
Pagi menjelang, Kimberly akhirnya terbangun. Ia melihat ke sekeliling dan matanya membulat saat menyadari bahwa Anthony tengah duduk di atas tempat tidur dan memandanginya.
"Kakak sudah sadar? Maaf aku tertidur. Apa kakak mau makan ... atau minum sesuatu?" tanya Kimberly sambil berjalan mendekat.
"Tidak, Kim. Aku tidak ingin apa apa."
"Aku panggilkan dokter dulu ya untuk memeriksa Kak Lee."
"Tidak perlu, King sudah melakukannya tadi."
"Kak King ada di sini? mana? Kenapa dia tidak membangunkanku?"
"Ia sedang membeli sarapan. Aku yang melarangnya membangunkanmu."
"Kak, maafkan aku. Kakak terluka karena aku."
"Sudah, Kim. Ini bukan kesalahanmu. Tidak masalah aku terluka, asal dirimu baik baik saja."
"Ahhh, kenapa Kak Lee begitu baik padaku? Bagaimana caraku membalasnya?"
Karena aku menyayangimu ... dan mencintaimu, Kim.
"Kamu ingin membalasnya? Kalau begitu hiduplah dengan bahagia dan biarlah senyum terus ada di wajahmu itu."
"Ah Kak Lee ... kalau aku senyum terus, nanti gigiku kering. Belum lagi disangka nggak waras," Kimberly mengerucutkan bibirnya, membuat Anthony tertawa.
"Aduh ... aduh ...," Anthony memegang bagian tubuhnya yang terkena tusukan.
"Tuh kan! makanya jangan ketawa terus."
"Habis kamu lucu sekali," Anthony mengusap pucuk kepala Kimberly.
Tak berselang lama, King datang membawakan sarapan untuk mereka.
"Kamu sudah bangun, Kim? Kenapa kamu tidak mengganti pakaianmu?" tanya King sambil meletakkan sarapan untuk mereka di atas meja.
"Ya ampun, aku lupa," Kimberly menepuk dahinya, kemudian langsung menyambar paperbag yang berisi pakaian gantinya dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Apa kamu tidak ingin mengatakan perasaanmu padanya?" tanya King.
Anthony menggelengkan kepalanya, "Aku tidak ingin hubunganku sebagai sahabatnya rusak jika ia mengetahuu perasaanku. Biarlah seperti ini, setidaknya aku masih bisa berada di dekatnya dan menjaganya."
__ADS_1
"Terima kasih karena kamu begitu menghargai perasaannya. Aku benar benar memberi restu jika ia juga memiliki perasaan yang sama denganmu."
Anthony tersenyum kecil, "Tapi kamu bukan melakukan ini karena ingin memintaku berbicara dengan Hanna kan?"
King yang salah tingkah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Mengapa kamu selalu tahu apa yang ingin kuminta?"
"Karena aku mengenalmu. Kita adalah sahabat, atau kamu tidak menganggapku lagi, hmm?"
"Tidak, kamu memang bukan sahabatku ... tapi kamu adalah saudaraku. Kamu telah menyelamatkan Kimberly, aku berhutang padamu."
"Kakak dan adik sama saja," gumam Anthony yang masih bisa didengar oleh King.
"Wah ... sepertinya ada yang mulai menolak restuku," goda King sambil menuju ke arah meja.
"Restu apa, Kak?" tanya Kimberly yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ooohhh tidak, tidak. Aku hanya sedang memikirkan kejadian semalam. Apa kamu benar benar menyukai William, Kim?" tanya King dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu.
"Tentu saja dia menyukaiku. Kami akan segera menikah, bukan begitu, Kim?" ucap William yang masuk ke dalam kamar rawat Anthony bersama dengan Arman.
Kimberly mendekatkan diri pada William, "Kamu narsis sekali, Tuan William. Apa kamu tidak melihat di sana ada orang yang sedang terluka karena perbuatan istrimu itu? Dan dengan pede nya kamu mengatakan kita akan menikah. Berkacalah dulu sebelum mengatakannya, jangan merasa dirimu pantas mendapatkan cintaku."
"Aku akan pastikan kamu menikah denganku, Kim. Bahkan secepatnya," bisik William di telinga Kimberly.
William menarik tangan Kimberly dan membawanya keluar dari ruangan. King ingin mencegahnya, tapi dihalangi oleh Arman, "Biarkan Tuan William berbicara sebentar dengan Nona Kimberly."
