SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
PURA PURA TIDAK TAHU


__ADS_3

"Kinan!" panggil Hanna.


"Ya, Kak," Kinan langsung menghampiri Hanna yang sedang memeriksa stok barang yang ada di tokonya. Usaha kedai makan Hanna semakin berkembang, bahkan ia telah menyewa sebuah ruko yang tepat berada di sebelah tempat tinggalnya saat ini.


"Hari ini kita tutup jam 6 ya, warung kopinya kita istirahatkan dulu. Setelah kita pindahan, baru kita buka lagi."


"Siap, Kak. Nanti aku beritahu Kak Fahri dan Kak Jota." Fahri biasa datang pagi hari, sedangkan Jota akan datang jam 3 sore.


"Oya, Kak," Kinan kembali lagi ke hadapan Hanna.


"Ada apa?" tanya Hanna.


"Apa tidak sebaiknya Kak Hanna mencari orang lagi untuk membantu Kak Jota? Warung Kopi semakin ramai, dan Kak Jota sepertinya kerepotan jika mengurusnya sendiri."


"Aku juga sedang berpikir ke arah sana. Nanti setelah pindah, aku akan mencari teman untuk Jota. Sementara itu, Jota akan membantu Fahri dulu."


"Baiklah, Kak."


"Oya, Kinan. Satu lagi. Besok aku minta tolong kamu, Fahri dan Jota untuk membantuku pindahan ya. Tenang saja, aku akan memberikan uang lembur untuk kalian," ucap Hanna sambil tersenyum.


"Tenang, Kak. Aku yakin mereka akan membantu kakak dengan sukarela, meskipun tanpa uang lemburan."


"Tak bisa seperti itu, nan. Dalam bekerja, kita harus profesional. Kalian akan bekerja di luar jam kerja kalian, maka aku pun harus memberikan apa yang seharusnya menjadi milik kalian."


"Baiklah, terserah Kak Hanna saja," Kinan pun akhirnya meninggalkan Hanna dengan tersenyum, menghampiri Fahri dan Jota.


*****


"Bagaimana bisa begini?" bentak King sambil membanting sebuah berkas di atas mejanya.


Proses impor barang yang sedang ia lakukan mengalami kendala. Barang yang ia pesan tiba tiba saja hilang dari dermaga, dan tidak ada satupun orang yang mengetahui.


"Max! Cepat kamu cari tahu. Aku ingin tahu, ini kesalahan kita atau memang penjual yang mengirimkan barang bodong pada kita."


"Baik, Tuan," Max segera meninggalkan ruangan King.


Sementara itu, Fika yang berada di luar ruangan tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam karena King memang mendesain ruangannya dan ruang meeting dengan kedap suara.


Drttt ... drrrttt ...


Fika meraih ponselnya yang bergetar. Ia selalu mengaktifkan mode getar karena King tidak menyukai jika ponselnya tiba tiba berbunyi di saat ia sedang berbicara.

__ADS_1


"Halo."


Fik, apa kamu bisa ke ruanganku?


"Bisa, tapi tidak sekarang."


Ada apa memangnya? Aku ingin memberitahumu berita bahagia.


"Apa kamu tidak akan memberitahukan padaku via telepon saja?"


Tidak bisa, karena aku ingin kamu memberiku hadiah setelah kamu mendengar berita ini.


"Baiklah, nanti aku ke sana. Tapi sekarang aku tidak bisa, King masih di dalam dan Max sedang keluar. Kalau dia tiba tiba mencariku bagaimana?"


Oooo, baiklah kalau begitu. Aku akan menunggumu.


Fika meletakkan ponselnya, kemudian telepon di mejanya berbunyi, "Okay, King."


Fika memang selalu memanggil King langsung dengan namanya saja, meskipun King adalah atasannya, begitu juga dengan Sam. Mereka menganggap bahwa mereka adalah teman King jadi mereka tidak pernah terlalu mementingkan hal tersebut.


Di kantor, Sam dan Fika juga selalu berlagak penting karena menganggap bahwa mereka adalah sahabat King, sehingga pegawai yang lain harus menghormati mereka.


Fika menelepon Sam untuk memberitahu bahwa King memintanya untuk ke ruang meeting, begitu juga dengan staf di bagian Purchasing.


