SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
APA KAMU MENYUKAI ADIKKU?


__ADS_3

Dua kali Viera menusukkan pisau yang berkilat dan tajam tersebut, sebelum akhirnya pisau itu terjatuh berdenting di lantai dengan penuh darah. Viera menusukkan pisau tersebut dengan menutup matanya, jujur sebenarnya ia sedikit merasa takut karena ini pertama kalinya ia melakukan hal ini.


"Kakk ...."


"Kamu tidak apa apa Kim?"


"A-aku tidak apa apa," buliran air mata jatuh dari sudut matanya.


"An!" teriak Hansel sambil berlari mendekat.


"Tangkap wanita itu!" teriak King pada security yang datang memasuki ruangan, sementara William hanya diam terpaku di atas panggung. Para security memegang Viera yang terus berteriak. Mereka segera membawanya ke luar dan membawa barang buktinya.


"Kamu tidak apa apa, sayang?" tanya Alan dan Megan.


"Aku tidak apa apa Mi, Pi. Kak, cepat bawa Kak Lee ke rumah sakit, cepattt!!!" teriak Kimberly sambil terus menangis.


"Aku tidak apa apa, Kim," Anthony meringis memegang lukanya yang masih mengeluarkan darah. Hansel dan King langsung membawa Anthony keluar dari ruangan tersebut, menuju ke rumah sakit.


Kimberly yang baru saja melangkahkan kaki untuk mengikuti Kakaknya, tiba tiba berhenti saat William kembali membuka suaranya, "Kim, naiklah. Acara kita belum selesai."


"Lakukan saja semua semaumu!!" Kimberly pun akhirnya berbicara, dan tetap melanjutkan langkahnya bersama dengan Alan dan Megan.


*****


"Apa benar, sayang?" tanya Elena setelah acara selesai.


"Apa Mommy bahagia?" tanya William.


"Jika itu benar, tentu saja Mommy akan bahagia. Mommy sudah menginginkannya sejak dulu."


"Aku senang Mommy bahagia. Maafkan William yang belum bisa membuat Mommy bahagia. Maafkan William karena tidak mendengarkan perkataan Mommy."


"Ada apa sebenarnya denganmu? kenapa jadi melow begini? seharusnya kamu juga bahagia seperti Mommy."


"Tentu saja aku bahagia, Mom. Hanya saja kejadian hari ini jadi mengingatkan diriku, betapa bodohnya aku," ucap William sambil menundukkan kepalanya.


"Tenanglah, sayang. Mommy tidak akan pernah membiarkan siapapun mengganggu calon menantu Mommy, apalagi sampai menyakitinya. Mommy akan memastikan wanita itu mendekam di penjara dalam waktu yang lama."


"Aku akan pergi dulu, Mom."


"Tidak. Malam ini istirahatlah, besok pagi baru kamu pergi. Mommy tahu, kamu pasti ingin mengunjungi pria muda yang menolong Kimberly tadi kan. Kamu pasti sangat berhutang budi padanya karena telah melindungi calon istrimu," Elena mengusap punggung William.


"Baiklah, Mom. Kalau begitu aku ke kamar dulu ya. Aku ingin membersihkan diri."

__ADS_1


"Baiklah, istirahatlah," William pun bangkit dan masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam kamar mandi, ia berdiri di bawah pancuran shower, memikirkan apa yang telah ia lakukan hari ini. Apakah ini sudah benar?


*****


Kimberly duduk di sebelah brankar yang ditempati oleh Anthony. Ia terus merasa bersalah telah membuat Anthony terluka.


"Kim, pulanglah. Aku yang akan menjaganya," ucap Hansel.


"Tidak. Aku akan di sini menjaganya."


"Tapi Kim ...," ucap King terpotong.


"Kakak bawa Papi dan Mami pulang. Besok pagi, tolong bawakan aku pakaian ganti. Aku akan menjaga Kak Lee malam ini."


King menghela nafasnya pelan, ia tidak mungkin melarang Kimberly. Ia tahu Kimberly pasti sangat merasa bersalah dan berhutang nyawa pada Anthony.


"Baiklah, kakak akan segera kembali membawakan pakaianmu, tidak perlu menunggu besok pagi. Kakak pulang dulu."


