
Kimberly tengah duduk di sebuah hamparan rumput yang luas. Angin sejuk menerpa wajahnya, membuatnya tersenyum. Ia sedang duduk, bersandar pada sebuah pohon besar, sambil membuka sebuah buku.
Drtttt .... drrtt ...
Wajah Kimberly tersenyum melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Halo, Kak!"
Apa yang sedang kamu lakukan, Kim?
"Aku sedang menikmati alam."
Alam? apa kamu sedang naik gunung? atau pergi ke suatu tempat?
"Tentu saja tidak. Mana mungkin aku berlibur ketika ujian semester sudah hampir di depan mata."
Kapan kamu akan pulang, hmm?
"Aku akan pulang ketika aku lulus, Kak. Tapi ...."
Apa kamu tidak merindukanku?
"Tentu saja aku merindukanmu. Aku juga rindu pada Kristy, Lady, juga Kak Hansel."
Kalau begitu bagaimana kalau kita makan es krim bersama?
"Baiklah, kita akan makan es krim bersama saat aku kembali nanti."
Sekarang saja. Aku sudah menunggumu di depan kampus.
Tanpa mematikan ponselnya, Kimberly memasukkan bukunya ke dalam tas ransel miliknya. Ia langsung berlari menuju area depan kampus. Senyumnya langsung merekah saat melihat siapa yang sudah berdiri bersandar pada sebuah mobil, dengan kacamata hitamnya.
"Kakkk!!" teriak Kimberly sambil berlari menghampiri Anthony. Sudah lama mereka tidak bertemu secara langsung, karena kesibukan masing masing.
"Apa kamu merindukanku?"
"Tentu saja."
"Apa kamu mau makan es krim."
"Mau mau mau!!"
"Sepertinya kamu lebih menyukai es krim daripada aku," ucap Anthony sambil tertawa.
"Aku rindu makan es krim bersama kakak."
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo kita berangkat!" Anthony membukakan pintu untuk Kimberly, kemudian memutari mobilnya dan masuk ke kursi kemudi.
*****
King masih duduk di dalam ruangannya. Sudah hanpir 1 bulan, tapi kabar mengenai barang impornya tetap nihil. Ia sudah membayar kepada penyedia barang, tapi kontainer itu kosong. Ia kini merugi, bahkan para pembeli yang sudah menandatangani kontrak dengannya, kini mulai meminta dananya kembali.
"Ahhhh sialll!!!" King menggebrak mejanya.
Bagaimana perusahaan ini akan bertahan kalau aku harus mengeluarkan uang sebesar itu.
King menekan tombol di telepon mejanya. Tak lama, Max pun masuk ke dalam sambil membawa sebuah map.
"Apa ada yang bisa membantu kita?" tanya King.
"Aku baru saja mendapatkan pesanan minyak kelapa sawit dalam jumlah besar. Kurasa kita harus memanfaatkan kesempatan ini," ujar Max.
"Kamu benar. Kalau begitu, katakan pada mereka bahwa kita bisa menyiapkannya. Minta mereka melakukan pembayaran dan siapkan tiket ke Kalimantan."
"Siap!" Max pun keluar dari ruangan.
Kali ini harus berhasil, atau aku terpaksa menutup perusahaan ini. - King.
*****
Pesawat kini membawa King menuju pulau Kalimantan. Mereka sudah pernah menjalin kerjasama ini dan juga pernah memesan dalam jumlah besar, tapi kali ini lebih besar lagi. Tak ingin gagal, King pun turun tangan.
"Tuan, apa tidak sebaiknya kita makan siang dulu?"
"Baiklah."
"Kita cari tempat yang searah dengan hotel saja ya Tuan."
"Okay."
Max melajukan mobil sesuai GPS. Meskipun mereka pernah ke sana, tapi Max sudah terbiasa menggunakan GPS agar tidak salah jalan. Ia mengemudi sambil melihat ke kiri dan kanan, melihat tempat makan yang cocok dan layak untuk atasannya itu.
Setelah berkendara sekitar 15 menit, Max menghentikan mobilnya dan memarkirkannya tepat di sebuah kedai makan yang terlihat bersih dan cukup ramai.
"Kita sudah sampai, Tuan," ucap Max.
