
Anthony langsung masuk ke dalam rumah Hanna. Ia melihat pintu pagar terbuka dan terdengar suara teriakan dari dalam. Tanpa pikir panjang, Anthony segera masuk mencari asal suara. Matanya langsung membulat sempurna saat melihat apa yang sedang terjadi.
Brughhh!!!
Anthony langsung memukul Sam dengan membabi buta, dan Sam juga membalas pukulan itu. Tahu bahwa ia tak akan menang dari Anthony, ia segera pergi melarikan diri. Ponselnya pun sudah berbunyi sejak tadi, itu adalah tanda dari Fika agar Sam segera keluar dari rumah. Ia pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan bergerak sedikit menjauh.
"Wow, wajahmu," celetuk Fika.
"Sialannn!!! Lihat saja nanti aku pasti akan membalasnya," ucap Sam.
"Kenapa kamu menyuruhku keluar, aku belum selesai."
"Apa kamu mau hancur di dalam, hah?! Tenang, aku sudah memikirkan ini. Lihat itu," Fika menunjuk ke arah sebuah mobil yang kini terparkir di depan pintu rumah Hanna.
"I-itu mobil ..."
"Hmmm, mobil King. Kini kamu tahu kan rencanaku yang sebenarnya."
King yang masuk ke dalam kamar Hanna langsung kaget melihat apa yang ada di depannya. Ia melihat Anthony sedang memeluk Hanna yang hanya ditutupi oleh selimut. Penampilan mereka berdua berantakan, kemeja Anthony sudah sedikit terbuka karena beberapa kancing yang lepas dan penampilan Hanna dengan rambut yang berantakan.
"Kalian?"
Brughhh!!!
Tanpa bertanya, King langsung memukul wajah Anthony. Sudah seperti itu, King selalu mengedepankan emosinya, tanpa bertanya lebih dahulu. Ia mempercayai apa yang ia lihat dan ia tidak ingin mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Hanna maupun Anthony.
"Dasar pengkhianaatt!! Kalian berselingkuh di belakangku. Aku tak menyangka kamu melakukan ini, An. Apa kamu tidak menganggapku sahabatmu? dan kamu wanita murahan!! Apa karena aku tidak pernah menyentuhmu, maka kamu mencari dari laki laki lain?" King pun langsung beranjak pergi meninggalkan Anthony dan Hanna. Hanna ingin menjelaskan semuanya tapi melihat bagaimana King emosi, ia langsung mengatupkan mulutnya.
"Ayo Han, berpakaianlah. Kita ke rumah sakit. Kamu harus diobati," Hanna pun menganggukkan kepalanya. Anthony keluar dan membiarkan Hanna sendiri.
* Flashback off *
Hanna langsung mengedarkan pandangannya, tak ada siapapun. Ia mencabut jarum infus yang menancap di punggung tangannya dan dengan perlahan ia menuju pintu.
*****
1 minggu kemudian,
Sam yang tak menemukan Hanna di rumah sakit sekembalinya ia dari meeting pun menjadi gusar. Ia merasa tak konsentrasi menjalankan pekerjaan apapun.
Kamu di mana, Han? Aku pasti akan kembali ke sana untuk mencarimu.
Sementara itu di kediaman Smith,
"Kamu mau pergi ke mana?" tanya William yang hari itu sengaja pulang siang karena sedang suntuk.
__ADS_1
"Aku mau bertemu dengan Siska. Dia sedang butuh teman curhat," jawab Viera sambil memperhatikan wajahnya di cermin.
"Tak bisakah kamu tidak keluar hari ini? Aku membutuhkanmu. Aku sedang bosan dan lelah."
"Aku sudah berjanji pada Siska. Lagipula dia sangat membutuhkan teman curhat."
"Tapi aku juga membutuhkanmu, honey."
"Aku akan segera kembali setelah bertemu dengannya," Viera merapikan riasannya dan beberapa kali tersenyum di depan cermin. Ia pun segera mengambil tas tangannya kemudian keluar dari kamar, meninggalkan William seorang diri.
Viera mengendarai mobilnya menuju sebuah cafe yang merupakan tempat perjanjiannya dengan Siska. Ia masuk ke dalam cafe dan langsung menuju ruang VIP.
"Permisi," sapa Viera saat ia membuka pintu.
"Vi, kamu sudah datang. Ayo ayo masuk," Siska langsung berdiri dan menghampiri Viera.
