
"Max, apa kamu senang bekerja dengan King?" tanya Sam.
"Tentu saja, Tuan," jawab Max.
"Apa kamu tidak ingin mencari tempat yang lebih baik? Melihat pengalaman dan caramu bekerja, aku yakin kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada di sini."
Apa maksudnya mengatakan hal seperti itu padaku? - Sam.
"Dimanapun saya bekerja, asalkan itu nyaman bagi saya, itu tidak masalah, Tuan. Dan sampai saat ini, saya merasa nyaman dengan Tuan King."
"Ckk!!! Kamu belum tahu saja seperti apa sifat asli King. Aku sudah bersahabat dengannya sejak SMA, aku tahu bagaimana dirinya. Kamu akan lihat nanti, ketika perusahaan ini bangkrut, ia akan menyalahkanmu dan menendangmu langsung keluar dari perusahaan," ucap Sam sambil tertawa, sementara Max hanya melihatnya dengan tatapan datar.
"Berhenti di sana saja, Max. Belikan aku makanan, di bungkus saja. Aku akan memakannya di hotel. Kalau sudah selesai, tunggu aku. Aku akan ke minimarket di sebelahnya."
"Baik, Tuan," Sam pun turun setelah menanyakan makanan apa yang diinginkan oleh Sam, sementara Sam pergi ke minimarket di sebelahnya.
Sam berkeliling, mencari barang yang ia perlukan. Namun sesosok wanita tiba tiba mengalihkan pandangannya, "Hanna ...," gumamnya setengah berbisik.
Perlahan ia menyusuri rak demi rak dan matanya tak lepas untuk memperhatikan Hanna, wanita yang ia sukai sejak SMA. Perasaan itu masih ada sampai sekarang, meskipun kini ia menjalin hubungan dengan Fika atas dasar naf su semata.
"Han ... Hanna," panggil Sam pelan.
Tubuh Hanna langsung menegang kala ia mendengar suara itu. Suara yang sangat menyakitkan baginya. Ia berusaha untuk kuat dan ingin menatap asal suara itu dengan lantang. Namun, hatinya berkata lain. Sakit, itulah yang ia rasakan.
"Han ...," panggil Sam lagi sambil berjalan mendekat, sementara Hanna langsung memundurkan tubuhnya menjauhi Sam. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari bantuan.
Dengan langkah cepat, Sam mendekatinya dan langsung memegang pergelangan tangannya dan memeluk pinggangnya.
__ADS_1
"Tidak!!! tidak!! Lepaskan!! Lepaskan aku!!! to-tolong," Hanna terus berteriak dan membuat orang orang yang berada di dalam minimarket itu pun mendekat.
"Tidak apa apa, maaf istriku sedang ngambek," ucap Sam pada orang orang di sana.
"Lepas ... lepaskan aku!! Pergi!! Jangan sentuh aku!! Aku benci!! Aku benci!! Pergi!!!" Sam membawa Hanna keluar dari minimarket itu dengan kekuatannya karena Hanna terus memberontak.
"Aku tidak akan melepaskanmu lagi, Han. Kamu milikku dan akan selalu jadi milikku."
"Ahhhh!!!" teriak Hanna sambil menangis, hingga akhirnya ...
Brukkk ....
"Han? bangun Han ....," Sam langsung mengangkat tubuh Hanna dan membawanya ke mobil. Max yang baru saja keluar dari restoran pun langsung dipanggilnya agar cepat menaiki mobil.
"Cepat ke rumah sakit terdekat, Max!"
"Han, bangun Han. Maafkan aku, tapi aku benar benar ingin bersamamu," Sam mengelus pipi Hanna yang berubah pucat.
*****
"Mengapa wajahmu seperti itu, Vi?" tanya Siska.
"Tidak apa."
"Jangan membohongiku. Aku sudah lama mengenalmu, dan aku tahu kamu sedang tidak baik baik saja."
Viera mengaduk minuman di depannya, sambil menatap ke arah jendela yang langsung mengarah ke jalan. Ia lalu menarik nafasnya panjang, kemudian menatap ke arah Siska.
__ADS_1
"Aku bertengkar dengan William."
"Bertengkar? Apa dia memakimu? Bukankah dia sangat mencintaimu?"
"Tidak, tidak, ia tidak memakiku. Tapi belakangan ini ia selalu memintaku untuk menjadi seorang istri dan ibu yang sesungguhnya. Menunggu di rumah dan mengurus Vivian. Menyebalkan bukan?" Viera menyeruput minuman di depannya, sementara Siska justru menertawakannya.
"Jangan tertawa! Aku kesal! Sejak wanita tua itu datang, William jadi selalu meminta ini dan itu padaku. Aku ingin bebas, Sis. Aku tak ingin hanya menjadi ibu rumah tangga yang menunggu suami pulang dan menjaga anaknya. Selain itu, William juga mulai membatasi semua pengeluaranku. Setiap aku meminta uang, ia selalu mulai mengeluh, argghhh!!!"
"Aku mengerti perasaanmu, tapi jika kamu ingin pernikahanmu bertahan lama, sebaiknya kamu mengikuti permintaannya."
"Aku tidak tahu, Sis. Kalau dipikir pikir, untuk apa aku bertahan dalam suatu pernikahan dimana tidak ada kesenangan untukku. Sudah harus mengorbankan waktuku, kebebasanku, uang juga tidak ada."
"Apa kamu ingin kukenalkan pada seseorang?" tanya Siska.
"Siapa? Apa dia bisa membantuku merubah pikiran William?"
"Tidak. Kurasa kamu memerlukan kebebasan dan uang kan?" Viera mengangguk.
"Ada seorang laki laki. Ia mencari seorang wanita untuk menjadi teman tidurnya, hanya saat ia berada di kota ini. Tapi tidak menutup kemungkinan jika ia akan mengajakmu pergi keluar kota ataupun keluar negeri untuk perjalanan bisnis dan berlibur. Apakah kamu mau?"
Viera langsung membayangkan bahwa ia akan pergi jalan jalan, bebas tanpa adanya suami dan juga anaknya. Ini kebebasanku.
"Berapa bayarannya?" tanya Viera berpura pura jual mahal.
"Ia akan membayarmu 50 juta semalam."
50 juta? itu lebih dari yang diberikan oleh William. Wah ... aku bisa membeli barang barang yang kuinginkan dan aku tidak perlu bergantung pada laki laki yang sebentar lagi akan jatuh miskin itu. - Viera.
__ADS_1
"Pertemukan aku dengannya. Aku akan mengambil keputusan saat aku bertemu dengannya."
"Baiklah. Aku akan segera menghubungimu."