
Keesokan harinya, Kimberly tidak diizinkan untuk bekerja. Hal itu karena besok ia akan melangsungkan pernikahannya dengan William. Semalam, saat cara makan malam bersama, William sudah mengatakan bahwa ia mengharuskan Kimberly untuk berhenti dari pekerjaannya di Megatech. Jika memang Kimberly ingin bekerja, maka haruslah bekerja di perusahaannya. Hal itu dilakukan agar William bisa menjaga dan mengawasinya.
Kimberly masih diam di atas tempat tidur. Hari ini ia ada jadwal pemotretan untuk foto prewedding. Keinginannya untuk membatalkan pernikahannya, terpaksa ia tangguhkan saat semalam William kembali memberikannya ancaman.
"Apa kamu ingin melihat Papimu ditendang keluar dari rumah sakit? Kamu tinggal pilih mau skandal korupsi atau malapraktek? Atau kehancuran toko kue Mamimu?"
Ia terpaksa mengatakan pada Maminya untuk tidak melanjutkan apa yang ia inginkan tadi siang saat mereka berbicara di rumah. Meskipun Megan belum mengetahui apa alasan Kimberly, tapi ia mengikuti keinginan putrinya itu.
Suara ponsel Kimberly terdengar dari atas nakas,
"Kak Lee!"
Kim! Maafkan aku karena pergi tanpa pamit padamu. Ada hal yang harus kulakukan.
"Tidak apa apa, Kak. Aku mengerti. Bagaimana keadaan Uncle?"
Aku sedang dalam perjalanan ke sana, Kim. Aku meneleponmu dulu saat landing. Kuharap kamu baik baik saja.
"Aku akan baik baik saja, Kak. Tidak perlu khawatir. Jika memang ini jalanku, bukankah aku harus melaluinya. Aku wanita yang kuat kan, Kak?"
Iya, Kim. Kamu adalah wanita yang kuat. Ingatlah bahwa aku akan selalu bersamamu. Jika ia melakukan hal buruk padamu, jangan sungkan untul mengatakan padaku. Aku akan menghabisinya!
Kimberly tersenyum, melihat wajah Anthony yang tiba tiba berubah menyeramkan saat mengatakannya. Tapi ia suka saat melihat Anthony begitu mengkhawatirkannya.
Baiklah, Kim. Aku harus pergi dulu. Nanti aku akan menghubungimu lagi. Aku menyayangimu!
Sambungan pun terputus.
__ADS_1
"Aku juga menyayangimu, Kak," ucap Kimberly saat sambungan terputus, namun ponsel tersebut masih ada di telinganya.
*****
Hari pernikahan tiba, keluarga Smith dan keluarga Harisson begitu sibuk. Sementara itu King justru masih berada dalam ruang kerja yang bersebelahan dengan kamar tidurnya. Ia memandangi semua hasil kerja Max, dan tersenyum.
"Apa kamu bisa membawa wanita itu ke sana, Max?"
"Tentu saja, Tuan."
"Tapi ... wanita ini terlihat seperti wanita baik baik."
"Ya, ia seorang gadis yatim piatu. Ia bekerja di bar tersebut pada malam hari dan bekerja di sebuah cafe pada siang hari. Ia harus merawat neneknya yang kini tengah sakit."
"Kasihan sekali ia harus mengalami hal ini. Apa kamu tahu persis bagaimana kejadiannya, Max?" tanya King.
"Sebenarnya bukan dia yang harus mengalaminya, mungkin bisa dikatakan kalau ia sedang mengalami kesialan hari itu, hingga harus menjadi pemuas nafsu seorang William Smith."
"Tuan William Smith dijebak oleh seseorang, dalam minumannya dimasukkan obat perangsang dosis tinggi. Sebelum orang yang menjebaknya datang, William sudah menyeret seorang pelayan bar untuk membantunya."
"Siapa orang yang menjebaknya?"
"Siska, Siska Luther. Ia adalah sahabat mantan istri Tuan William, Viera."
"Tapi dalam informasi yang kamu berikan, belakangan ia juga sering keluar masuk bar dan terlihat bersama wanita."
"Ya, Tuan. Sepertinya Tuan William belakangan ini suka mabuk mabukan dan menyalurkan hasratnya pada wanita wanita yang ia temui di sana."
__ADS_1
"Sialannn!! Bocah tengik itu masih saja bermain main di luar sana, meskipun ia mengejar Kimberly."
"Baiklah, Max. Siapkan wanita itu. Tapi, aku ingin kamu juga menjaganya, jangan sampai William berbuat macam macam padanya," lanjut King sebelum keluar dari ruangannya.
"Baik, Tuan," Max pun mengikuti King keluar dari ruangan.
*****
Sebuah ruangan telah dihias dengan indahnya, bahkan kesan mewah dan elegan begitu terasa. Michael dan Elena benar benar mau membuat pesta pernikahan yang spesial dan istimewa bagi William dan Kimberly.
Acara kali ini akan dilakukan dalam 1 ruangan, baik pengucapan janji pernikahan, maupun resepsi.
"Kak, apa yang harus kulakukan? Aku tak mau menikah dengannya," Kimberly meremas kedua tangannya. Saat ini ia sedang di rias dengan sangat elegan.
"Berhenti," perintah King pada seorang MUA yang sedang merias Kimberly. Kimberly pun menoleh melihat ke arah kakaknya.
"Ada apa, Kak?"
"Kemarilah, Kim. Bukankah kamu tidak ingin menikah?"
"Apa kakak akan membawaku kabur?" tanya Kimberly dengan mata bercahaya.
"Tentu saja tidak," King malah tertawa.
"Lalu? acaranya akan dimulai sejam lagi kak."
"Tenanglah, akan ada yang menggantikanmu."
__ADS_1
"Menggantikanku? benarkah? kakak tidak bohong kan?" Kimberly langsung memeluk King setelah melihat kakaknya itu menggelengkan kepalanya. Kimberly begitu senang seperti mendapatkan es krim beserta pabrik pabriknya.
"Max! bawa dia masuk," perintah King.