
"Sialannn!!" Viera mengeram kesal. Pasalnya, kartu kreditnya sudah diblokir oleh William. Ia tak bisa menggunakannya untuk membayar hotel. Ia mencoba menggunakan debit miliknya sendiri, dan hasilnya tetap nihil.
Viera duduk di lobby hotel, mencoba menghubungi Harry. Namun, nomor yang ia tuju selalu di luar jangkauan. Viera pun akhirnya menghubungi Siska.
"Sis, tolongin aku."
Ada apa, Vi?
"Aku pinjam uang dulu dong."
Pinjam uang? Tapi bukankah kamu baru dapat uang dari Harry?
"Ia belum mentransfernya."
Kenapa kamu tidak minta pada William. Bukankah kamu juga punya setengah dari kekayaannya. Seharusnya kamu jangan pergi sebelum mendapatkan bagianmu.
"Kamu benar, aku harus kembali. Aku tak akan pergi dari rumah itu sebelum ia membagi kekayaannya."
Viera menutup sambungan ponselnya dan mencari taksi untuk kembali ke kediaman Smith.
*****
Kimberly berdiam di dalam kamarnya. Setelah pertemuannya tadi siang dengan William, ia jadi mulai berpikir.
Tokkk ... tokk ... tokk ...
"Mi."
"Apa kamu sedang ada masalah, Kim?" tanya Megan yang sedari putrinya pulang, bisa melihat ada sesuatu yang sedang ia dipikirkan.
"Hmm .... Mi, Apa Papi dan Mami membenci keluarga Smith? tepatnya pada Uncle Michael dan Aunty Elena?"
Megan memegang tangan Kimberly dan menepuk punggung tangan putrinya itu, "Sayang ... Papi dan Mami tak pernah membenci mereka. Bagaimanapun, mereka adalah sahabat Papi dan Mami, tetangga kita juga. Mungkin memang William bukan jodohmu. Lagipula ini bukan kesalahan mereka, William lah yang sedari awal menentang sehingga terjadilah seperti itu."
"Kim bertemu dengan William ..."
"Kamu tidak apa apa, sayang?" Wajah Megan tiba tiba saja menampakkan raut kekhawatiran.
"Kim tidak apa apa, Mi. Kim sudah sadar bahwa sebenarnya Kim tidak memiliki perasaan apapun pada William. Mungkin dulu Kim hanya terobsesi saja dan merasa nyaman jika berada di dekat William. Mami tidak perlu khawatir."
"Sayang .... Mami hanya tidak ingin kamu mengingat kejadian itu lagi."
__ADS_1
"Minggu depan, Uncle Michael dan Aunty Elena akan datang. Kim akan menemui mereka."
"Apa kamu yakin, sayang?"
"Kim yakin, Mi. Bagaimanapun, mereka sudah Kim anggap seperti orang tua Kim. Mereka juga sangat menyayangiku, jadi tak ada salahnya Kim bertemu mereka, meski hanya sekedar menyapa."
"Baiklah, Kim. Semua terserah padamu."
"Apa kakak sudah pulang?" tanya Kimberly.
"Mami tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kakakmu itu. Setiap hari pulang hanya mandi dan berganti pakaian, lalu pergi lagi. Apa kakakmu sudah punya kekasih?" tanya Megan ingin tahu.
Kimberly menghela nafasnya pelan. Ia tahu kemana kakaknya pergi, tapi ia tak bisa menceritakannya pada Maminya.
"Kim tidak tahu, Mi. Nanti kalau Kim bertemu kakak, akan Kim tanyakan."
"Baiklah, sekarang istirahatlah. Jangan sampai kamu besok kesiangan, nanti rejekinya dipatok ayam," goda Megan.
"Tenang saja, Mi. Dia berani patok Kim, aku bakalan goreng dia, trus jual ... 2 seringgit 2 seringgit," Megan pun tersenyum melihat Kimberly sekarang yang lebih dewasa dan mampu mengatur emosinya.
*****
"Berikan uangnya atau aku tidak akan pergi dari sini," ucap Viera.
"Aku tidak perlu menjawab itu, cepat berikan bagianku!"
"Sesuai perjanjian yang kamu tandatangani, kamu harus melakukan pemeriksaan untuk melihat kecocokanmu dengan Vivian."