Hansel berdiri diam kemudian kembali berbicara, "Aku akan pergi sebentar ke kantor polisi, Kim. Aku titip Anthony ya."


"Iya, Kak," ucap Kimberly sambil mengangguk.


"Terima kasih, Kak. Seharusnya kakak tidak usah menolongku. Aku tidak suka kakak terluka seperti ini," ucap Kimberly sambil mengusap air matanya. Ia terus berbicara sendiri hingga akhirnya terlelap. Bahkan saat King datang kembali mengantarkan pakaian ganti, Kimberly tak menyadarinya. King pun menggendong adiknya itu dan merebahkannya di atas sofa.


*****


"Lepaskan aku!! dasar sialannn!!"


"Apa kamu tidak bisa tenang sedikit, Nyonya?!"


"Seharusnya kalian itu menangkap wanita ****** itu! Dialah yang salah, dia telah merebut suamiku!!" teriak Viera.


Tannggg .... tranng ... tanggg


Seorang polisi memukul besi sel, tempat Viera ditempatkan, "Sekali lagi kamu berteriak, aku akan merobek mulutmu itu!"


Pada akhirnya Viera diam, ia duduk di atas selembar tikar yang ada di dalam sel tersebut. Ia duduk sambil menekuk kedua kakinya hingga ke dada, dan memeluknya dengan tangannya. Ia terus bergumam sendiri, menyalahkan keluarga Smith dan juga Kimberly atas semua hal yang terjadi padanya.


Hansel datang ke kantor polisi, memberikan keterangan dan memberikan bukti rekaman CCTV yang ia minta dari manajemen gedung serbaguna tersebut. Ia tak akan membiarkan siapapun yang telah melukai sahabatnya.


"Apa kamu sudah puas?" tanya Hansel yang berdiri di depan sel tersebut.

__ADS_1


"Sialannn!! siapa kamu?"


"Kamu tidak perlu tahu siapa aku, tapi aku akan pastikan kamu akan mendekam di dalam penjara karena semua ini."


"Oooo, kamu pasti pesuruh wanita ****** itu ya?" ucap Viera sambil tertawa, "Seharusnya aku menusuknya lebih cepat, tepat di jantungnya. Pasti dia akan langsung mati kan?!"


"Tidak usah banyak bicara, persiapkan saja dirimu untuk mendekam lama di dalam penjara. Tuduhan perencanaan pembunuhan pasti pas untukmu, apalagi bukti bukti telah mengarah padamu. Aku pun bisa mendatangkan seluruh tamu sebagai saksi untuk memberatkan dirimu, mengerti kamu!" teriak Hansel geram.


"Terserah! Tapi aku pasti akan membalas semua sakitku ini pada kalian semua. Kalian hanya perlu menunggu waktu," Viera kembali tertawa di dalam sel nya.


Dasar wanita jahat, tidak tahu diri! - Hansel.


*****


Anthony mulai mengerjapkan matanya, ia memegang bagian tubuhnya yang terasa sakit saat ia hendak duduk.


"Tunggu ... aku akan membantumu," ucap King yang berada di sebelah Anthony.


"Terima kasih. Apa Kim baik baik saja?"


"Ia baik baik saja. Kamu seharusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri," King menggelengkan kepalanya.


"Dia sedang istirahat," King mengarahkan pandangannya ke arah sofa di mana Kimberly masih tertidur.


"Terima kasih. Kamu sudah melindungi Kim. Aku berada di dekatnya tapi aku hanya terdiam menyaksikan itu," King merasa menyesal dan ikut merasa bersalah.


"Jangan bicara seperti itu. Aku melihatnya, maka aku harus melakukan sesuatu. Aku tak akan membiarkan Kimberly terluka."


"Apa aku boleh menanyakan sesuatu?" tanya King.


"Katakanlah."


"Apa kamu menyukai adikku, Kimberly?"


*****


Terima kasih readers semua udah nyempetin baca novel ini. Maapken ya belakangan ini Cherry cuma bisa up 1 bab, maklum lagi ada kegiatan di RL yang nggak bisa ditinggal. Tapi Cherry selalu usahain up 1 bab setiap hari.


Tinggalin like dan komen ya, biar Cherry makin semangat. Terima kasih!


Luph,


PimCherry

__ADS_1


__ADS_2