SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
TERIMA KASIH SAYANG [ END ]


__ADS_3

Salah satu kamar hotel di New York telah disulap menjadi sangat cantik. Jendela besar yang langsung melihat ke arah kota New York yang penuh dengan kerlap kerlip lampu.


Kimberly yang masih mengenakan gaun pengantinnya menatap dengan kagum.


"Kamu menyukainya?"


"Ehmmm ... indah sekali!"


Anthony memeluk pinggang Kimberly dari belakang, kemudian mengecup bahu Kimberly. Kimberly merasakan gelenyar yang menghangat dalam dirinya.


"Aku mandi dulu ya, kak."


"Hmm ..., apa tidak mau mandi bersamaku?" goda Anthony.


"Kakkk!!"


"Kenapa malu, Kim. Bukankah waktu itu malah kamu yang memintaku untuk tidur bersamamu, hmm?"


Kimberly langsung lari dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia berdiri di depan cermin, memandang wajahnya yang sudah memerah bak kepiting rebus.


Ahhh, memalukan sekali. Kak Anthony masih mengingatnya. - Kimberly.


(Kimberly tidak berani lagi memanggil Anthony dengan sebutan kak Lee, karena ia merasa seperti sedang memanggil Daddynya Anthony. Ia ingin tertawa setiap kali mengingatnya.)


Kimberly membuka gaun pengantinnya dan mulai membersihkan diri. Ia masuk ke dalam bathtub yang telah diisi dengan wewangian.


"Ya ampun, segarnya .... ," gumam Kimberly.


Sementara itu di luar, Anthony menelepon seseorang, memastikan kelancaran proses persiapan resepsinya nanti di Jakarta.


"Bagaimana Sel, apa semua sudah siap?"


Sudah. Kenapa ini jadi seperti aku yang menikah ya? - gerutu Hansel, membuat Anthony tertawa.


"Tidak apalah, kamu bisa sekaligus belajar. Bukankah kamu mau cepat cepat melamar Kristy, hmm?"


An! Kenapa kamu selalu tahu apa yang ingin kulakukan? Kamu cenayang ya?


"Aku tahu semuanya, Sel. Gelagatmu itu tiap kali berada di sekitar Kristy, pasti jadi salah tingkah. Meskipun kamu berusaha menutupi, tapi bagiku itu malah semakin terlihat," ucap Anthony tersenyum.

__ADS_1


Sudah, sudah!! Kamu sengaja menggodaku ya? Atau kamu ingin aku mengganggumu di malam pertamamu ini? - Hansel gantian menggoda Anthony.


"Hei! awas ya. Tidak akan kubiarkan! Aku akan mematikan semua sambungan ke luar," Anthony tertawa penuh kemenangan.


Selamat berjuang kalau begitu. Jangan lupa untuk segera kembali. Jangan kamu malah kesiangan dan melupakan penerbanganmu.


"Baiklah CEO Anlee Group Jakarta. Aku akan menurutimu kali ini. Kamu akan kuberi libur panjang kalau kamu menikah."


Aku akan menagih janjimu itu, dan jangan memberiku pekerjaan terlalu banyak. Aku harus melakukan pendekatan. Aku tidak mau dia diambil pria lain. Awas kamu An, kalau itu terjadi aku akan menuntutmu mencarikanku seorang istri.


"Baiklah, baiklah. Kamu tenang saja. Aku akan menepati janjiku. Aku tutup dulu ya."


Selamat mencetak gol, An. Yang banyak ya gol nya, biar cepet jadi! - terdengar tawa Hansel diujung telepon.


Anthony meletakkan ponselnya sesaat sebelum Kimberly keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk kimono dan mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Aku sudah selesai, Kak. Aku sudah menyiapkan air hangat untuk kakak."


"Terima kasih, sayang," bisik Anthony di telinga Kimberly, kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Tubuh Kimberly terasa meremang dan wajahnya memerah. Ini pertama kalinya Anthony memanggilnya dengan sebutan 'sayang'.


Ia duduk di depan sebuah meja rias. Ia mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer. Ia tak terbiasa tidur dengan keadaan rambut yang basah. Matanya tiba tiba melihat ke arah pintu kamar mandi yang terbuka. Ia melihat Anthony keluar menggunakan sebuah handuk kimono dengan rambut yang setengah kering, wajahnya kembali memerah.


