SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
CARA YANG LAIN


__ADS_3

"Kak, Kinan pulang dulu ya."


"Iya, terima kasih ya Ki sudah membantuku hari ini."


"Dengan senang hati, Kak."


"Kalau nanti toko ini bisa menghasilkan lebih banyak, aku akan menggajimu lebih besar."


"Tidak perlu, Kak. Apa yang kakak berikan sudah lebih besar daripada jika aku bekerja di tempat lain."


"Baiklah Ki, hati hati ya."


"Sampai jumpa besok, Kak," Kinan melambaikan tangannya.


Hanna membereskan beberapa barang di bagian luar tokonya. Hanna kini membuka sebuah toko kelontong yang menjual berbagai macam sembako dan kebutuhan lainnya. Ia membuka toko tersebut setelah menjual rumah peninggalan orang tuanya, dan pergi merantau ke pulau terbesar di Indonesia ini.


Setelah ibunya meninggal, Hanna merasa tak ada yang mengikatnya lagi di kota itu. Ia akan melupakan semuanya dan memulai kehidupan yang baru. Sudah setahun belakangan ini ia bisa menghilangkan mimpi buruk yang mengganggunya hampir setiap malam.


Ia juga sudah pamit kepada Ben, kakak sepupunya. Ia berjanji akan memberikan kabar, tapi ia hanya melakukan setahun sekali saja. Ia juga meminta kepada Ben agar tidak memberitahukan keberadaannya kepada siapapun.


Hanna merasa dengan lingkungan yang baru dan orang orang yang tidak ia kenal, itu akan membuka lembaran baru baginya. Memudahkan dirinya untuk menekan perasaan trauma dan depresinya.


Hanna menyewa sebuah rumah yang tidak terlalu besar, tapi memiliki 2 lantai. Lantai bawah ia gunakan sebagai toko, sedangkan bagian atas ia gunakan untuk tempat tinggal.


Setelah menutup toko, ia pun segera membersihkan diri, kemudian mempersiapkan menu makanan yang sederhana untuk dirinya sendiri.


Jujur, ia sangat merindukan sahabat sahabatnya. Tapi, ia juga tak mau membebani mereka dengan kehidupannya.


"Terima kasih atas semua kenangan indah yang kalian buat untukku. Aku akan selalu mengingat kebahagiaan saat bersama kalian," gumamnya.


*****


Sore itu, King baru saja menyeleksi beberapa pelamar yang akan ia jadikan stafnya. Sungguh melelahkan baginya, tapi ia ingin semua staf awal yang ia miliki adalah orang orang pilihannya.


Seperti saat ini, ia berada di dalam ruang meeting sedang menyeleksi pelamar yang akan ia jadikan asisten pribadinya.


Sudah beberapa orang yang masuk dan keluar dari ruangan itu, sampai pada orang terakhir. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 dan King seperti masih tidak puas akan apa yang sedang ia kerjakan.


"Masuklah," ucap King setelah mendengar suara ketukan pintu.


"Silakan duduk."


"Max, mengapa kamu berhenti dari pekerjaanmu yang sebelumnya?" tanya King.


"Masalah waktu. Jarak dari rumahku menuju tempat kerja sangat jauh, sehingga aku harus berangkat jam 3 pagi dan baru kembali saat malam. Sedangkan ibuku hanya sendirian di rumah."

__ADS_1


"Jika kamu bekerja sebagai asisten pribadiku, bukankah waktumu justru tidak akan menentu? Bisa saja aku memanggilmu pagi pagi sekali atau bahkan kamu tidak pulang sama sekali."


"Itu tidak masalah Tuan, karena itu pasti tidak akan setiap hari. Lagipula dari sini saya masih bisa mengawasi ibu saya."


"Dari sini? Apa kamu tinggal dekat sini? Tapi di CV kamu alamat yang tertera masih 2 km lagi dari sini," tanya King.


"Kebetulan ibu saya bekerja persis di depan kantor ini, Tuan. Di klinik psikiatri yang ada di seberang jalan, klinik milik Tuan Ben," jawab King.


"Kamu mengenalnya?" tanya King penasaran.


"Tentu saja, Tuan. Tuan Ben adalah orang yang sangat baik."


"Baik? Apa dia tidak tahu kalau majikan ibunya itu memiliki banyak wanita," batin King.


"Baiklah, datanglah ke sini besok pagi. Kamu bisa mulai bekerja. Aku memberikan kepercayaan padamu karena aku melihat bagaimana kamu sangat menyayangi ibumu. Jangan pernah mengecewakanku," ucap King.


