
Ben langsung mengepalkan tangannya kemudian ia menggebrak meja di cafe rumah sakit. Semua mata pun melihat ke arahnya.
"Kak, sudah ... duduklah dulu," ucap Anthony.
"Terima kasih karena sudah menolong Hanna. Aku yang akan menjaganya," ucap Ben.
"Bolehkah aku juga menjaganya?" tanya King sedikit ragu.
"Sebaiknya kamu pulang saja. Aku harus memastikan kondisi Hanna terlebih dahulu, apakah ia bisa dikunjungi atau tidak. Aku takut kejadian yang dulu dan sekarang akan ..."
"Apa maksudmu?"
"Maaf, sebaiknya kamu pulang saja," Ben tidak ingin meneruskan perkataannya. Ia masih gelisah. Ia takut trauma Hanna akan semakin dalam, dan ini juga semua terjadi karena kesalahannya yang lupa menjemput Hanna.
King melihat ke arah Anthony seakan mencari jawaban, tapi Anthony malah memalingkan wajahnya dari King. Ia pamit pada Ben dan meminta Ben agar mengabarinya jika terjadi sesuatu.
King yang melihat Anthony berlalu pun segera mengejarnya, ia harus tahu ada apa sebenarnya.
"Tunggu!" King menepuk bahu Anthony.
"Ada apa?"
"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Apa? Apa yang terjadi? Memangnya kamu butuh tahu semua itu? Percaya saja apa yang kamu lihat, bukankah memang itu yang selalu kamu katakan. Bahwa penglihatanmu tak akan membohongimu."
"An!"
"Maaf, tapi sepertinya aku tidak perlu menjelaskan pada seseorang yang bukan siapa siapa," Anthony pun segera pergi meninggalkan King yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
King berbalik, ia tak jadi pulang. Ia harus mengetahui semuanya, secepatnya. Sepertinya ia tak membutuhkan bantuan Max lagi untuk mencari tahu semuanya. Ia hanya perlu mencari ...
Ben.
*****
"man, apa yang kamu dapatkan?" tanya William.
"Sama seperti sebelumnya," jawab Arman singkat.
"Jadi ... ia melakukannya lagi. Dasar wanita murahan! Aku benar benar tak menyangka telah menjadikan seorang wanita murahan sebagai seorang istri," ucap William geram.
__ADS_1
"Kamu punya semua bukti buktinya kan, man?"
"Ya."
"Kalau begitu simpan semua dengan rapi, aku akan mengeluarkannya saat ia kembali."
Ponsel William berbunyi,
"Iya, Al?"
Tuan, nona kecil demam. Saya sudah mengompresnya dan memberinya obat penurun panas, tapi tetap tidak mau turun.
"Kamu bawa Vivian ke rumah sakit bersama supir. Saya akan segera menyusul. Ke rumah sakir Internasional saja."
Baik, Tuan.
William langsung meletakkan semua pekerjaannya di atas meja, "man, aku pergi dulu. Aku titipkan semua pekerjaanku padamu. Aku harus ke rumah sakit, Vivian demam."
"Baik, Wil. Serahkan semua padaku."
William segera berlari menuju parkiran. Keadaan Vivian, itulah yang ada dalam pikirannya sekarang. Ia melajukan mobilnya menuju Rumah sakit Internasional. Ia menyarankan Vivian dibawa ke sana karena itulah rumah sakit yang paling dekat dengan tempat tinggalnya dan ia mengenal dokter dokter di sana. Kedekatannya dengan Kimberly dan Alan, membuatnya mengenal Dokter dokter yang cukup ahli dan berpengalaman.
Sesampainya ia di Rumah Sakit, ia melihat Alke yang sedang duduk menunggu.
"Sedang diperiksa di dalam, Tuan," jawab Alke.
Seharusnya kamu berada di sini menjaga Vivian, bukan malah keluyuran, bersenang senang dengan laki laki lain. - William mengepalkan tangannya geram.
Dokter akhirnya keluar dari ruangan, wajahnya terlihat tidak baik.
"Bagaimana, Dok?" tanya William khawatir.