"Tidak, Kak. Aku sudah selesai," Kimberly meletakkan hairdryer tersebut ke atas meja rias, kemudian mecabut sambungannya.


Kimberly berjalan ke arah koper miliknya dan mengambil baju tidur yang akan ia kenakan. Baju tidur berwarna merah maroon dengan bahan satin menjadi pilihannya. Ia juga menggunakan kimono luaran dengan bahan yang sama.


"Kak, biasa kakak pakai baju tidur yang mana?"


"Kemarilah, aku tidak membutuhkan itu," Anthony tersenyum menggoda Kimberly.


"Kamu terlihat sangat cantik, Kim. Terima kasih sudah mau menjadi istriku dan bersedia menemani dan menua bersamaku."


"Kak ..."


Kimberly naik ke atas tempat tidur, duduk bersebelahan dengan Anthony yang kini bersandar di kepala dipan. Anthony memeluk Kimberly dari samping dan Kimberly menempelkan kepalanya di dada Anthony.


"Aku mencintaimu," ucap Anthony saat menaikkan dagu Kimberly ke atas, agar ia bisa berbicara sambil menatap manik mata Kimberly.


"Aku juga mencintaimu, Kak."

__ADS_1


Anthony meraih tengkuk Kimberly dan memberikan ciuman yang begitu dalam. Kimberly mengalungkan tangannya di leher Anthony dan perlahan mulai membalas, membuat keduanya larut dalam kehangatan gairah yang mereka ciptakan.


Tubuh Kimberly menegang saat merasakan belaian tangan Anthony yang terasa hangat di tubuhnya, menimbulkan sensasi yang tidak biasa. Tubuhnya seperti menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar sentuhan.


"Kak ..."


"Sayang .... panggil namaku," bisik Anthony di telinga Kimberly, membuat tubuhnya meremang.


Dalam sekejap mata, keduanya sudah polos. Kimberly seperti tak sadar, kapan Anthony membuka semua yang ia kenakan. Anthony kembali memberikan ciuman agar Kimberly merasa relax.


Jejak jejak kepemilikan mulai tercipta, membuat desa*han dan era*ngan mulai meluncur dari bibir Kimberly, apalagi sentuhan lembut yang diberikan oleh Anthony, yang membuat candu bagi Kimberly.


Penyatuan pun akhirnya terjadi, membuat Kimberly meringis menahan sakit, bahkan ia sampai mengeluarkan air mata. Anthony mengecup kedua mata Kimberly, hidung, pipi, dan berakhir di bibir Kimberly, yang pada akhirnya membuat Kimberly lebih relax dan mulai menikmati penyatuan di antara mereka.


"Ahhh, Kak ..."


"Panggil namaku, sayang."


"Ahhh, Ahhhh, Anthony ... sayang," membuat Anthony tersenyum.


Anthony merebahkan tubuhnya di samping Kimberly setelah menyemburkan benih benih cinta miliknya. Ia mengecup kening Kimberly, "Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu. Kamulah Separuh Jiwaku ..."


Malam itu, Anthony hanya melakukannya sekali saja. Ia bisa melihat kelelahan pada wajah Kimberly dan hal ini juga adalah yang pertama bagi mereka berdua. Anthony melihat bagaimana tadi Kimberly menahan rasa sakit, dan ia tak ingin memaksa Kimberly untuk melakukannya berulang kali.


"istirahatlah," Anthony kembali mengecup kening Kimberly dan menyelimuti wanita yang kini telah menjadi istrinya, miliknya selamanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga dan menyayangi Kimberly, karena bersama Kimberly saat ini adalah suatu anugerah baginya.


[ T H E E N D ]


*****


Terima kasih Cherry ucapkan buat semua readers yang telah mendukung Cherry hingga saat ini dengan memberikan like, komen, bahkan vote.


Novel Cherry ini masih jauh dari sempurna, tapi Cherry berjanji akan terus belajar untuk mengasah kemampuan dalam menulis novel.


Untuk bab ini, apa Cherry boleh minta kesan dan pesan untuk Cherry? (bisa ditulis di kolom komen) sebagai masukan untuk Cherry berkarya ke depannya, karena Cherry bukanlah apa apa tanpa readers sekalian.


Terima kasih, terima kasih, terima kasih. Ditunggu extra part nya ya. Salam sehat, salam sejahtera, salam damai.


Luph,

__ADS_1


PimCherry


__ADS_2