
King memukul kemudi mobilnya. Ia baru saja mengikuti mobil yang membawa Hanna ntah kemana. Ia melihat dengan jelas dari jendela ruangan kantornya saat seseorang membekap mulut Hanna dan membawanya pergi. Namun King tidak bisa melihat dengan jelas siapa pelakunya karena suasana yang gelap di jalan tersebut. Hanya ada pencahayaan dari gerobak makanan yang jaraknya juga jauh jauh.
Sementara itu di dalam sebuah gudang tua,
"Hanna, sayang ...," Sam mengelus pipi Hanna yang masih terpengaruh obat bius.
"Kamu adalah milikku. Kemanapun kamu pergi, kamu akan kembali padaku, karena kamu adalah milikku ... selamanya. Tak akan aku membiarkan siapapun mengganggu milikku."
Hanna mengerjapkan matanya. Pandangannya masih samar samar, ia mengingat bahwa terakhir ia sedang menunggu pesanan nasi gorengnya, sambil menunggu Pak Nano menjemputnya. Ketika matanya sudah bisa melihat dengan jelas, matanya langsung membulat saat melihat dirinya berada di tempat yang tidak ia ketahui dan di hadapannya, ada Sam yang sedang tersenyum.
"Lepaskan aku!" teriak Hanna yang mulai panik karena tangannya terikat.
"Kamu mau kemana, Han? Tempatmu adalah di sisiku. Bersikaplah lembut seperti dulu. Kamu selalu perhatian pada King, aku iri. Seharusnya akulah yang mendapatkan SEMUA ITU!!" teriak Sam.
"Lepas ... Lepaskan aku," Hanna memohon.
"Apa kamu mau berjanji bahwa kamu akan tetap berada di sisiku dan mencintaiku jika aku melepaskanmu?"
Hanna tampak berpikir, "Baiklah, aku akan menurutimu," ia berencana melarikan diri ketika Sam melepaskan ikatan di tangannya.
Benar saja, Sam tersenyum dan mulai membuka ikatan di tangan Hanna. Saat sudah terlepas, Hanna langsung memukul tengkuk Sam ketika Sam sedang meletakkan tali di samping Hanna.
"Ah!!!" teriak Sam, "Mau kemana kamu, hah?!" Sam langsung menarik rambut Hanna dan menghempaskannya ke atas lantai beton tanpa keramik itu.
"Ahhhhh!"
Plakkk!!
"Kamu kira aku bodoh, hah?! Aku sudah tahu kamu pasti akan melakukan itu. Tapi aku suka jika kamu seperti itu, melawanlah maka kamu akan semakin membuatku bergairah."
"Tidak!!! Lepaskan aku. Sam ... aku mohon!"
"Aku akan melepaskanmu setelah kamu menjadi milikku," Sam mencengkeram pipi Hanna dengan keras, hingga dipastikan akan meninggalkan bekas di sana.
"Tidak Sam, tolong jangan! Lepaskan aku! Jangan lakukan!"
Plakkk!!!
Sekali lagi sebuah tamparan mendarat di pipi Hanna, membuat sudut bibir Hanna kembali mengeluarkan darah, "Apa susahnya kamu menurutiku, Han!? Aku akan ada untukmu, selalu menyayangi dan mencintaimu. Apa lebihnya King dariku, hah?!"
Hanna berusaha menggerakkan kakinya yang kini ditahan oleh kedua kaki Sam. Kedua tangannya sudah ditahan ke atas kepala dengan sebelah tangan, dan tangan Sam yang satu lagi mulai bergerilya.
Hanna terus memejamkan matanya, kilatan kejadian yang dahulu belum hilang, kini ia mengalaminya lagi. Buliran air sudah turun dari kedua mata Hanna yang terpejam.
__ADS_1
Sam membuka satu persatu kancing kemeja Hanna, tapi karena ia sudah tidak sabar, ia langsung menarik kemeja itu dengan paksa dan membuangnya sembarangan. Suara Hanna tercekat, ia ingin berteriak tapi suaranya tidak mau keluar, semua terasa tertahan di tenggorokannya.
Sam mulai menjilati leher Hanna, membuat Hanna semakin berusaha melepaskan diri. Sikap Hanna yang terus melawan, membuat Sam semakin bergairah dan kembali memberi pukulan dengan ikat pinggang miliknya yang sudah ia lipat menjadi dua.
Suara teriakan Hanna akhirnya keluar dari bibirnya saat ikat pinggang tersebut menyentuh kulitnya untuk yang kedua kalinya.
