SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
EXTRA PART (1)


__ADS_3

6 bulan berlalu ...


Anthony dan Kimberly memutuskan untuk tinggal di Kota New York, bersama dengan orang tua Anthony. Anita sangat menyayangi Kimberly seperti putrinya sendiri. Setelah melahirkan Anthony, Anita ingin sekali memiliki anak lagi. Namun, takdir berkata lain karena ia tak kunjung hamil.


Keputusan tersebut juga diambil mengingat kesehatan Mr. Lee Graham yang membuatnya tak bisa memimpin perusahaan lagi.


"Aku akan menemani pulang ke Indonesia, sayang," ucap Anthony saat melihat Kimberly yang sedang menatap foto kedua orang tuanya di ponsel.


"Benarkah?"


"Hmm," angguk Anthony, membuat Kimberly langsung melompat ke dalam pelukan suaminya itu.


"T-tapi bagaimana dengan Daddy dan perusahaan?"


"Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan meminta Dokter Tom untuk selalu menjaga dan mengawasi Daddy. Mommy juga sangat telaten sekali merawat Daddy. Kalau untuk urusan perusahaan, aku bisa meminta Rod untuk menggantikanku sementara waktu."


"Jika kamu sibuk, tidak mengapa bagiku untuk pulang sendiri."


"Tidak, sayang. Kemana pun kamu pergi, aku akan ikut. Aku akan menjagamu. Kamu juga tahu kan aku itu tak bisa jauh darimu," goda Anthony.


"Karena itulah aku sangat mencintaimu. Betapa besarnya perhatianmu padaku, yang membuatku merasa begitu disayangi, begitu sangat berarti," Kimberly memeluk Anthony, buliran air mata tiba tiba saja mengalir di pipinya.


"Hei, kenapa kamu jadi menangis. Tersenyumlah ... aku tak akan membiarkanmu menangis, kecuali itu tangisan kebahagiaan."


"Justru aku menangis karena aku sangat bahagia. Aku tak pernah membayangkan, aku akan memiliki apa yang kumiliki sekarang, terutama dirimu."


Anthony mencium kening Kimberly dalam, "Kalau begitu, maukah istri cantikku ini menemaniku makan malam besok?"


"Tentu saja, memangnya mau makan apa?"


"Hmmm ... bagaimana kalau kita makan es krim?" tanya Anthony yang membuat Kimberly bingung.


"Es krim? aku sedang tidak mau. Bagaimana kalau kita makan masakan Jepang?"


"T-tapi aku ingin sekali es krim," Anthony mulai terbayang rasa manis, membuatnya menelan ludah.


"Bagaimana kalau kita pergi sekarang saja?" tanya Anthony sambil berdiri dan berjalan menuju walking closet untuk mengganti pakaiannya.


"Sekarang? tidak, tidak ... ini sudah jam 11 malam. Besok saja. Lebih baik sekarang kita tidur," ajak Kimberly.


"Tapi aku ingin es krim," Kimberly semakin keheranan dengan tingkah Anthony yang seperti anak kecil, mulai merengek. Ia mengerutkan keningnya seakan tidak percaya bahwa yang di hadapannya adalah Anthony Lee Graham.


"Es krim, aku mau es krim sekarang ....," rengek Anthony lagi.

__ADS_1


"Baiklah, baiklah. Ayo kita berangkat makan es krim," Kimberly mengalah dan mengganti pakaiannya. Ia keluar bersama Anthony untuk mencari kedai es krim yang masih buka.


Keesokan harinya,


Hoekkk ... hoekk ...


Kimberly terbangun karena mendengar suara orang muntah muntah di kamar mandi.


"Sayang? Kamu kenapa?" Kimberly langsung beranjak dari tempat tidur dan menghampiri Anthony.


"Tidak tahu, perutku seperti diaduk aduk."


"Ini pasti karena kebanyakan makan es krim semalam. Sudah kukatakan kan semalam jangan banyak banyak, sekarang lihat akibatnya."


"Jangan marah marah, aku kan sedang tidak enak badan. Hoekkk .... hoekkk ...," Anthony kembali mengeluarkan isi perutnya.