Di luar,
"Lepaskan aku!" ucap Kimberly sambil berusaha menghempaskan tangannya yang dipegang oleh William.
"Aku tak akan melepaskannya sebelum kamu setuju untuk menikah denganku."
"Apa urusanmu memaksakan kehendakmu, hah?!"
"Karena aku tahu kamu masih mencintaiku. Bukankah kamu ingin menikah denganku dan sekarang aku akan mengabulkan keinginanmu itu."
"Lepaskan! Sekali lagi aku katakan pada anda, Tuan William yang terhormat. Jangan terlalu narsis. Mungkin dulu saya pernah menyukai anda, tapi itu hanya sebatas suka. Sampai akhirnya saya menyadari bahwa itu hanya karena kita selalu bersama, tidak lebih."
"Tapi aku tetap akan menikah denganmu!"
"Kamu tak bisa memaksaku!" ucap Kimberly meninggi.
__ADS_1
William mendekatkan tubuhnya ke arah Kimberly dan menatap mata wanita itu, "Aku akan melakukan apapun. Bukankah dulu kamu bisa memaksaku untuk masuk ke dalam pernikahan yang kamu rencanakan. Maka sekarang, aku yang akan membuatmu masuk ke dalam pernikahan yang kurencanakan. Aku bisa melakukan apa yang dulu juga kamu lakukan."
"Kamu ingin membalasku, hah?!"
"Oohhh, tidak! Tapi jika kamu beranggapan seperti itu, terserah! Namun yang pasti, aku akan membuatmu menjadi istri dari seorang William Smith, secepatnya!"
"Dan ingatlah ... aku bisa melakukan apa saja. Bahkan aku bisa menghancurkan perusahaan kakakmu itu hanya dengan menjentikkan jariku. Atau kamu ingin melihat orang tuamu menderita? Aku juga bisa melakukan itu."
"Sialannn!! Kamu licik!"
"Bukankah dulu kamu juga dengan licik menerima perjodohan itu. Aku hanya mengabulkan permintaanmu dulu, dan sekarang aku akan dengan ikhlas menerimamu menjadi istriku."
Kimberly langsung meninggalkan William tanpa membalas perkataan laki laki itu. Amarah sedang menyelimuti Kimberly saat ini. Sampai di depan ruang rawat Anthony, ia menarik nafasnya dalam, kemudian membuangnya perlahan. Ia tak ingin Anthony dan King melihat kegundahan hatinya.
"Kim, kamu tidak apa apa?" tanya King sambil memegang bahu Kimberly.
"Aku tidak apa apa."
"Apa yang ia katakan padamu? Apa dia memaksamu? katakan padaku, aku akan menghajarnya jika ia mengganggumu."
"Tidak, Kak. Ia hanya membicarakan mengenai penusukan itu saja."
Kamu berbohong, Kim - Anthony.
King menghela nafasnya lega, walaupun masih terselip kegundahan di dalam hatinya, "Ayo sarapan dulu, Kim."
Kimberly berjalan menuju meja tempat sarapan disediakan. King membeli bubur ayam. Tapi, Kimberly malah mengambil salah satunya dan berjalan mendekati Anthony, "Ayo Kak makan. Aku akan menyuapimu."
"Makanlah dulu, Kim. Kamu belum makan dari semalam," ucap Anthony.
"Aku akan makan setelah kakak makan," Kimberly terus memaksa Anthony. Akhirnya Anthony mengalah dan makan dengan cepat agar Kimberly bisa segera makan.
"Sudah selesai, sekarang giliranmu untuk makan."
Kimberly pun akhirnya mengambil sarapan miliknya, kemudian melahapnya perlahan. Anthony bisa melihat ada beban dalam pikiran Kimberly.
Apa yang sebenarnya dibicarakan oleh laki laki itu? - Anthony.
Apa yang harus aku lakukan? Jika aku menolak, perusahaan Kak King akan dalam bahaya. Bahkan ia juga berani mengancam akan menyakiti Papi dan Mami. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus berkorban? Atau aku harus egois lagi seperti dulu? - Kimberly.
Kimberly menengadahkan kepalanya, melihat ke arah Anthony, yang ternyata sedang melihat ke arahnya.
__ADS_1
Kak, aku menyukaimu. Aku mencintaimu. Tapi, apakah aku berhak untuk mendapatkan laki laki baik sepertimu? - Kimberly.