SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
INGIN BANYAK BERCERITA


__ADS_3

"Jadi dia pergi tanpa memberitahuku?" tanya Sam pada Fika yang kini berada di ruangannya.


"Ya, mereka menemui supplier di sana."


"Seharusnya itu adalah tugasku. Apa dia tidak percaya padaku lagi? atau dia sudah mulai mencurigaiku?" ucap Sam gelisah.


"Sepertinya tidak begitu. Ia hanya takut kalau kali ini gagal dan perusahaan ini akan bangkrut, makanya ia turun tangan sendiri," ucap Fika menenangkan.


"Tapi itu sama saja ia tidak percaya padaku, kan?"


"Bukankah memang seharusnya dia tidak percaya pada kita?" mereka berdua langsung tergelak bersama.


"Kita harus mencari cara yang lain. Perlahan tapi pasti, kita harus menghancurkan perusahaan ini."


"Aku setuju saja denganmu, Sam.'


*****


Selama berada di salah satu kota di pulau Kalimantan itu, King sama sekali tidak bisa konsentrasi. Pikirannya terus tertuju pada Hanna. Ia penasaran dengan apa yang Hanna lakukan di kota tersebut.


"Tuan," panggil Max, namun sama sekali tak dihiraukan oleh King yang kini tengah melamun.


"Tuan ...," sekali lagi Max memanggil dengan suara yang lebih kencang untuk menyadarkan King.


"Ada apa?"


"Meeting akan segera dimulai 1 jam lagi. Sebaiknya kita segera pergi ke tempat Tuan Bram."


"Baiklah," King pun akhirnya beranjak diikuti oleh Max di belakangnya.


Meeting dengan Tuan Bram berjalan dengan lancar. Tuan Bram menyanggupi untuk menyediakan barang yang diinginkan oleh King. Setelah selesai, hari sudah beranjak sore.


"Max, kita cari makan dulu. Setelah itu kita kembali ke hotel dan besok kita akan kembali ke Jakarta."


"Baik, Tuan."


"Apa Tuan ingin makan sesuatu?"


"Makan di tempat kemarin saja, Max. Sepertinya lidahku cocok dengan makanan mereka."


"Baik, Tuan," Max pun melajukan mobilnya menuju kedai makan yang kemarin mereka datangi.


Max menghentikan mobilnya, "Kita sudah sampai, Tuan."


"Tunggu sebentar, Max," ucap King saat Max akan turun dari mobil.


King melihat ke sekeliling dan pandangannya terhenti di toko sebelah kedai makan. Ia melihat senyum Hanna saat ia sedang melayani seorang wanita tua yang membeli beberapa barang di toko tersebut.


Senyummu selalu cantik, Han. Sudah lama aku tidak melihatmu tersenyum.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya turun dan masuk ke dalam kedai makan. Mereka membicarakan beberapa proyek yang harus mereka segera selesaikan, agar perusahaan bisa kembali seperti sediakala atau bahkan bisa lebih maju dari sebelumnya.


Setelah selesai,


"Tunggu aku di mobil, Max."


"Baik, Tuan."


King pun pergi menuju ke toko yang bersebelahan dengan kedai makan tersebut.


"Permisi."


"Ya, bisa saya bantu."


Deghhh ....


Hanna terdiam beberapa saat ketika menyadari siapa yang kini berada di hadapannya, namun ia dengan cepat menetralkan perasaannya.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Hanna.


"Aku ingin membeli minuman dingin," jawab King.


"Silakan anda memilih sendiri di rak pendingin di sebelah sana, Tuan," Hanna mengarahkan tangannya pada beberapa rak pendingin yang berada di pojok ruangan.


Setelah King memilih beberapa botol, ia kembali ke meja kasir yang dijaga langsung oleh Hanna.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya King saat Hanna sedang menghitung barang belanjaan King.


King memberikan uang kepada Hanna, kemudian Hanna memberikan kantung plastik yang berisi minuman itu kepada King. Namun King tidak langsung mengambilnya, ia malah kembali bertanya.


"Apa yang kamu lakukan di sini?"


"Maaf, Tuan. Saya bekerja di sini dan saya rasa saya seharusnya tidak perlu menjawab pertanyaan Tuan karena itu adalah ranah pribadi saya," Hanna terus berusaha menekan perasaannya. Ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan King yang melihatnya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


Ntah mengapa King merasa tidak suka dengan jawaban Hanna. Ia langsung masuk ke konter kasir dan memegang pergelangan tangan Hanna.


