
"Ini bukan salahku!" Viera membela dirinya.
"Bagaimana bukan salahmu? Bukannya menjaga anakmu dengan benar, malah sibuk main ponsel saja. Anak itu lebih penting daripada ponsel," ucap Elena dengan kesal karena melihat tingkat menantunya.
Viera yang dititipi Vivian karena Alke harus membersihkan diri, malah meletakkan bayinya di sofa sevara sembarangan karena ia tidak mau menggendongnya. Tanpa menghiraukan Vivian, Viera terus sibuk dengan ponselnya hingga terdengar suara tangisan Vivian yang sudah terjatuh di atas lantai dengan kening yang lebam.
Alke yang berusaha mandi dengan cepat pun kini berlari tergopoh gopoh menghampiri majikannya, "Ma-maaf Tuan, Nyonya, Nyonya besar. Saya yang salah, maaf saya meninggalkan Nona kecil," Alke terus menunduk karena takut, apalagi kini ia bisa melihat ada lebam di kening bayi mungil itu.
"Ini bukan salahmu, Al," ucap Elena, "Seorang Ibu sudah seharusnya menjaga dan mencurahkan kasih sayangnya pada anaknya. Bukan malah mendiamkannya dan mementingkan ponsel."
"Hei!! Aku sudah membayar mereka untuk bekerja. Seharusnya mereka tidak merepotkanku. Dan kau (Tanpa rasa bersalah dan tanpa rasa hormat, Viera menunjuk ke arah Elena), bukankah kamu tidak menerimaku sebagai menantu yang berarti kamu juga tidak menerima Vivian sebagai cucumu. Jangan sok perhatian dan menghakimiku!" ucap Viera dengan nada tinggi.
"Viera!!" Viera langsung menoleh ke arah William yang memanggil dirinya dengan namanya. Sejak mereka berhubungan, William selalu memanggilnya dengan sebutan honey.
"Apa kamu juga mau menyalahkanku, hah?!" Viera mulai mengeluarkan air matanya, "Apa kamu tidak tahu perasaanku? Tidak dianggap sebagai menantu sudah menyakitkan bagiku. Lalu sekarang ... mereka memaksaku menjadi ibu yang baik, sementara mereka tak pernah menjadi mertua yang baik untukku. Apa aku salah?" Viera langsung melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya dan membanting pintunya keras.
William mendesah kasar, ia menyugar rambutnya ke belakang dan kembali menarik nafasnya dalam dalam.
"Al, tolong obati Vivian ya. Setelah itu bawa ke kamarku," pinta William.
"Tidak!!" teriak Elena.
"Apa lagi, Mom?" William sudah mulai merasa lelah dengan hubungan mertua dan menantu yang saling berseteru.
__ADS_1
"Vivian akan tidur dengan Mom. Mom tidak mau istrimu itu kembali acuh pada Vivian dan menyakitinya."
"Karena itu, terimalah Viera sebagai istriku, Mom. Ia pasti merasa tersiksa selama ini atas perlakuan Mom yang tidak menganggapnya," ucap William membela Viera.
"Mom akan menerimanya jika dia bisa menjadi istri dan ibu yang baik. Bukan seorang wanita yang tiap hari kerjanya hanya keluyuran tidak jelas. Apa kamu berharap Mommy menerima wanita seperti itu? Mommy ingin kamu bahagia, tapi melihat bagaimana kelakuan istrimu, Mommy merasa setengah hatimu sudah menyesal memilihnya," ucap Elena kemudian meninggalkan William yang merasa hatinya tertohok dalam.
Menyesal? Apa aku menyesal dengan pernikahan ini? tidak, tidak. Aku mencintai Viera dan aku bahagia dengannya. Tapi jika dulu aku menikah dengan Kimberly, Mommy dan Daddy pasti akan senang, mereka akan bahagia. Mungkin hanya hatiku yang akan terluka seumur hidup karena tidak mencintai Kimberly, tapi sekarang aku sudah melukai banyak orang karena keegoisanku. - William.
*****
2 bulan kemudian,
"Aku akan berangkat besok ke Kalimantan untuk menemui Tuan Bram, Bro," ucap Sam pada King.
"Sudah. Aku sudah meminta bantuan Fika untuk menyelesaikan beberapa berkas yang harus kamu tanda tangani."
"Baiklah. Aku akan meminta Max menemanimu."
"Lalu, bagaimana denganmu?" Sam merasa sedikit kesal karena King akan mengikutsertakan Max dengannya, yang itu artinya ia tidak bisa menjalankan rencananya dengan mulus.
"Ada Fika di sini yang membantuku. Lagipula kamu hanya pergi beberapa hari saja, jadi tidak ada masalah bagiku. Yang terpenting adalah kesuksesan proyek kali ini."
"Kita pasti akan sukses kali ini, bro. Percayalah!"
__ADS_1
Sementara itu, Fika bisa mendengar dari luar pembicaraan antara King dengan Sam, karena pintunya agak terbuka sedikit.
Hmmm, Sam akan pergi, begitu juga dengan Max. Sepertinya inilah saatnya aku harus bertindak. Aku sudah tidak bisa menahan lagi. - Fika.
*****
"Hei, Kim!!" teriak Lady dan Kristy yang kini sedang melakukan video call dengan Kimberly, sesaat setelah acara wisuda mereka digelar.
Ahhhh,aku merindukan kalian berdua. Mengapa kalian tidak menungguku kalau mau lulus. Aku jadi tidak bisa berfoto dengan kalian.
"Kim, apa kamu mau menyuruh kami jadi mahasiswa abadi di sini? Kalau menunggumu, kapan aku wisuda ... ckk ... ckk ... ckkk," Lady berdecak kesal.
Hahahaha, tentu saja tidak. Aku bercanda. Tapi aku akan menyelesaikan masterku beberapa bulan lagi dan aku akan segera kembali.
"Benarkah, Kim? Tapi bukankah pendidikan master itu 2 tahun?" tanya Kristy.
Itu kalau standardnya, tapi aku memang mengambil banyak mata kuliah dan nilaiku pun memuaskan, jadi saat ini aku sedang mengerjakan tesisku. Mungkin sekitar 4-5 bulan lagi kita akan bertemu.
"Segera kabari kami saat kamu kembali, Kim. Kita harus merayakannya."
Pasti!! Aku akan kembali mengganggu kalian saat kembali kesana. - tawa Kimberly.
"Baiklah, Kim. We'll see you soon! Muah muah," Kristy dan Lady pun akhirnya mematikan sambungan ponselnya.
__ADS_1
Kimberly yang sudah berada di atas tempat tidurnya pun tersenyum mengingat bahwa ia akan kembali ke rumah sebentar lagi. Rumah? Ya rumahnya, bersama kedua orang tua dan kakaknya. Ia sangat merindukan mereka, meskipun tiap hari mereka melakukan video call.