Dalam ruangan tersebut, terlihat seorang laki laki paruh baya, berusia sekitar 50 tahun dengan rambut yang sedikit memutih.
"Tuan Harry, kenalkan ini adalah Viera, sahabatku," Viera menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Harry.
"Kamu cantik sekali, Nona Viera," Harry langsung menggenggam tangan Viera dan mencium punggung tangannya.
Mereka pun duduk berhadapan saat ini, "Vi, kamu masih ingat yang waktu itu kuceritakan padamu kan? Itu adalah Tuan Harry. Apa kamu masih berminat?"
Ia tidak terlalu buruk, tapi sudah tua. Tapi aku juga membutuhkan uangnya, apalagi sekarang sulit sekali meminta uang dari William.
"Aku akan menambahkan jadi 70 juta semalam, asalkan kamu selalu mau menemaniku."
"Baiklah, aku setuju," ucap Viera setelah mendengar nilai yang bertambah cukup banyak.
"Aku menginap di sini. Temui aku besok jam 4 sore," Harry memberikan sebuah kartu nama sebuah hotel, dan ia sudah menuliskan nomor kamarnya di sana.
"Baik, Tuan."
"Jangan panggil aku tuan. Panggil Harry saja, terkesan lebih dekat. Boleh aku minta nomor ponselmu?" tanya Harry sambil menyodorkan ponselnya.
"Sudah," Viera mengembalikan ponsel Harry setelah mengetikkan nomornya di sana.
"Baiklah, sampai bertemu besok, nona Viera."
"Baik, Harry," Harry tersenyum mendengar Viera menyebut namanya tanpa embel embel tuan.
"Aku tak menyangka kamu akan menerimanya, Vi," ucap Siska setelah kepergian Harry.
"Sebenarnya aku juga tidak terlalu mau, tapi kamu bisa bayangkan uang yang akan aku dapatkan?"
__ADS_1
"Benar, semalam 70 juta. Oya, ia tadi bilang jika kamu mau ikut pergi dinas dengannya, maka ia akan membayarmu 100 juta."
"Benarkah, Sis? Ya ampun, kalau tahu begini, sejak dulu saja. Daripada aku harus terbelenggu dengan suami san anak yang makin hari makin menyusahkan saja. Apalagi mertua yang kerjaannya cuma mencari cari kesalahanku."
"Sudahlah, ayo kita pesan makanan. Tuan Harry sudah meminta pelayan melayani kita, ini adalah cafe miliknya."
"Wow..."
*****
"Dari mana kamu?"
"Sudah kukatakan aku bertemu dengan Siska."
"Tapi ini sudah malam, dan kamu baru pulang."
"Kamu kenapa sih? Belakangan ini sepertinya selalu saja mencari cari kesalahanku. Dulu aku pergi tiap hari juga tidak masalah," gerutu Viera.
"Sekarang ini kamu sudah memiliki anak, kamu harus lebih memperhatikannya."
"Anak, anak, anak terus! Jadi semua ini karena anak? Kalau begitu lebih baik aku tidak usah punya anak, merepotkan saja!"
Deghhh ...
"Jaga bicaramu, honey!"
Brakkk!!!
Viera langsung membanting pintu kamar mandi di hadapan William, sementara ia menghela nafas panjang.
Di dalam kamar mandi, Viera terus mengumpat di depan cermin, menuangkan semua rasa kesalnya, "Argghhh!!!"
*****
Pagi ini Hanna bangun seperti biasa. Sudah seminggu ini ia kembali bermimpi seperti dulu. Ketakutan selalu menderanya setiap malam, bayangan kejadian itu kembali lagi sejak ia bertemu dengan Sam.
Ia segera pergi membersihkan diri dan bersiap untuk membuka toko serta kedai makan miliknya.
"Kakak!!" teriakan Kinan sudah menyapanya pagi ini. Rumah Kinan memang tidak terlalu jauh.
"Pagi, Kinan," sapa Hanna sembari tersenyum.
"Aku masuk dulu ya, Kak," Kinan langsung masuk ke dalam kedai makan untuk mulai membersihkan meja dan menyapu lantai. Mereka selalu mengedepankan kebersihan untuk kedai makan mereka.
Baru saja Hanna berbalik badan, terdengar suara yang memanggil namanya, "Han ..."
__ADS_1