SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
KEMBALI MENCINTAI


__ADS_3

Kimberly memegang pipinya yang terasa panas dan melihat ke arah wanita yang ada di hadapannya sambil memperlihatkan wajah yang penuh kekesalan.


"Ouuu, ternyata seperti ini ... Kamu mengatakan diriku selingkuh dan mengkhianati dirimu, tapi ternyata ... Cihhh!!! Kamu juga bermain dengan wanita egois dan tidak tahu malu ini!!"


"Aku tidak menyangka ternyata kamu masih saja mengincar William, meskipun ia sudah beristri dan memiliki anak. Benar benar wanita murahan dan tidak tahu malu. Dasar wanita jalanggg!!! teriak Viera hingga seluruh orang yang ada di area tunggu tersebut melihat ke arah mereka.


Plakkk!!!


Kimberly terdiam saat melihat William menampar Viera, "Ooo jadi sekarang kamu membela wanita ini, hah?!" ucap Viera yang semakin kesal.


"ingat!! Kamu bukan lagi istriku. Kita sudah bercerai. Bersama siapa aku sekarang, itu sudah bukan urusanmu!"


"Hmmm ... lihat saja nanti. Aku akan membalas semua perbuatanmu ini. Aku pastikan kamu akan bertekuk lutut di hadapanku dan memintaku kembali."


Anthony yang baru datang bersama King langsung menghampiri, "Kim, kamu tidak apa apa?"


"Kak ...," Kimberly memeluk Anthony.


"Sudah kukatakan, jangan pernah mendekati adikku lagi. Kamu hanya membuatnya menderita. Bahkan sekarang istrimu itu telah mempermalukannya di depan banyak orang. Dasar bajingan!!" King yang sedari tadi memegang kerah William ingin melayangkan tinjunya, namun dihentikan oleh suara Kimberly.


"Kak, sudah!"


Bertepatan dengan itu, seorang Dokter keluar dari ruangan Hanna. King, Anthony dan Kimberly pun menghampiri, "Bagaimana, Dok?"


"Ia sudah sadar. Tapi sebaiknya kalian jangan menemuinya dulu. Dokter Ben sudah berpesan pada saya, agar pasien tidak bertemu dengan siapa siapa dulu setelah ia sadar. Ia akan memeriksanya terlebih dahulu."


"Terima kasih, Dok," Mereka akhirnya duduk di sofa depan ruang ICU itu. Meskipun mereka tidak diperbolehkan masuk, tapi mendengar Hanna sudah sadar, membuat perasaan mereka lega.


"An, sebaiknya kamu antar Kim pulang dulu," pinta King.


"Tapi, Kak ... aku ..."

__ADS_1


"Pulanglah dulu, Kim ... atau kamu memang ingin berada di sini karena ingin bersama laki laki bajingan itu?" ucap King kesal.


Kimberly sebenarnya ingin bertemu dengan Hanna lagi, bukan untuk bersama dengan William.


"Ayo, Kim," ajak Anthony.


"Baiklah, Kak," sebelum beranjak dari sana, Kimberly sempat melayangkan pandangannya pada William yang masih melihat ke arahnya. Dulu mungkin Kimberly menyukai dan sangat merindukan tatapan William, tapi tidak ... sekarang tidak lagi.


Aku akan melupakannya, aku bisa melupakannya, dan aku pasti akan melupakannya. - Kimberly.


*****


Seminggu kemudian,


"Apa kamu baik baik saja, sayang?" tanya Elena pada Kimberly yang kini duduk di sebelahnya. Elena menggenggam tangan Kimberly.


"Kim baik baik saja. Aunty tidak perlu khawatir. Maafkan Kim juga yang egois, hingga terjadi hal seperti itu."


"Sudahlah, Aunty. Kim sudah melupakannya," Kimberly berbalik menggenggam tangan Elena dan menepuk punggung tangan Elena pelan.


"Apa kamu benar benar tidak akan memberi kesempatan sekali lagi pada William untuk membuka lembaran baru bersamamu?"


"Maafkan Kim, Aunty. Tapi Kim rasa kami memang tidak berjodoh. Biar apa yang sudah lalu, berlalu."


"Tapi Aunty sangat mengharapkan kamu menjadi menantu Aunty, menjadi putri Aunty."


"Aunty ... Kim akan selalu menjadi putri Aunty. Tidak harus Kim menjadi menantu Aunty. Biarlah William menentukan jalan hidupnya sendiri, dan aku juga akan menentukan jalan hidupku sendiri," ucap Kimberly tersenyum.


"Sayang ... kamu benar benar sudah dewasa. Aunty semakin menyayangimu."


Pembicaraan itu tak luput dari perhatian William. Ia terus memikirkan jika saja dulu ia menerima pernikahan dengan Kimberly, tentu kini Mommynya akan bahagia. Ia akan memiliki keluarga yang utuh dan istri yang benar benar mencintainya ... bukan karena harta.

__ADS_1


Aku akan membuatmu kembali mencintaiku, Kim. Aku akan melakukan apapun. Bersiaplah untuk kembali ke sisiku dan menjadi menantu keluarga Smith, seperti yang Mommyku inginkan. - William.


*****


"Apa dia masih tak mau menemuiku?" tanya King pada Dokter Ben dan dengan cepat Ben mengangguk.


"Katakan padanya bahwa aku ingin minta maaf padanya," lanjut King.


"Ia sudah memaafkanmu, tapi itu bukan berarti ia mau menemuimu. Ia berterima kasih karena kamu sudah menyelamatkannya," ucap Ben.


"Aku ingin dia mengatakannya sendiri padaku."


"T-tapi ..."


"Aku tidak akan pergi dari sini sebelum aku menemuinya, atau kalau perlu aku akan menerobos masuk."


Ben menghela nafasnya, "Aku akan menanyakannya terlebih dahulu. Sebaiknya kamu pulang sekarang."


"Sudah kukatakan bahwa aku tidak akan pulang sebelum aku berhasil menemuinya dan berbicara padanya."


Ben pun akhirnya meninggalkan King dan masuk ke dalam ruang rawat Hanna. Dari luar, King bisa mendengar ada pembicaraan antara Ben dengan Hanna, meski ia tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan.


Tak lama, Ben pun keluar dari ruangan dan mempersilakan King untuk masuk. Dengan perlahan King masuk ke dalam dan Ben berjaga persis di depan pintu.


King berjalan mendekati Hanna, "Han ..."


"Terima kasih. Terima kasih karena sudah menyelamatkanku. Sekarang kamu bisa pulang, pintu ada di sebelah sana."


"Han .... Maafkan aku. Maafkan semua perkataanku padamu. Aku menarik kembali semuanya. Bisakah kita bicara?"


"Aku sudah memaafkanmu, anggap saja itu semua tidak pernah terjadi. Maaf, aku ingin istirahat," Hanna merebahkan diri dan menyelimuti tubuhnya. Ia tidur membelakangi King. Hanna sebenarnya tak ingin melihat King, ia takut hatinya luluh. King adalah sahabatnya, seseorang yang pernah mengisi hati dan juga hari harinya. Tapi, ia juga seseorang yang telah menyakiti hatinya, meskipun hanya dengan perkataannya.

__ADS_1


King tak ingin memaksa Hanna saat ini, "Aku akan kemari lagi besok. Istirahatlah." King pun akhirnya berlalu pergi.


__ADS_2