"Kalau saja kamu tidak melawanku, aku tidak akan berbuat kasar. King memang sangat bodoh ... ia justru membenci dan menuduh sahabatnya sendiri yang telah mengkhianatinya," Sam tertawa dengan keras sambil menjilati dan menyentuh tubuh Hanna.
Bughhh!!!
Sebuah pukulan langsung mendarat di wajah Sam dengan begitu keras. Ia ditarik dari atas tubuh Hanna dan didorong ke lantai. Dengan membabi buta ia dipukul. Tapi bukan Sam jika hanya menerima. Ia pun langsung membalas setiap pukulan yang ia terima.
Hanna yang melihat adanya kesempatan ia segera meraih kemejanya. Ia memakainya, meskipun beberapa kancing sudah terlepas dari sana. Ia sudah tidak peduli dengan apa yang terjadi, asalkan ia bisa segera keluar dari sana.
Ketika ia sampai di pintu dan ingin keluar, tangannya ditarik, "Le-lepas, lepaskan aku!" teriaknya sambil memejamkan matanya.
"Han! ini aku."
Hanna memutar tubuhnya dan melihat King ada di hadapannya, tapi ia langsung menghempaskan tangan King dan kembali berjalan.
"Han!"
"Jangan ikuti aku. Aku tidak membutuhkan bantuanmu. Tinggalkan aku."
"Han, dengarkan aku. Kita harus pergi dari sini sebelum Sam sadar kembali. Apa kamu ingin ia kembali menyakitimu?"
King langsung mengangkat Hanna yang tiba tiba tak sadarkan diri. Ia membawa Hanna ke mobilnya, dan mendudukkannya di kursi samping kemudi. Dengan kecepatan penuh ia segera meninggalkan tempat itu dan menuju rumah sakit.
*****
Ben berjalan bolak balik sedari tadi, ia benar benar memgkhawatirkan Hanna. Ia merutuki dirinya sendiri yang lupa menjemput Hanna.
"Bodoh, bodoh, bodoh!!" Ben memukul kepalanya sendiri.
Ia sudah menelepon pihak kepolisian, namun ia belum bisa membuat berita kehilangan karena belum 24 jam. Akhirnya ia meminta bantuan sahabatnya untuk mengerahkan anak buahnya. Ia merasa sangat gelisah.
"Tenanglah, sayang. Hanna pasti akan baik baik saja," Maria berusaha menenangkan Ben.
Tiba tiba ponsel Ben berbunyi, ia langsung meraihnya dan menggeser tombol hijau tanpa melihat lagu siapa peneleponnya.
"Baiklah, aku segera ke sana."
"Sayang, aku harus segera ke rumah sakit," ucap Ben sambil menuju ke kamar tidurnya untuk berganti pakaian.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dan siapa yang menelepon?" Maria langsung menyiapkan pakaian Ben.
"Anthony mengatakan Hanna berada di rumah sakit."
"Anthony?"
"Ya, teman Hanna. Aku pergi dulu, sayang. Kamu tidurlah, jangan sampai kelelahan," Ben mengecup Maria dan juga perut Maria.
"Hati hati, sayang. Jangan ngebut," pesan Maria.
"Aku mengerti."
*****
King yang berada di rumah sakit tidak tahu harus menghubungi siapa, karena ia memang tidak memiliki nomor ponsel siapapun. Yaa, bahkan ia sudah tidak memiliki nomor ponsel sahabatnya .... maaf mantan sahabat.
Kimberly.
King meraih ponsel di kantongnya, menghubungi Kimberly.
"Kim, bantu kakak ..."
Sekitar 30 menit kemudian, Anthony datang bersamaan dengan Ben.
Laki laki itu? - King.
Mata Anthony langsung menatap tajam ke arah King, seperti bertanya apa yang telah terjadi. Seorang dokter keluar dari ruang ICU.
"Keluarga pasien Hanna?"
"Saya, Dok," ucap Ben mendekat.
"Dokter Ben?"
"Iya saya. Hanna adalah adik saya."
Adik? Hanna adik dari laki laki ini? Sejak kapan Hanna memiliki kakak? Bukankah ia anak tunggal. - King.
"Adik anda tidak apa apa. Ia mengalami memar dan lebam di beberapa bagian tubuhnya. Kita hanya perlu menunggu ia sadar saja."
"Baik, Dok."
"Baiklah, aku pergi dulu. Aku akan meminta mereka memindahkan adikmu ke ruang perawatan."
__ADS_1
"Terima kasih."
Setelah berbicara dengan Dokter yang menangani Hanna, mata Ben tertuju pada King, "Sekarang katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?"