"Apa maksudmu?"
William memerintahkan seorang supir untuk mengantar Viera ke rumah sakit, sedangkan ia menaiki mobilnya sendiri. William tak ingin lagi berada 1 mobil dengan Viera.
Sesampainya mereka di rumah sakit, William berjalan dan diikuti Viera. Mereka menemui Dokter Freya, dan William meminta Viera mengikuti semua arahan Dokter Freya.
Viera mengikuti semuanya karena ia ingin harta hasil perceraiannya cepat cair. Ia tak bisa menunggu lagi hidup tanpa uang. Malam itu juga, Viera dijadwalkan akan melakukan pemeriksaan.
"Cepat berikan uangnya!" teriak Viera saat pemeriksaan selesai.
"Hei! ini belum selesai. Jika sumsum tulangmu cocok, maka kamu harus bersedia mendonorkannya."
"Aku tidak mau! Aku tidak mau kulitku yang halus ini harus berhubungan lagi dengan yang namanya operasi. Sudah cukup dulu saat aku melahirkannya."
__ADS_1
"Vivian itu anak kandungmu, seharusnya kamu bertanggung jawab pada hidupnya," ujar William.
"Huh, menyusahkan saja! Aku tidak peduli. Bukankah kamu menginginkannya? ambil saja, jangan libatkan aku!"
"Kamu benar benar wanita jahat!"
"Oooo hohoho .... tapi kamu sangat mencintai wanita ini kan?" goda Viera.
"Menjijikkan! Diam di sini dan ikuti semua perintahku ... atau kamu tidak akan mendapatkan 1 sen pun dariku," William langsung meninggalkan Viera.
*****
Pagi pagi, William berdiri bersandar pada mobilnya di depan rumah keluarga Harisson. Ia tak berani masuk, jadi ia berdiri menunggu Kimberly keluar.
Aku dulu dengan mudahnya keluar masuk rumah ini, tanpa beban sedikitpun. Sekarang, bahkan menginjakkan kaki di depan pagarnya saja begitu terasa berat. Apa Kimberly benar benar tak bisa berteman lagi denganku? - William.
Hari ini Kimberly tidak membawa mobilnya. Semalam ia sudah berjanji akan ikut dengan Anthony untuk pergi menjenguk Hanna saat jam pulang kantor, maka Anthony lah yang akan menjemputnya.
Mobil Anthony tiba saat Kimberly membuka pintu kecil pada pagarnya.
"Kim!" panggil William ketika Kimberly berbalik. Anthony yang melihat situasi tersebut, langsung turun dari mobilnya.
"Ada apa lagi kamu kemari?" tanya Kimberly.
"Aku akan mengantarmu ke kantor. Aku akan menemui Jeremy, jadi kita satu arah."
Kimberly melihat ke arah Anthony yang sedang melihatnya, "Aku akan pergi bersana Kak Lee. Kamu tidak perlu melakukan hal seperti ini. Kabari aku saha saat Uncle dan Aunty kembali, aku akan menemui mereka."
Kimberly pun berbalik dan langsung masuk ke dalam mobil Anthony. Anthony pun mengikuti Kimberly.
Di dalam mobil,
Kenapa Kak Lee sama sekali tidak menolongku berbicara dengan William tadi? Apa Kak Lee tidak peduli jika William membawaku? - Kimberly dilanda rasa penasaran.
"Kak ..."
"Hmm ..."
"Kenapa tadi kakak tidak menolongku berbicara dengan William? Bagaimana kalau tadi dia memaksa membawaku?" Kimberly mengerucutkan bibirnya. Ia ingin sekali Anthony bersikap posesif padanya, bukan hanya sekedar perhatian kepada seorang adik.
"Kalau dia sampai membawamu, baru aku bertindak. Aku tidak membantumu berbicara karena aku tak ingin memaksakan kehendakku, jadi aku menyerahkan semuanya pada dirimu. Aku percaya bahwa kamu akan memilih apa yang terbaik menurutmu," ucap Anthony sambil tersenyum. Senyum yang akhir akhir ini selalu menghiasi pikiran Kimberly dan membuat hatinya menghangat.
__ADS_1
*****