*****


"Argghhh!!! Dia sepertinya sengaja mempermalukanku di depan anak buahku!" ungkap Sam kesal.


"Tenanglah. Kamu harus bisa menahan diri. Bukankah ini baru awal."


"Ya, aku tahu. Tapi seenaknya saja dia mempermalukanku seperti itu."


"Tapi ... bukankah kali ini kamu berhasil membuatnya punya masalah lagi?" ucap Fika sambil tersenyum.


"Tentu saja, cantik. Kita baru mulai dan kita sudah berhasil. Kita akan menjualnya dan mendapatkan uang yang banyak. Biarlah dia mempermalukanku, selanjutnya aku akan terus membuatnya jatuh dan jatuh, hingga tak bersisa lagi."


Fika tertawa sambil duduk di pangkuan Sam, "Kamu hebat! Karena itulah aku beeada di pihakmu!"


Fika kini berada di dalam ruangan Sam, setelah King pergi meninggalkan perusahaan setelah meeting tadi.


Sam kini mulai menurunkan tangannya ke pinggang Fika, dan menyesap dua aset kembar milik Fika. Fika selalu berpakaian seksi, seperti hari ini, ia menggunakan gaun dengan leher V-neck hingga memperlihatkan asetnya yang sedikit menyembul dan rok yang memperlihatkan setengah kaki bagian atasnya.

__ADS_1


"Ahhhh ..." de sah Fika saat Sam mulai memainkan aset kembarnya dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana.


Sam terus mel umat bibir Fika, kemudian menurunkan gaun tersebut hingga memperlihatkan aset kembar yang selalu menjadi mainannya sejak dulu. Sam memutar tubuh Fika hingga menghadapnya, membuat kaki Fika terbuka.


Fika sendiri sudah bisa merasakan sesuatu mengeras di bawah sana, hendak dipuaskan. Setelah Sam bermain main dengan aset kembar milik Fika, kini giliran Fika yang membuka ikat pinggang Sam dan langsung menarik resleting yang menyembunyikan belut liar milik Sam. Saat telah tegak di hadapannya, Fika langsung memberikan kepuasan untuk Sam menggunakan mulutnya. Suara ******* dan erangan memenuhi ruangan tersebut.


Setelah permainan pembuka selesai, Fika mengangkat rok nya dan melepaskan celananya, kemudian ia langsung mel umat kembali bibir Sam, "Aku yang akan memimpin permainan kali ini."


Fika terus menaik turunkan tubuhnya, membuat Sam merasakan kenikmatan yang luar biasa, hingga terdengar erangan dan des ahan di dalam ruangan tersebut. Namun, mereka tidak menyadari bahwa suara mereka terdengar hingga keluar.


"Kalian dengar itu? menjijikkan."


"Mereka sungguh tidak tahu malu. Apa sebaiknya kita laporkan saja pada Tuan King?"


"Apa Tuan King akan percaya pada kita? setahuku mereka berdua adalah sahabat Tuan King. Yang ada nanti malah kita yang akan didepak dari perusahaan."


"Iya benar."


"Kalau begitu, sebaiknya kita pura pura tidak mendengar saja."


"Betul. Sebaiknya kita cari aman saja. Sekarang ini mencari pekerjaan juga tidak mudah."


Sementara itu di dalam ruangan, mereka mengulangi permainan mereka hingga beberapa kali.


"Kamu memang luar biasa, Fik," puji Sam.


"Kamu juga hebat. Aku hanya mengimbangimu saja."


Mereka merapikan pakaian mereka, kemudian Fika keluar sambil memegang beberapa map. Ia melakukan itu untuk menutupi apa yang mereka lakukan tadi. Pegawai yang berada di luar ruangan, hanya sekilas melihat ke arah Fika yang keluar, kemudian kembali sibuk dengan pekerjaan mereka, menganggap mereka tidak mendengar ataupun mengetahui apapun mengenai keduanya.


*****


Terima kasih ya sudah membaca salah satu novel Cherry ini, bisa juga baca :


1. The Killer series


2. Cinta dan Benci


sambil nungguin 'Separuh Jiwaku' update.


Luph u all,

__ADS_1


Cherry


__ADS_2