Semalam, mereka makan es krim, tidak ... tidak .... tepatnya Anthony lah yang makan es krim hingga 2 mangkuk besar. Kimberly melahap es krim nya sambil terus melihat ke arah Anthony yang makan es krim dengan lahapnya tanpa merasakan betapa dinginnya es krim tersebut.


Kimberly membantu Anthony untuk kembali ke tempat tidur, namun baru 5 menit Anthony sudah kembali berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


*H**oekkk ... hoekkk* ....


"Hari ini tidak perlu ke kantor dulu. Aku akan menelepon Kak Rod, setelah itu aku akan menelepon dokter," Kimberly meraih ponselnya dan menghubungi asisten pribadi Anthony yang usianya terpaut 5 tahun dari suaminya.


"Bagaimana, Dok?"


"Tidak ada masalah yang kudapatkan. Apa yang semalam ia makan?"


"Ia makan es krim ..."


"Es krim? sebenarnya tidak masalah."


"Tapi hampir 4 liter," sambung Kimberly.


"Apa? yang benar? Kamu sudah gila ya, An?" ujar sang Dokter yang merupakan anak dari kenalan orang tuanya. Kini ia hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Sebaiknya kamu istirahat saja hari ini, tidak perlu ke kantor ... dan jangan makan seperti itu lagi, apalagi malam hari," pesan sang dokter.


Kimberly lah yang mengiyakan semua perkataan sang dokter, karena Anthony terlihat sangat lelah dan lemah setelah mengeluarkan isi perutnya.


Keesokan paginya dan beberapa hari setelahnya, Anthony kembali mengalami hal itu. Kepalanya terasa pusing dan ia sudah bolak balik beberapa kali ke kamar mandi karena rasa mual yang menerpanya.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" Kimberly menatap Anthony yang bersandar pada dipan tempat tidur.

__ADS_1


"Aku tidak apa apa, sebaiknya kita bersiap siap, supaya tidak terlambat ke bandara."


"Tidak! kita ke rumah sakit sekarang. Aku sudah meminta supir untuk menyiapkan mobil. Ayo berganti pakaian, kita berangkat."


Anthony akhirnya mengikuti semua keinginan Kimberly. Hari itu seharusnya mereka berangkat ke Indonesia seperti rencana mereka sebulan yang lalu. Namun, kondisi Anthony tak memungkinkan untuk itu.


*****


"Apa kamu makan es krim lagi, An? sudah kukatakan makan yang benar," sang dokter kesal.


"Tidak, Dok. Suamiku tidak makan es krim lagi sejak waktu itu. Tapi hampir setiap pagi ia mual dan muntah."


Sang dokter terlihat mengerutkan keningnya dan mengetukkan pulpen yang ia pegang ke kepalanya sendiri, kemudian menghela nafasnya panjang.


"Baiklah, sepertinya aku sudah mulai mengerti apa yang terjadi di sini. Tunggulah sebentar, Anthony tetap harus diinfus dulu karena ia kekurangan cairan."


"Baik, Dok."


Kimberly duduk persis di sebelah brankar Anthony, "Sayang, aku mau pulang."


"Tunggulah sebentar, dokter akan kembali. Kamu kekurangan cairan, harus diinfus dulu."


Tak berselang lama, dokter masuk sambil mengajak seorang dokter wanita dan membawa sebuah alat.


"Ada apa ini?" tanya Anthony yang tiba tiba wajahnya terlihat khawatir, "Alat apa itu? apa aku mengidap sesuatu?"


"Bukan kamu, tapi istrimu."


"Istriku? jangan main main kamu! Kalau begitu cepat periksa, aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya."


"Kamu harus bangun, jangan manja seperti anak kecil!" gerutu sang dokter yang melihat tingkah Anthony.


Akhirnya Anthony turun dari brankar, masih dalam keadaan tangan terpasang infus. Sementara itu dokter wanita itu mempersilakan Kimberly untuk naik ke atas brankar untuk diperiksa.


Sang dokter mulai mengoleskan gel, kemudian meletakkannya di atas perut Kimberly. Ia tersenyum, kemudian menganggukkan kepala pada dokter yang menangani Anthony.


"Aku yakin kamu akan langsung sembuh," goda sang dokter.


"Cepat katakan ada apa dengan istriku?"


"Selamat Tuan, saat ini nyonya sedang hamil."


"Hamil?"

__ADS_1


__ADS_2