SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
MENGHAPUS SEMUA


__ADS_3

Terima kasih sudah setia bersama Cherry. Mulai hari ini Cherry akan setia melanjutkan novel "Separuh Jiwaku" ini. Jangan lupa tinggalin like dan komen setiap baca, biar Cherry makin semangattt. Thank you readers.


*****


Kimberly berdiri sendiri menatap ke arah luar jendela, hujan turun sangat lebat malam ini. Kilat dan petir seperti berlomba untuk saling mendahului. Tanpa ia sadari, buliran air mata kini sudah turun dari sudut matanya.


Tuhan, maafkan aku. Aku salah. Maaf karena aku memaksakan kehendakku, memaksakan perasaanku. Aku mencintainya, seharusnya aku bahagia jika melihatnya bahagia. Seharusnya aku tidak memaksakan diri untuk memilikinya. Cinta bukan berarti memiliki, bukan?


Kimberly membiarkan tubuhnya merosot ke lantai, kemudian ia menekuk kedua kakinya dan memeluknya. Ia menenggelamkan wajahnya diantara kedua kakinya.


"Kim ...," ucap King pelan. Ia masuk ke dalam kamar Kimberly perlahan. Sejak tadi ia sudah memperhatikan adik kesayangannya itu, mungkin bahkan sejak ia tahu bahwa Kimberly dijodohkan dengan William. Namun, karena kesibukannya di perusahaannya, ia menjadi lupa bahwa Kimberly sedang sangat membutuhkan perhatiannya.


Tanpa banyak bicara, King langsung merengkuh Kimberly ke dalam pelukannya. Hal itu membuat Kimberly menangis sesengukan, membuat pakaian King menjadi basah.


"Seharusnya kamu tidak bersedih lagi, besok kamu akan menikah dengan laki laki yang kamu cintai kan?"


Kimberly melihat ke atas, ke arah wajah King, "Aku memang akan menikah, tapi mengapa semuanya malah terasa begitu sakit, Kak. Aku ... aku takut keputusanku salah. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Kristy dan Lady, ini bukan novel romantis sepertu yang kubaca, jadi hasilnya tak akan sama."


"Apa kamu akan membatalkan pernikahan ini, Kim?"


"Apa aku bisa, Kak? Seharusnya aku melakukannya sejak dulu, seharusnya aku tak menerima perjodohan ini. Saat ini aku tak bisa membatalkan karena akan mengecewakan Papi, Mami, Aunty, dan juga Uncle," Kimberly menghapus air matanya, ia kini bersandar di dada King.


"Tapi jika kamu meneruskannya, apa kamu akan bahagia? Bukankah Papi dan Mami menginginkan kebahagiaanmu?"


"Mungkin aku sudah tak layak lagi untuk mendapatkan kebahagiaan, Kak. Inilah jalan yang harus kulalui, karena keegoisanku sendiri," Kimberly tersenyum miris.

__ADS_1


"Kakak akan membantumu untuk berbicara dengan Papi dan Mami."


"Jangan, Kak. Aku tidak mau Papi dan Mami bersedih. Ini salahku sejak awal, biarlah aku yang menanggungnya."


"Kim ....," King membawa Kimberly ke dalam pelukannya. Ia juga tidak tahu bagaimana cara membatalkan pernikahan adiknya ini. Seharusnya dari awal ia dengan tegas meminta Kimberly untuk tidak menerimanya, tapi melihat bagaimana adiknya itu begitu mencintai William, ia juga tak sanggup melakukannya.


*****


Prangggg ....


"Wil, apa yang kamu lakukan?" Elena langsung masuk ke dalam kamar William saat mendengar suara barang pecah berkali kali.


Elena langsung membelalakan matanya saat melihat kekacauan yang dibuat oleh William. Kamar pengantin yang sudah didesain oleh seorang desainer interior khusus dan juga hiasan untuk malam pengantin mereka, kini hancur berantakan.


"Mama menyayangimu. Seluruh keluarga menyayangimu, karena itulah Grandpa dan Grandma memilihkan seorang istri yang baik untukmu."


"Tapi Ma, Wil tidak mencintainya. Sejak dulu aku hanya menganggap Kimberly sebagai adik, tidak lebih!"


"Tidak, Wil!! Apa kamu menginginkan wanita lain, huh?! Apa kamu sudah yakin dengan perasaanmu? Mommy tahu kamu mencintai wanita lain, tapi apa wanita itu tulus padamu?"


"Jadi Mommy sudah tahu aku mencintai wanita lain sejak awal, tapi Mommy masih saja memaksaku menikah dengan Kimberly. Aku tidak mau, Mom! Tidak mau!"


Pranggg!!!


Sekali lagi, William membanting sesuatu ke lantai, dan itu adalah foto prewedding antara dirinya dengan Kimberly yang memang sengaja dipasang di kamar tidurnya.

__ADS_1


Michael yang berada di dalam ruang kerja langsung keluar karena mendengar suara barang pecah lagi dan suara Elena yang berteriak.


"Apa ini?!!" Michael mendelikkan matanya marah. Melihat bagaimana kekacauan di dalam kamar William dan istrinya yang kini tengah terduduk di dekat pintu sambil menangis. Michael segera membantu Elena berdiri.


Tanpa mengatakan satu patah kata lagi, Michael membawa Elena pergi dari sana, meninggalkan William sendiri.


*****


Anthony terdiam di dalam kamar tidurnya, mendengar jatuhnya suara hujan di balkon kamarnya. Ia menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur dan memejamkan matanya.


Apa aku harus berhenti sekarang? Apa cintaku harus berhenti saat ini?


Anthony mengambil ponselnya, membuka galeri fotonya. Ia menggeser foto foto tersebut yang didominasi oleh foto kebersamaannya dengan Kimberly.



"Aku mencintaimu, Kim," Anthony mengelus foto kebersamaannya dengan Kimberly, "tapi aku tidak akan memaksamu untuk mencintaiku. Asalkan kamu bahagia, aku akan bahagia."


Anthony merebahkan tubuhnya, namun tetap memegang ponselnya. Ia terus memandangi foto Kimberly.


Izinkan aku memandangmu malam ini, karena esok kamu akan menjadi milik orang lain. Aku ikhlas, asalkan kamu bahagia. Mungkin mulai besok, aku harus dengan perlahan menghapus semua rasa cintaku.


Anthony terus berbicara sendiri dan memandangi foto Kimberly, sampai akhirnya ia tertidur.


*****

__ADS_1


__ADS_2