SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
LAKUKANLAH SEBELUM TERLAMBAT


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah sakit, Anthony ingin menghubungi Kimberly. Namun, sudah sedari tadi ia mencoba tetap tidak bisa. Ia juga menghubungi King, tapi tidak diangkat.


Perasaannya kini tidak menentu. Jika memang King tidak dapat melanjutkan informasi yang ia dapatkan, maka selesailah sudah. Ia harus memendam perasaannya dan menguburnya lebih dalam lagi.



Untuk sementara waktu, ia harus menetap di New York. Ia harus menggantikan Daddynya untuk memimpin Anlee Group yang berada di sana. Ia adalah anak satu satunya tak mungkin ia mengesampingkan semua tanggung jawab itu.


Ia pun beranjak dari sofa dan pergi ke kamar tidurnya. Hari ini begitu melelahkan untuknya. Besok pagi ia akan mencoba untuk kembali menghubungi Kimberly ataupun King. Tapi ia juga sedikit ragu, jika memang Kimberly telah menjadi istri dari William Smith, maka akan sangat tidak baik jika ia menelepon istri orang lain. Apalagi mereka baru saja menikah.


Anthony akhirnya pergi membersihkan diri dan naik ke atas tempat tidur. Ia benar benar membutuhkan istirahat. Tapi matanya serasa sulit untuk terpejam, pikirannya masih menerawang kemana mana.


*****


Kimberly sampai di Kota New York setelah menempuh perjalanan 20 jam lebih. Ia ingin beristirahat dulu sebenarnya, tapi pada akhirnya ia hanya meletakkan kopernya di hotel, dan langsung berangkat menuju Anlee Group. Ia sudah memberitahu King, Hansel dan semuanya untuk tidak memberitahu mengenai dirinya pada Anthony, karena ia ingin membuat kejutan.


Sementara itu Anthony pagi pagi sudah kembali ke rumah sakit. Ia membawakan sarapan untuk Mommynya dan juga pakaian ganti. Ia sudah meminta Mommynya itu untuk pulang dan beristirahat, tapi wanita paruh baya itu tetap tidak mau. Ia ingin menemani suaminya, selalu berada di sisinya.


"Jika Mommy membutuhkan sesuatu, kabari aku. Aku akan pergi ke kantor untuk menyelesaikan semuanya dan segera kembali ke sini," ucap Anthony.


"Ya, sayang. Pergilah. Mommy tidak apa apa."


"Aku pergi dulu, Mom," Anthony mengecup pipi Mommynya. Sudah menjadi kebiasaan baginya untuk selalu mencium pipi Mommynya sebelum ia pergi kemanapun.


"Hati hati, sayang."


Anthony pun berangkat ke kantor. Semua pegawai di kantor sudah mengenalnya, karena dulu ia pernah membantu Daddynya untuk memimpin di sana, sekaligus belajar. Setiap pegawai yang berpapasan dengannya pasti akan menyapa, dan dibalas dengan senyuman oleh Anthony. Ia memang dikenal sebagai seorang pemimpin yang ramah. Banyak wanita yang tergila gila pada Anthony karena selain wajahnya yang tampan, keramahannya pada semua juga menambah nilai tambah.


Anthony masuk ke dalam ruangannya, yang biasa ditempati oleh Daddynya. Ia duduk di sana dan melihat ke atas mejanya yang penuh dengan berkas berkas. Tapi, pikirannya tak ada di sana. Ia mengambil ponselnya dan menekan angka 3 yang menjadi tombol cepat untuk Kimberly. Namun kekecewaan kembali ia rasakan saat ponsel Kimberly masih tidak aktif.


Anthony meletakkan ponselnya dan mulai mengerjakan tanggung jawabnya. Perusahaan yang dibangun oleh Daddynya saat ia lahir. Daddynya, Mr. Lee Graham, memulai semuanya dari nol. Merangkak perlahan hingga akhirnya perusahaan yang bergerak dalam F&B itu menjadi semakin besar.


Jam makan siang tiba, Anthony sama sekali tidak berencana keluar. Tapi ia ingat bahwa Mommynya harus makan siang. Jika didiamkan, maka Mommynya itu tidak akan makan karena selalu mendahulukan kepentingan Daddynya.


Ia pun segera beranjak, "Rod, aku keluar dulu. Aku akan ke rumah sakit."


"Siap, Tuan."


Dengan mengendarai sendiri kendaraannya, Anthony melajukan kendaraannya ke rumah sakit. Sebelumnya ia mampir di salah satu restoran.


"Mom, bagaimana Daddy?"


"Daddy sudah lebih baik. Kamu kenapa ke sini lagi?"

__ADS_1


"Aku membawakan Mommy makan siang. Makanlah dulu, Mom. Aku yang akan menjaga Daddy."


