
Pagi ini, Hanna bangun dengan semangat 45. Hal itu karena ini adalah hari pertama dibukanya kedai makan miliknya. Mereka akan menjajakan masakan matang di pagi hari, dan membuka warung kopi serta mie instan di malam hari.
Mentari pagi seperti menyambutnya dengan tersenyum. Ia membuka jendela kamar tidurnya dan merentangkan tangannya sambil menghirup dalam dalam udara pagi itu. Kedai makannya baru akan buka pukul 10 nanti. Hanna sengaja membukanya agak siang, agar para pegawainya tidak perlu datang pagi pagi sehingga kekurangan waktu istirahat, apalagi ia merencanakan buka sampai tengah malam.
Ia segera pergi membersihkan diri dan sarapan. Dengan senyum yang terukir di wajahnya, ia membuka toko sembakonya. Setelah itu ia juga menurunkan beberapa kursi yang ada di kedai makannya. Hanna mulai menyapu dan membersihkan toko dan sekitar rumahnya. Ia percaya dengan kebersihan, orang orang akan lebih senang mengunjungi tokonya, maupun kedai makannya.
Tepat pukul 8.30, Kinan dan Fahri datang.
"Kak!!" sapa Kinan dengan ceria.
Tanpa banyak berbicara, mereka mulai menyiapkan bahan bahan makanan. Mereka sudah merencanakan menu makanan yang akan disediakan, sehingga hari ini mereka tinggal mulai memasak.
Hanna dan Kinan membantu memotong bahan masakan, sementara Fahri lah yang akan memasak. Jika ada pengunjung di toko sembako, Hanna dan Kinan akan bergantian melayani mereka.
Untuk hari pertama pembukaan kedai makan, mereka tidak kecewa. Setidaknya masakan yang mereka sediakan banyak yang habis. Jika ada sisa, maka Hanna akan membaginya bersama Kinan dan Fahri. Untuk warung kopi akan dijaga oleh seorang laki laki bernama Jota.
Sementara itu di pulau yang lain,
Kimberly menatap wajahnya di cermin. Matanya masih terlihat sedikit sembab, tapi ia berharap make up bisa menutupinya. Dengan polesan seorang MUA yang luar biasa, kini mata sembabnya sudah tertutupi. Yang terlihat hanya wajah cantik Kimberly dengan riasan natural.
Dengan hiasan di kepalanya, Kimberly terlihat seperti seorang dewi. Ia terlihat sangat cantik bagi siapapun yang melihatnya.
"Mi," panggil Kimberly saat Megan memasuki ruangan tempat ia dirias.
__ADS_1
"Kamu sudah siap, Kim? Kamu cantik sekali, sayang," Megan memegang kedua tangan Kimberly.
Apa cantik saja cukup? sementara hanya ada cinta satu pihak dalam pernikahan ini.
Pernikahan secara agama dan hukum telah siap. Ruangan juga khusus didesain oleh desainer interior kepercayaan Tuan Michael. Sebuah hotel megah kini akan menjadi saksi ucapan janji pernikahan tersebut.
Para tamu undangan sudah hadir, di sana terlihat keluarga besar Smith, keluarga Harisson, dan kolega terdekat dari kedua belah pihak. Resepsi sendiri akan diadakan malam nanti dan mengundang 1000 orang lebih.
Kimberly memasuki ruangan bersama Maminya. Semua orang memperhatikannya dan memberikan pujian atas kecantikannya, namun ia bisa melihat raut kesal dan kemarahan yang tercetak begitu jelas di wajah William.
King yang berdiri tak jauh dari Papinya, Alan, terus memperhatikan Kimberly. Ia terus berpikir apakah ia perlu menggagalkan pernikahan ini dan bagaimana caranya. Ia tak rela jika melihat kebahagiaan adiknya akan dipertaruhkan, apalagi ia bisa melihat wajah William yang sangat tidak bersahabat.
Kini, William dan Kimberly sudah berada di depan seorang pemuka agama yang akan mengesahkan pernikahan mereka secara agama.
Kimberly diam, ia tak tahu harus menjawab apa. Ia ingin membatalkan, tapi ia tak ingin mempermalukan keluarganya ataupun keluarga William yang sudah sangat baik padanya. Apalagi Aunty Elena yang sangat menginginkan dirinya menjadi menantu di keluarga Smith.
Semua orang kini berkumpul, senyuman terukir di wajah masing masing anggota keluarga, kecuali pasangan pengantin dan juga King. Janji pernikahan pun diucapkan, keluar dengan nada tegas namun penuh amarah dari mulut William dan terdengar pelan dari mulut Kimberly.
"Baiklah, silakan tanda tangani surat ini sebagai tanda bahwa pernikahan kalian sudah sah secara agama dan secara hukum," salah seorang petugas keagamaan dan petugas dari catatan sipil sudah mempersiapkan surat tersebut di atas meja.
William menandatangani terlebih dahulu, dengan keras ia tanda tangan hingga hampir saja merobek kertas itu, kemudian membanting bolpoinnya dengan keras.
Kimberly mengambil bolpoin tersebut dan menggenggamnya. Ntah perasaan dari mana, timbul keraguan dan kegelisahaan yang mendera hatinya. Ia memandangi keluarganya sekali lagi, juga keluarga Smith. Ia mencoba memantapkan hatinya. Baru saja ia menyentuhkan ujung bolpoin tersebut ke atas kertas,
"Berhenti!! Tolong hentikan!!" teriak seorang wanita yang berlari dan memaksa masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
"Viera" " Honey" ucap mereka secara bersamaan dengan suara pelan.
"Jangan lanjutkan, tolong jangan lanjutkan," Viera menangis di depan pintu ruangan tersebut, dan terus mencoba untuk masuk. Namun, dua orang security menahannya.
William tentu saha tak akan tega melihat kekasihnya diperlakukan seperti itu. Ia langsung berteriak, "Lepaskan dia!! atau aku akan memotong kedua tangan kalian!"
Tanpa basa basi, William langsung menghampiri Viera, meskipun banyak pasang mata yang memperhatikan perilakunya. Sementara Kimberly langsung meletakkan bolpoin yang ia pegang, keraguannya untuk menandatangani surat pernikahan kini terjawab.
"Honey, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya William sambil memeluk Viera.
"Tolong jangan lanjutkan pernikahan ini. Aku tidak sanggup. Aku tidak sanggup kehilanganmu. Aku tidak mau anakku kehilangan Ayahnya."
Deghhh ....
Seketika Kimberly merosot dan terduduk di lantai.
Anak? Apa Viera hamil? Ya Tuhan, mereka melakukannya hingga sejauh ini. Bagaimana jika aku jadi menikah? Hidupku akan lebih dari neraka.
Kedua keluarga yang mendengar langsung syok, terutama Elena. Sementara Megan langsung menghampiri putrinya.
"Sayang ...," ucap Megan pelan saat berada dekat dengan Kimberly.
"Aku tidak apa apa, Mi," Kimberly menepuk punggung tangan Maminya itu dan tersenyum tipis namun sulit untuk diartikan.
*****
__ADS_1