"Le-lepaskan aku," ucap Hanna sambil meringis.


"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu menjawab pertanyaanku dengan benar."


"Maaf, Tuan. Tapi saya tidak kenal dengan baik, hingga saya harus menjawab pertanyaan anda," Hanna terus berusaha melepaskan tangannya.


King bukannya melepaskan tangan Hanna, ia malah terus maju dan menghimpit Hanna ke dinding.


"Kamu tidak mengenalku? atau karena begitu banyaknya laki laki yang bergantian bersamamu, jadi kamu tidak mengingat mereka satu persatu."


"Jaga ucapan anda, Tuan!"


"Aku tidak perlu menjaga ucapanku di hadapan wanita sepertimu. Wanita murahan yang haus belaian laki laki, hingga mengkhianati kekasihnya sendiri dengan sahabatnya."

__ADS_1


Plakkk ....


Hanna tak mampu lagi menahan dirinya, dengan sebelah tangannya, ia menampar wajah King yang kini telah memerah.


"Keluar!!" teriak Hanna.


"Tenang saja, aku akan keluar. Lagipula aku jijik berlama lama berada 1 tempat dengan wanita sepertimu," King pun keluar dari sana, meninggalkan Hanna. Bahkan ia juga tidak mengambil sama sekali barang belanjaannya.


Hanna bisa mendengar suara deru mobil meninggalkan tempat itu, tubuhnya seketika luruh ke lantai. Ia memegangi dadanya yang terasa sakit, dan air matanya yang kini sudah turun membasahi pipinya.


Ia sudah pergi cukup jauh menurutnya, tapi mengapa ia kembali bertemu dengan seseorang yang sama sekali tidak ingin ia temui.


*****


"Honey, mau pergi kemana lagi?" tanya William.


"Tentu saja bertemu dengan teman temanku."


"Hari ini aku melarangmu keluar. Sebaiknya kamu di rumah, menemani Vivian. Juga berusahalah mengambil hati orang tuaku."


"Whatt??!! Apa aku tidak salah dengar?" ucap Viera sedikit meninggi.


"Kamu menyuruhku menjaga Vivian? aku tidak mau harus menggendong bayi kemana mana, apalagi kalau dia rewel, akan menyakiti telingaku saja," lanjut Viera.


"Honey!"


"Dan orang tuami ... ck ... ckk ... ckkk .... sudah kukatakan aku tak akan membuang waktuku untuk suatu hal yang tidak berguna, hal yang sia sia. Hubunganku dengan orang tuamu tidak bisa diperbaiki. Ini semua mereka yang memulai, maka mereka lah yang seharusnya mengambil hatiku agar aku mau memaafkan mereka."


William mendesah kasar. Orang tuanya minta maaf? rasanya tidak mungkin. Hal itu justru akan membuat Mommynya semakin kesal jika mendengar hal ini.


"Cepat berikan aku uang," ucap Viera.


"Uang lagi?"


"Tentu saja. Kamu hanya memberiku 20 juta kemarin, dan sudah habis untuk arisan. Sekarang aku perlu 50 juta."


"Aku tidak akan memberikannya."


"Apa maksudmu? Apa kamu sudah mulai membatasi semua gerak gerikku, juga kebebasanku? Uang 50 juta tak ada artinya bagi seorang William Smith. Atau kamu ingin aku ditertawakan oleh teman temanku?"


"Aku tidak peduli," ucap William.


Viera menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal, "Menyebalkan!!" Viera pun langsung pergi meninggalkan William yang kini telah duduk di tepi tempat tidur mereka.


Argghhh!!! Apa sebenarnya maumu, honey? Sejak dulu aku selalu memenuhi kebutuhanmu dan mengabulkan semua permintaanmu. Apa begitu sulit bagimu untuk dekat dengan orang tuaku. Bahkan Kimberly saja bisa dengan mudah meluluhkan hati Mommy.


Kim, dimana kamu sekarang. Aku merindukanmu, aku ingin banyak bercerita padaku. Hanya dirimu yang mengerti diriku.


William merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memejamkan matanya. Ia merasa lelah dengan semua hal belakangan ini. Masalah perusahaan yang belakangan sedang mengalami kendala, juga masalah di dalam keluarganya.

__ADS_1


*****


Nanti siang 1 bab lagi ya readers ....


__ADS_2