
Meskipun Vivian bukan putri kandungnya, William masih dengan setia selalu datang dan menemani putrinya itu. Rasa sayang William sudah ada sejak sebelum Vivian dilahirkan dan tidak semudah itu menghapusnya. Saat pertama kali ia menggendong Vivian di tangannya, dan memberikan kecupan pertama di kening putri kecilnya itu.
William selalu menyempatkan diri mengunjungi putrinya di sela sela kesibukannya. Putrinya yang kini terbaring lemah, demam masih kadang timbul, membuat William ragu untuk membawanya pulang. Hari semakin siang, ia keluar dari ruangan dan ingin mencari makan siang. Namun, matanya menangkap sosok Kimberly yang sedang menyusuri koridor rumah sakit.
"Kim?" William perlahan berjalan mendekat. Ia ingin tahu kemana Kimberly pergi. Kimberly berjalan bersama seorang laki laki yang menggandeng tangannya, membuat William semakin ingin tahu. William melihat Kimberly masuk ke dalam suatu ruangan praktek Dokter Frank Benjamin.
Ponsel William bergetar di dalam sakunya,
"Halo."
" .... "
Mendengar itu, William menghela nafasnya berat, kemudian menutup sambungan ponselnya.
Kenapa dia harus kembali sekarang? Aku belum selesai dengan semuanya. - William.
*****
"Selamat siang, Nyonya," sapa Alke yang sedang membereskan ruang tamu. Sejak Vivian berada di rumah sakit, Alke tidak diizinkan ke rumah sakit. William meminta salah seorang perawat untuk menjaga Vivian.
Tanpa melihat ataupun menjawab sapaan Alke, Viera langsung menaiki tangga dan membiarkan kopernya berada di lantai bawah. Alke yang tak ingin dimarahi pun langsung membawa koper tersebut mengikuti Nyonya itu.
"Ini kopernya, Nyonya. Saya permisi," Alke berbalik dan ingin pergi.
"Sebentar."
"Iya, Nyonya."
"Di mana Tuan?" tanya Viera.
"T-tuan sedang berada di rumah sakit, Nyonya."
"Di rumah sakit? memangnya siapa yang sakit?"
"Ehmmm ... Nona kecil, Nyonya."
"Oooo Vivian ... pasti itu karena kamu tidak becus menjaganya," ucap Viera dengan pedasnya. Alke tidak menjawab ataupun membantah.
__ADS_1
"Sudah, sudah sana. Aku mau istirahat. Ingat! Jangan ada yang menggangguku."
"Iya, Nyonya."
Alke berlalu meninggalkan Viera yang langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Viera merasa begitu senang karena selain ia sudah berkeliling Eropa, isi rekeningnya juga sudah dipastikan akan membesar. Harry berjanji akan mentransfer semuanya besok, Viera tersenyum sendiri karena ia sudah tidak sabar untuk kembali bersenang senang bersama teman temannya.
*****
Anthony membuka sedikit dan pelan pintu ruang rawat Hanna, ia melihat di dalam King sedang duduk di samping tempat tidur. Ia tidak dapat mendengar apa yang sedang King katakan. Ia kembali menutup pintu.
"Kita pulang saja, Kim," ajak Anthony.
"Kita tidak jadi menemui Kak Hanna?"
"Hanna belum sadar dan ia sedang ada tamu, sebaiknya kita menemuinya lain kali saja."
"Tapi ... "
"Bagaimana kalau kita makan es krim, hmm?"
"Ahhh kakak mah selaluuu ... menggodaku, tapi aku mauuu," Kimberly langsung mengalungkan tangannya ke lengan Anthony.
Melihat siapa yang menariknya, mata Kimberly langsung membulat, Anthony pun langsung mendekat.
"Maaf, bisakah aku bicara berdua dengan Kimberly, sebentar saja?" pinta William.
"Aku tidak mau, Kak," Kimberly berusaha bersembunyi di balik tubuh Anthony.
"Kim! Aku ingin bicara, sebentar saja ... beri aku 5 menit."