"Kami sudah memberi obat penurun demam, dan kami akan mengadakan pemeriksaan lebih lanjut karena demamnya belum turun. Sejak kapan ia mengalami demam?" tanya Dokter Freya, Willian pun melihat ke arah Alke.
"Sejak tadi siang. Saya sudah mengompres dan memberikan obat penurun panas, tapi hingga sore tidak turun juga. Sebenarnya ... Nona kecil sering mengalami demam, hanya saja biasa bisa teratasi dengan cepat," ucap Alke penuh keraguan.
"Sering? Kenapa kamu tidak mengatakannya?" William tiba tiba meninggikan suaranya.
"M-maaf, Tuan. Biasanya demam akan turun ketika saya mengompresnya atau saat saya memberikan obat penurun panas. Baru kali ini yang tidak."
"Baiklah, Tuan William. Kami akan memeriksanya lebih lanjut."
__ADS_1
"Lakukan yang terbaik, Dok," pinta William dan diangguki oleh Dokter Freya. Kemudian ia segera berlalu dari sana.
"Al, kenapa kamu tidak mengatakan padaku?"
"Se-sebenarnya saya sudah mengatakan pada Nyonya. Nyonya selalu bilang tidak apa apa, anak kecil biasa demam dan menyuruh saya untul memberikan obat penurun demam saja. Saya tidak memberitahu Tuan karena memang setelah saya memberikan obat, demam akan hilang," Alke masih menunduk, takut.
"Baiklah, sekarang kamu pulang saja dan minta pada supir untuk mengantarkan pakaian ganti saya kemari."
"Baik, Tuan."
*****
King masih duduk di depan ruang rawat Hanna. Ben masih tidak mengijinkannya masuk, meskipun ia sudah berkali kali meminta.
"Maaf, aku tak akan mengijinkan siapapun masuk sampai aku benar benar mengetahui bagaimana keadaan Hanna yang sebenarnya."
Jawaban itulah yang selalu ia dengar. Rasa ingin tahunya sangat besar. Ia tahu bahwa kejadian ini akan menimbulkan dampak bagi Hanna. Tapi ... kejadian dulu? Apa maksudnya? Itulah yang sedang dipikirkan oleh King.
King mengambil ponselnya, "Max, apa ia sudah ditangkap?"
Sudah, Tuan. Sesuai perintah anda semalam.
"Baiklah, Max. Aku ingin ia mendapatkan hukuman atas perbuatannya."
Baik, Tuan.
King mematikan ponselnya. Ia segera bangkit dari duduknya saat Ben keluar dari ruangan, "Bagaimana Hanna?" tanya King dengan wajah khawatir.
"Kamu masih di sini? Sebaiknya kamu pulang, Hanna belum sadar. Aku tidak tahu apa yang membuatnya terlelap, seperti tak ingin terbangun, padahal menurut Dokter, seharusnya efek obat penenangnya sudah tidak ada."
"Bolehkah aku menanyakan sesuatu?" tanya King.
"Tergantung apa pertanyaanmu, aku akan menjawab yang menurutku bisa kukatakan."
"Tadi anda mengatakan kejadian dulu dan sekarang akan mempengaruhinya. Apa maksud dengan kejadian dulu? Apa Hanna pernah mengalami hal seperti ini juga?"
Ben menatap ke arah King. Apa yang ditanyakan oleh King sepertinya tak bisa ia jawab, karena itu merupakan salah satu rahasia pasien yang harus ia jaga. Terlebih Hanna adalah sepupunya, ia tak ingin ada orang yang mengetahui apa yang dialami Hanna.
"Maaf, untuk hal tersebut saya tidak bisa menjelaskan. Saya seorang Dokter dan hal itu merupakan rahasia pasien. Sebaiknya kamu pulang, tak akan ada gunanya jika kamu berada di sini," Ben yang awalnya ingin keluar untuk sekedar memcari angin, mengurungkan niatnya dan kembali masuk ke dalam kamar rawat Hanna.
Kemana aku harus mencari tahu semuanya? Anthony juga tak mau mengatakan. Hansel? tidak, ia pasti juga akan menyembunyikannya sama seperti Anthony. Apa yang sebenarnya mereka sembunyikan dariku? Siapa? ...
__ADS_1
*****