"Terima kasih, Tuan," ucap Max sambil menganggukkan kepalanya.


"Kamu boleh pergi."


Max pun akhirnya meninggalkan tempat itu. Kini King kembali sendirian di dalam gedung kantor miliknya. Ia menatap ke jendela, ke arah seberang jalan. King bisa melihat dengan jelas siapa yang keluar masuk dari klinik tersebut.


"Baik? Apa dia begitu baik hingga kamu bisa bersamanya? Aargghhh .... kenapa sulit sekali melupakanmu," ucap King sambil memegang kepala dengan kedua tangannya.


*****


"Ada apa, Mom?"


"Kemari, duduklah dulu."


William duduk persis di sebelah Elena.


"Kamu lihat ini, menurutmu yang mana yang bagus? Yg warna merah maroon ini atau yang warna terang?"


"Mom, pernikahanku masih setengah tahun lagi, kenapa harus menyibukkan diri sekarang?" gerutu William.


"Sayang, kamu mengatakan sekarang lama, tapi pasti nanti tiba tiba sudah dekat dan ternyata kita belum mengerjakan apa apa. Jangan suka menunda nunda, jika bisa dikerjakan sekarang, kenapa tidak. Lagipula, tanggal pernikahanmu pun sudah ditetapkan."


"Mommy juga tidak akan bisa mengurus lagi, karena lusa Mommy harus kembali menemani Daddymu pergi ke Jepang. Ada banyak hal yang harus kami kerjakan di sana," lanjut Elena.


"Apakah akan lama di sana?" tanya William.


"Mommy tidak tahu, tapi sepertinya begitu. Tapi kami pasti akan kembali saat pernikahanmu nanti."


"Mom ..."

__ADS_1


"Ada apa?"


"Bagaimana jika aku membatalkan pernikahan ini?"


Elena langsung menoleh ke arah William, "Kamu jangan macam macam, Wil. Mommy tidak suka."


"Aku serius, Mom."


"Tidak! Mommy tidak mau membahas ini. Bagaimanapun, Kimberly akan tetap menjadi menantu Mommy, seperti keinginan Grandpa dan Grandmamu."


"Tapi aku tidak mencintainya. Aku mencintai wanita lain."


"Sekali Mommy bilang tidak, tidak Wil. Jika kamu mencintai wanita lain atau sudah memiliki hubungan dengan wanita lain, sebaiknya kamu memutuskan hubungan itu, mengerti?!" Elena akhirnya meninggalkan William seorang diri.


"Hebat sekali dirimu yang bisa mempengaruhi keluargaku, bahkan kini mereka semua memihak kepadamu. Sepertinya aku harus mencari cara yang lain untuk melepaskan diri darimu."


*****


"Kim, lo dah ketemu sama Pak Hendra? lo pilih dia kan buat jadi pembimbing lo?" tanya Lady.


"Iya, gue minta dia jadi pembimbing gue, daripada mister Dodo ya kan?" jawab Kimberly


"Iya sih, Pak Hendra meskipun 'killer' tapi masih ngarahin ke yang bener ya," ucap Lady.


"Jadi maksud kamu, saya ngarahin ke yang nggak bener gitu?" Lady menengok ke belakang, ke arah asal suara. Begitu melihat siapa yang berdiri di belakang, bulunya langsung meremang.


Ia pun mengeluarkan jurus andalannya, yakni tersenyum sambil memperlihatkan deretan giginya yang berwarna putih.


"Saya permisi dulu ya, Pak," ucap Lady mencoba melangkahkan kakinya.


"Kamu mau kemana?" Lady langsung menghentikan usahanya untuk kabur dari tempat itu.


"Mau ke toilet, Pak," ujarnya berbohong.


"Setelah itu kamu ke ruangan saya! Saya tunggu. Kalau kamu kabur, jangan harap bisa lulus mata kuliah saya," Dodo pun beranjak pergi.


"Mampus gue," gumam Lady.


Dodo, nama aslinya Donny. Ia seorang laki laki berumur 30 tahun, yang setelah lulus kuliah langsung melanjutkan S2, kemudian menjadi dosen di tempat yang sama.


"Gue cabut dulu ya Kim. Kira kira gue mau diapain ya?" Kimberly hanya bisa tertawa.


Setelah kepergian Lady, ia segera mencari tempat yang bisa membantunya untuk berpikir.


*****

__ADS_1


__ADS_2