SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
IKUTI HATIMU


__ADS_3

Michael dan Elena awalnya kaget karena mendengar bahwa William telah menceraikan Viera, karena hal tersebut tak pernah ada dalam bayangan mereka. Mereka selalu melihat bahwa Willian sangat mencintai Viera. Kabar lain lebih mengejutkan ketika mereka mengetahui bahwa Vivian bukanlah cucu mereka, bukan putri William.


Kepergian Vivian membuat hati William bersedih. Putri yang sangat ia sayangi, kini telah pergi. Tapi dia juga bahagia karena Vivian tak akan merasakan sakit lagi. Keadaan Vivian memang terus drop setelah demam yang terus menerus terjadi, apalagi ia masih sangat kecil.


Kedatangan kedua orang tuanya, membuat William tidak kesepian lagi. Elena sering mengundang Kimberly untuk sekedar makan malam atau makan siang jika weekend datang. Sudah lama sekali rasanya William tak melihat senyum Mommynya itu.


Aku akan membuat Mommy selalu bahagia. Mommy ingin Kimberly, maka aku akan menjadikannya istriku, menantu Mommy. - William.


Hampir setiap hari, William berada di depan lobby kantor Kimberly saat jam pulang kantor. Ia sengaja datang untuk menjemput Kimberly. Bukannya membuat Kimberly senang, hal tersebut malah membuatnya menjadi risih.


William kadangkala berhasil membujuk Kimberly untuk ikut dengannya dengan alasan Mommynya ingin bertemu dan makan malam dengannya.


Aku harus membuatnya lebih dekat lagi padaku. Kurasa aku membutuhkan bantuan Jeremy. Lihat saja, Kim. Kamu akan kembali mencintaiku saat kita selalu bersama. - William.


*****


"T-ta-tapi ...."


"Tidak ada tapi tapi, ini tugas yang harus kamu selesaikan. Kamu akan dibantu oleh Anantha di sana. Ingatlah, bahwa ini adalah proyek besar," ucap Lukas.


Kimberly mengeram dalam hatinya. Ia yakin ini semua hanya akal akalan William. Sejak perceraian William dengan Viera, Michael pun akhirnya mengembalikan posisi William ke tempat yang seharusnya. Ia memimpin perusahaan pusat Smith.


Perceraiannya pun sudah diketahui oleh khalayak ramai, bahkan mereka ramai ramai membicarakan hal tersebut. William dianggap sebagai salah satu 'Duda Hot' yang menjadi incaran para wanita.


Akhirnya Kimberly dan Anantha pun pergi menuju Perusahaan Smith. Selama perjalanan ke sana, Kimberly tak berbicara, ia lebih banyak diam. Anantha pun tak terlalu banyak bertanya.


Sesampainya di sana, mereka langsung diantar menuju ruang meeting. Mereka akan berdiskusi dan mengetahui permasalahan yang ada, sehingga pekerjaan mereka akan lebih tertata dan mencapai target yang diinginkan oleh perusahaan yang menggunakan jasa mereka.


"Kami sudah mengerti, Tuan William. Kami akan segera mulai bekerja," ucap Kimberly.


"man, tempatkan mereka di ruangan sebelah ruanganku," perintah William.

__ADS_1


Kimberly memejamkan matanya sesaat dan menghela nafasnya pelan. Ia tak ingin menentang perintah William. Selain karena ia hanya menunaikan tugasnya, ia juga tidak ingin banyak bicara.


Kimberly dan Anantha mengikuti Arman menuju satu ruangan yang ditata dan didesain dengan begitu mewah.


"Kim, apa tidak salah kita akan bekerja di ruangan ini?" tanya Anantha.


"Tidak usah dipikirkan mengenai hal itu, tha. Sebaiknya kita mulai bekerja agar kita bisa menyelesaikannya dengan cepat."


"Baiklah, Kim."


Mereka menghabiskan waktu mereka dengan bekerja dan bekerja. Sesekali Kimberly dan Anantha merentangkan tangannya untuk meregangkan otot otot mereka.


Ketika jam makan siang datang, Arman masuk ke dalam ruangan, "kalian sudah ditunggu oleh Tuan William untuk makan siang bersama."


"Maaf, Tuan Arman. Tapi saya sudah ada janji makan siang dengan sahabat saya."


"Maaf juga Nona Kimberly. Tapi anda diharuskan untuk selalu makan siang bersama dengan Tuan William."


"Nona Anantha, anda akan ikut dengan saya. Sementara Nona Kimberly akan makan siang dengan Tuan William."


"Kim ...," panggil Anantha.


"Aku tidak apa apa, tha. Kamu pergilah bersama Tuan Arman."


**


"Apa kamu marah, Kim?" tanya William.


"Ohh tidak Tuan. Saya tidak marah pada anda."


"Kim ... bisakah kita berbicara sebagai seorang teman, sebagai sahabat ... seperti dulu."

__ADS_1


Kimberly meletakkan sendoknya, kemudian menatap ke arah William, "Sudah kukatakan sedari awal, bahwa aku tidak akan kembali ke titik itu. Sebaiknya kita bersikap profesional, kita adalah rekan kerja. Bukankah begitu?"


"Tapi, Kim ..."


"Saya sudah selesai, Tuan. Saya permisi untuk kembali bekerja," Kimberly berdiri dan sedikit membungkuk untuk memberikan rasa hormat pada laki laki yang kini menjadi atasan sementaranya, kemudian keluar dari ruangan.


Perlahan tapi pasti, aku yakin kamu akan menerimaku kembali menjadi sahabatmu, Kim. Bahkan akan lebih dari itu.


*****


"Hei Kim, mengapa wajahmu ditekuk seperti itu. Apa sedang ada masalah dalam pekerjaanmu?" Anthony menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulut Kimberly. Saat ini mereka sedang berada di taman kota, menikmati nasi goreng gerobakan yang mangkal di sana setiap malam.


Kimberly tersenyum tipis, dari wajahnya, Anthony bisa langsung tahu kalau Kimberly sedang memendam sesuatu dan ia tak suka akan hal itu.


"Apa kamu sudah tak mau lagi menceritakan masalahmu padaku, hmm?"


"Tidak, Kak. Bukan begitu. Hanya saja ini tentang pekerjaanku."


"Berbagilah jika kamu ingin berbagi. Tapi jika memang tidak, aku tidak akan memaksamu."


"William, Kak. Saat ini aku bekerja di perusahaannya. Mereka menggunakan jasa Megatech untuk melakukan analisa keuangan pada perusahaannya."


"Apa yang kamu takutkan, Kim?"


"A-aku ...," Kimberly tak melanjutkan kalimatnya, Anthony menyeka bibirnya dengan sebuah tissue. Mereka telah menghabiskan nasi goreng di piring mereka masing masing.


tung, kamu tahu tung. Aku semakin yakin kalau aku sudah jatuh hati pada Kak Lee. Aku tidak akan takut berdekatan dengan William, karena kini hatiku hanya milik Kak Lee ... meskipun mungkin hatinya bukan milikku. - Kimberly.


"Ikuti hatimu dan aku akan mendukung yang terbaik untukmu," Anthony mengusap pucuk kepala Kimberly, kemudian memberikan kecupan di kening. Kimberly merasakan kehangatan dalam dirinya, kenyamanan yang luar biasa.


"Terima kasih, Kak," Kimberly tersenyum saat melihat Anthony juga tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2