
"Han, kamu baik baik saja?" tanya Ben yang lamgsung masuk ke dalam kamar tidur Hanna karena mendengar teriakan Hanna. Hanna sudah boleh pulang dari rumah sakit sejak beberapa hari yang lalu.
"Aku tidak apa apa, Kak. Aku hanya bermimpi saja," Hanna mengusap peluh yang ada di keningnya. Ia bermimpi Sam keluar dari penjara dan kini sedang mencari keberadaannya.
"Ini, minumlah dulu," Ben memberikan segelas air kepada Hanna.
"Terima kasih, Kak. Sebaiknya kakak kembali ke kamar kakak. Kak Maria pasti memerlukan kakak."
"Maria sudah tertidur. Kakak justru mengkhawatirkanmu, Han. Begini saja, kamu tidak perlu ke klinik lagi. Kakak yang akan membawakan berkas berkas yang berhubungan dengan keuangan. Kamu bisa mengerjakannya di rumah."
"Baiklah, Kak. Tapi aku tidak apa apa kok jika harus ke klinik."
"Tidak! Untuk sementara ini kamu tidak akan kemana mana. Akan lebih aman jika kamu berada di sini. Besok sore, kita akan melakukan terapi lagi, okay?"
"Baik, Kak."
*****
William benar benar membuat Kimberly jadi merasa tidak nyaman dalam bekerja. Sikap William membuat para pegawai terus memperhatikan dirinya, bahkan menganggap yang tidak tidak tentang dirinya.
"Kim,sebenarnya ada hubungan apa sih antara kamu sama Tuan William?" tanya Anantha.
"Tidak ada, kami hanya bertetangga," jawab Kimberly.
"Kamu ... tetanggaan sama William Smith? Wow! Berarti kalian saling mengenal, pantas saja sikapnya seperti itu. Apa dia menyukaimu, Kim? karena sangat terlihat pada sikapnya padamu."
"Sudah, tha. Jangan dibicarakan lagi. Kita selesaikan semua pekerjaan kita. Aku tidak ingin berlama lama di sini. Aku tak suka tatapan para pegawai di sini padaku."
__ADS_1
"Ya ... ya .... ya, aku mengerti. Mereka hanya iri karena sikap Tuan William padamu."
Kimberly kembali berkonsentrasi pada pekerjaannya. Setiap hari ia harus makan siang dengan William, bahkan belakangan ia juga harus mau diantar pulang, benar benar menyebalkan!
Waktu menunjukkan pukul 5 sore, para pegawai mulai pulang satu persatu. Kali ini, Kimberly harus ikut pulang lagi dengan William, meskipun ia sudah mengatakan bahwa ia harus pergi ke tempat lain ataupun ingin menemui sahabatnya.
"Masuk!" perintah William.
Kimberly pun duduk di kursi belakang, di sebelah William, "Mengapa kamu selalu memaksa? kamu itu bukan siapa siapa, tidak berhak mengaturku."
"Sekarang aku memang bukan siapa siapa, tapi akan aku pastikan kalau aku akan menjadi siapa siapa bagimu nantinya."
Mimpi! - Kimberly.
Dari kejauhan, sepasang mata melihat kebersamaan mereka. Wajah penuh kekesalan dan juga dendam sangat terlihat di matanya. Uang telah membuatnya buta, dan uang juga yang telah membuatnya sengsara.
Kini, Viera harus hidup di sebuah kamar kontrakan kecil dan kotor. Melihat William yang telah menjadi CEO kantor pusat Smith, semakin membuatnya geram.
"Dasar sialan kalian semua keluarga Smith. Kalian sengaja melakukan semua ini, kalian memang berniat membuangku. Kalian berpikir bahwa wanita sialann itu bisa menggantikanku? Kalian bercanda ...," ucap Viera pelan namun penuh tekanan.
*****
"Sepertinya jalanmu untuk mendapatkan Kimberly cukup sulit, bro!" ucap Jeremy. Saat ini mereka sedang berada di sebuah ruangan VIP di sebuah club.
"Aku tak percaya cintanya padaku lenyap begitu saja. Sepertinya ia ingin sedikit bermain tarik ulur denganku. Mungkin dia melihat bagaimana kegigihanku untuk mendapatkannya," William menenggak segelas minuman yang ada di dalam gelas.
"Tapi itu bisa saja terjadi. Kamu tidak tahu bagaimana hatinya saat ini. Apalagi setahuku, ia selalu bersama dengan seorang pria. Mereka terlihat begitu dekat."
__ADS_1
"Pria itu adalah kakak kelas kami saat kuliah dulu. Ia adalah sahabat Kak King. Sudah dipastikan bahwa ia menjaga Kim seperti seorang kakak."
"Bisa saja tumbuh benih benih cinta di antara mereka," Jeremy terus memanas manasi William.
"Tenang saja, aku tak akan membiarkannya. Jika dengan cara lembut, Kimberly tak bisa kembali padaku. Maka aku akan menggunakan cara kasar. Mau tidak mau, ia akan menjadi milikku."
"Bolehkah aku bertanya satu hal, Wil?"
"Tentu saja."
"Apakah kamu mencintai Kimberly?"
"A-aku ... aku harus membuat Mommyku bahagia sekarang, Jer. Cinta itu akan datang dengan sendirinya bukan? Dulu dia mencintaiku, sekarangnpun pasti akan seperti itu. Kamu tidak perlu menanyakan hal tersebut, aku bisa belajar mencintainya asalkan ia bisa menyayangi keluargaku," jawab William, membuat Jeremy menghela nafasnya pelan.
Kamu tidak akan pernah bisa mencintainya, Wil. Kamu hanya terobsesi saat ini. Kamu menginginkannya karena ia tidak lagi mencintaimu. Kamu merasa kehilangan perhatiannya. Aku harap kamu segera menyadari kesalahanmu kali ini juga. Jangan menyakiti Kimberly lagi, demi dirimu sekali lagi. - Jeremy.
*****
Dear readers,
Kalau sudah baca 'Separuh Jiwaku' , bisa mampir di novel terbaru Cherry yang judulnya di bawah ini. Mohon dukungannya ya.
Luph u all readers,
PimCherry
__ADS_1