King pun membuka pintu dan turun. Ia melihat ke arah papan nama kedai makan tersebut 'Sunny Side'. Mereka memasuki kedai makan yang cukup luas. Terdapat 2 lantai area tempat makan dan dapur di bagian belakang. Para tamu juga bisa menikmati kopi hasil racikan di sebuah konter yang terletak di sudut.
Kedai makanan dilengkapi dengan AC, agar para tamu merasa betah dan menikmati makanan dengan lebih nyaman. AC tersebut baru dipasang 2 minggu setelah mereka pindah, karena melihat ramainya tamu dan takut mereka merasa tidak nyaman.
Kedai tersebut menjual masakan matang siap saji dan masakan lain yang bisa dipesan sesuai selera dari buku menu.
__ADS_1
"Selamat datang!" Kinan menyambut tamu yang baru saja masuk ke dalam. Ia mengantarkan mereka ke tenpat duduk yang kosong. Ia pun menyodorkan buku menu kepada kedua tamunya.
"Anda bisa memesan melalui buku menu ini atau bisa langsung mengambil masakan matang yang disiapkan di sana.
"Kami pesan dari sini saja," ucap Max.
Mereka membolak balik buku menu tersebut, halaman demi halaman. Mereka pun memesan setelah menjatuhkan pilihan pada salah satu makanan dan minuman di sana.
"Max, minta barista di sana untuk membuatkanku kopi, jangan terlalu manis," pinta King.
"Baik, Tuan."
"Dan pesanlah juga untuk dirimu, kamu juga pasti membutuhkannya," Max mengangguk dan berjalan menuju konter kopi yang ada di sudut ruangan.
Tak berselang lama, kopi telah datang, begitu juga dengan makanan mereka. Mereka berdua menikmati makanan tersebut.
"Kinan!" panggil Hanna dari belakang.
"Iya, Kak."
King langsung menolehkan kepalanya saat mendengar suara yang sangat dikenalnya itu. Meskipun ia hanya berpacaran dengan Hanna selama 3 bulan, tapi mereka sudah berteman sejak lama.
Hanna?
Namun King berusaha menepis semua dugaannya. Ia merasa itu semua hanya halusinasinya saja, ia pun melanjutkan makan siangnya.
Max berjalan menuju area kasir untuk membayar makanannya dan juga Tuannya, sementara King langsung berjalan ke arah luar. Namun baru saja ia akan membuka pintu,
"Kinan, kamu dipanggil Hanna," teriak Fahri.
Hanna?
King langsung memutar tubuhnya dan mengedarkan pandangannya. Ia merasa sensitif sekali jika mendengar nama Hanna, meskipun nama Hanna tidak hanya dimiliki oleh 1 orang.
"Kinan, bantu aku di toko sebentar ya. Aku harus pergi sebentar untuk membeli beberapa bumbu dapur," ucap Hanna yang keluar dari sebuah pintu sambil menggunakan apron berwarna hitam.
King terdiam sesaat, memandangi Hanna.
Benar, itu dia. Apa yang sedang ia lakukan di sini? Apa ia pergi setelah dicampakkan oleh kekasihnya?
Begitu banyak hal muncul di kepala King. Ia pun akhirnya keluar dari sana, dan langsung memasuki mobil. Dari dalam mobil, ia bisa melihat Hanna keluar dari kedai makan tersebut, kemudian menaiki sebuah motor matic yang terparkir di depan kedai tersebut.
Hanna menggulung rambutnya ke atas dan menjepitnya, kemudian ia mengambil helm dan memasangkannya di kepala. Ia menyalakan mesin motornya dan akhirnya melaju meninggalkan kedai tersebut. Mata King terua melihat kepergian Hanna hingga tak terlihat lagi.
Kamu cantik, bahkan semakin cantik. Kenapa tina tiba kamu muncul lagi di hadapanku. Aku sudah berusaha melupakanmu, tapi kamu selalu hadir. Bahkan sekarang ini, kamu begitu nyata berada di hadapanku. - King.
__ADS_1
Max mulai menjalankan mobilnya setelah ia menyalakan mesin mobilnya, mereka pun menuju ke hotel. King yang duduk di kursi belakang hanya diam, pikirannya mengembara ntah kemana.
*****