"Baiklah," Mommy Anthony, Anita Graham, berpindah duduk ke sofa dan mulai menyantap makanan yang dibawakan oleh putranya. Ia sangat bersyukur memiliki seorang putra yang sangat menyayangi kedua orang tuanya. Lee dan Anita pun tidak pernah akan memaksa Anthony untuk segera menikah, karena mereka percaya bahwa putranya akan menemukan kebahagiaannua sendiri jika memang sudah waktunya.


"Kamu sendiri sudah makan, An?" tanya Anita.


"Aku akan makan saat kembali nanti ke kantor."


"Apa pekerjaanmu sangat banyak?"


"Tidak, Mom. Aku masih bisa mengatasinya."


Aku lebih sulit untuk mengatasi apa yang kurasakan saat ini. Cinta yang kupendam selama 6 tahun, sepertinya telah menemukan ujungnya, di mana aku harus berhenti untuk berharap. - Anthony.


"Jangan terlalu lelah. Daddy tak akan memarahimu. Kamu juga harus memperhatikan kesehatanmu, juga kebahagiaanmu."


Anthony menghampiri Anita yang sedang duduk di sofa, "Aku bahagia, Mom. Melihat Daddy dan Mommy sehat dan bahagia, itu suatu kebahagiaan untukku."


"Ni ....," sebuah suara pelan memanggil Anita, membuatnya langsung menghampiri suaminya.


"Ada apa? Apa masih ada yang sakit?" tanya Anita.


"Tidak, aku hanya haus," ucap Lee.


"An, bisakah Daddy pulang saja? Daddy bosan di sini."


"Baiklah, aku akan menanyakan pada dokter dulu," Anthony pun pergi menemui dokter yang merawat Daddynya.


Sekembalinya dari dokter,


"Dad, dokter bilang besok Daddy boleh pulang, asal Daddy rutin minum obatnya ... dan Daddy tidak boleh terlalu lelah," jelas Anthony.


"Tapi bagaimana dengan perusahaan?"


"Aku yang akan mengambil alih untuk sementara waktu, Dad. Tenanglah."


"Lalu, perusahaan yang di Jakarta?"


"Aku akan meminta Hansel untuk memggantikanku sementara aku berada di sini. Jadi Daddy tidak perlu khawatir. Ingat kesehatan Daddy."


"Kamu juga jangan terlalu lelah," pesan Lee Graham, "Kapan kamu akan membawa menantu Daddy kemari, hmm?!" ucap Lee bercanda.


"Apa maksud Daddy, aku ..."

__ADS_1


"Jangan berbohong. Daddy tahu semuanya. Kamu dulu sering pergi bolak balik ke Chicago dan belakangan ini kamu malah lebih sering berada di Jakarta. Apa ia menolakmu?"


"Tidak, Dad. Hanya aku saja yang belum mengatakan perasaanku."


"Kamu harus melakukannya, An. Atau kamu akan kehilangan dia. Lakukanlah sebelum kamu terlambat," pesan Lee.


Sepertinya aku sudah terlambat, Dad. Tapi aku tidak menyesal. Jika memang bukan diriku jodohnya, sekeras apapun aku memaksa, maka dia tak akan jadi milikku. Tapi jika memang dia jodohku, ia akan kembali padaku. Tapi sekarang ....


"Sebaiknya aku kembali ke kantor. Rod pasti sudah mencariku," ucap Anthony.


"Pergilah. Daddy baik baik saja, ada Mommymu di sini."


"Okay, Dad," Anthony memberi pelukan pada Daddynya dan kecupan pada Mommynya.


*****


Anthony memasuki Anlee Group, dan seperti biasa semua mata akan tertuju padanya.


"Selamat siang Tuan, tadi ada seorang wanita mencari tuan," ucap Salah seorang resepsionis ketika Anthony melewati mereka.


"Seorang wanita? Apa ia ada janji dengan Daddy?" tanya Anthony.


"Tidak ada, Tuan. Tapi tadi ia bilang sudah melakukan janji dengan tuan. Jadi, kami mempersilakan ke atas untuk menemui Tuan Rod."


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih," Anthony pun pergi sambil berpikir siapa yang datang menemuinya.


Ia naik lift bersama dengan pegawai lainnya. Tak ada lift terpisah, karena bagi keluarga Graham, pegawai mereka adalah keluarga. Mereka lah yang turut membesarkan perusahaan, jadi Mr. Lee Graham tak pernah melakukan pembedaan ataupun keistimewaan antara pemimpin ataupun pegawai.


"Rod."


"Ohh, Tuan. Di dalam ada tamu. Katanya sudah buat janji secara pribadi."


"Siapa?" Anthony masih berpikir.


"Katanya ia datang dari Jakarta."


Jangan jangan ...


Anthony pun langsung membuka pintu ruangannya dan ....


.


.

__ADS_1


meminta like dan komen dari semua readers 😀😀


__ADS_2