"Apa kamu tidak dengar? ia tidak mau. Lagipula, kenapa kamu harus menariknya seperti itu? Apa tidak bisa berbicara baik baik?" ucap Anthony.
"Aku tidak ada urusan denganmu. Aku hanya ingin bicara pada Kimberly."
"Ayo, Kak. Kita pulang saja," ajak Kimberly sambil menarik lengan kemeja Anthony.
"Kim, aku mohon. Bicaralah denganku sebentar, demi Mommyku."
__ADS_1
Mendengar Anthony menyebut Aunty Elena, membuat Kimberly berpikir. Ia tidak membenci Aunty Elena dan Uncle Michael, bahkan ia sebenarnya ingin bertemu dengan mereka berdua dan mengatakan bahwa ia baik baik saja.
"Bicaralah kalau begitu, 5 menit," ucap Kimberly.
"Apa kita tidak bisa bicara berdua?"
"Tidak, Kak Lee bukan orang luar. Ia sahabatku, dan sudah seperti kakakku. Jadi cepat katakanlah."
Dengan sedikit ragu karena di sana ada Anthony, akhirnya William berbicara, "Kim ... aku mau minta maaf atas semuanya. Tapi ... sedari awal kamu sudah tahu kalau aku memang tidak menyetujui tentang perjodohan kita. Aku menyesal, seharusnya aku mengikuti semua keinginan orang tuaku dan tidak membuat mereka bersedih. Kim, apakah kita bisa bersahabat seperti dulu lagi? Aku benar benar merindukan kebersamaan kita."
Kimberly menghela nafasnya pelan, "Kamu tidak perlu memikirkan tentang semua itu lagi, bahkan aku sudah melupakannya. Aku memaafkanmu, karena memang itu bukan 100% kesalahanmu. Tapi untuk kembali bersahabat, aku belum bisa memikirkannya. Aku tidak mau istrimu berpikiran buruk tentangku lagi jika aku berada di dekatmu. Sudah 5 menit, aku permisi."
"Tapi aku akan bercerai, Kim," ucap William dengan tegas saat Kimberly melangkahkan kakinya, membuat Kimberly berhenti sesaat.
"Itu bukan urusanku, permisi," Kimberly pun menarik tangan Anthony dan meninggalkan William.
Aku tahu kamu masih mencintaiku, Kim. Karena itulah kamu selalu berusaha menghindar dariku. - William.
*****
Viera bangun dari tidurnya yang panjang, ia benar benar kelelahan dengan perjalanannya. Selain menemani Harry liburan, bertemu dengan rekan bisnis, ia juga harus melayani Harry setiap malam di atas tempat tidur.
Viera meraba samping tempat tidurnya, kosong.
"Apa dia tidak pulang semalam?" gumam Viera.
Viera turun dari tempat tidur, memakai kimono tidurnya yang terbuat dari bahan satin, sama dengan lingerie yang ia kenakan. Tanpa membersihkan diri, ia turun ke bawah.
Prokkk ... prokkk ... prokk .... (hayo jadi apa? 😆)
William menepuk kedua tangannya, "Hebatnya Nyonya besar yang habis pergi liburan bersama kekasihnya!"
Tanpa merasa bersalah, Viera turun dan berjalan mendekati William, "Apa aku tidak boleh berlibur? Aku bosan harus terkurung di rumah ini ... dan kapan kamu bisa menemaniku berlibur? tidak pernah! Kamu hanya memikirkan perusahaan kecilmu itu yang sebentar lagi bangkrut. Anak seorang Smith tapi hidup seperti gelandangan!"
"Bukankah kamu yang ingin menjadi istri seorang Smith?" William melipat kedua tangannya di depan dada.
"Hidup bersama seorang Smith ternyata tak seperti apa yang kubayangkan, menyedihkan!"
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu kamu akan dengan mudah menandatangani surat ini," Willian menghempaskan sebuah map ke atas meja.
Viera mengambil surat tersebut, kemudian membacanya, "CERAI?!"