Kimberly lagi.


"Apa dia sudah sadar?" tanya Dodo, membuat langkah Kimberly dan Kristy terhenti.


"Sudah, Pak," jawab Kimberly.


"Baiklah, aku akan menemuinya."


"Kita kabur aja, Kim. Ntar Lady bisa pingsan lagi ketemu dia," Kristy dengan cepat menarik Kimberly dan mengajaknya berjalan cepat.


Sementara itu Lady,


Malu maluin banget sih. Gue yang pesen pedes mampus, malah gue yang mampus beneran. Ahhh .... ngeselin!!


Tirai kembali terbuka,

__ADS_1


"Lo pada balik lagi? nggak jadi makan?" ucap Lady sambil masih menunduk.


"Sudah enakan?"


Deghhh ....


Suara itu? Ahhh kenapa juga gue mesti berhalusinasi si Dodo rese ada di sini.


Dodo yang tak mendengar jawaban dari Lady akhirnya masuk ke area yang dibatasi tirai, mendekati posisi Lady.


"Ngapain coba makan yang bikin pingsan. Apa nggak ada makanan lain yang bisa dimakan?"


Lady menengadahkan wajahnya, dan matanya membulat melihat kehadiran si dosen rese yang sudah membuatnya memakan baso setan.


"Apa yang anda lakukan di sini?"


"Mengantarmu," jawab Dodo enteng.


Apa? jadi dia yang mengantarkan gue kesini?


Lady tak bisa lagi menahan malunya, ia menutup wajahnya sambil menahan rasa malu yang tak kunjung menghilang. Kemudian ia menurunkan tangannya.


"Terima kasih," ucapnya.


"Apa kamu mau makan?" tanya Dodo.


"Tidak, Pak. Terima kasih. Sebaiknya Pak Dodo pulang, saya sudah tidak apa apa."


"Kamu mengusir saya."


"Bukan begitu, Pak. Tapi sudah ada Kimberly dan Kristy yang akan menemani saya."


"Mereka sedang pergi makan. Kamu jangan selalu menyusahkan mereka. Jangan pernah makan yang pedas pedas lagi kalau perut kamu tidak bisa menahannya. Mengerti?!" ucap Dodo tegas, namun Lady bisa melihat ada raut kecemasan di wajah dosen resenya itu.


"Iya," jawab Lady singkat.


"Sekarang kamu makan dulu," Dodo mendorong meja yang berisi makanan dari rumah sakit dan meletakkannya di hadapan Lady.


Dodo terus saja memperhatikan Lady, membuat Lady menjadi salah tingkah. Ingin rasanya ia mengusir dosennya itu, tapi melihat bagaimana sikap Dodo sekarang padanya, ia mengurungkan niatnya dan lebih mengikuti perintah dosennya itu.


*****


Terima kasih semuanya. Jangan lupa


LIKE


KOMEN


FAVOURITE


BINTANG 5

__ADS_1


VOTE


PimCherry


__ADS_2