
"Tubuhnya terasa sakit saat ia mengalami itu, tapi sepertinya hatinya jauh lebih sakit. Ketika seseorang yang ia harapkan berada di sampingnya, justru adalah seseorang yang paling menyakiti hatinya," jelas Ben yang akhirnya mengatakan semuanya pada King.
"Tapi kenapa ia tak pernah mengatakannya?"
"Apa kamu akan percaya apa yang ia katakan? bukankah kamu lebih percaya dengan apa yang kamu lihat?" ucap Ben.
"Ia menyembunyikan traumanya sendirian, tak ada yang tahu. Untung saja saat itu aku ke rumahnya untuk memeriksa bagaimana keadaan Mamanya. Ia sedang berada di dalam kamar sendirian, seperti orang ketakutan. Di sanalah aku baru tahu kalau sesuatu telah terjadi padanya."
"Apa ia akan sembuh?"
"Aku tidak bisa menjamin. Awal awal ia kuliah, ia mulai menjalani terapi. Perlahan tapi pasti, ia bisa mengontrol emosinya. Kemudian timbul kembali tahun terakhir ia akan lulus. Setelah itu ia pergi, mencari suasana yang baru. Aku tak pernah mendengar kabar darinya, hingga Anthony mengabariku."
"Ini semua salahku. Apa ia akan memaafkanku?" tanya King.
"Hanna adalah pribadi yang baik, tapi tentang hati tak ada yang tahu. Berusahalah," Ben menepuk bahu King.
Kukatakan padamu, jika sampai sesuatu terjadi pada Hanna, itu semua karenamu!
Aku sudah tidak ada lagi hubungan dengan wanita itu, tak akan! Lebih baik kamu pergi karena aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu.
Tak akan? Kupegang kata katamu. Jangan sampai kamu menyesal karena kamu tidak mau mendengarkanku saat ini. Jika suatu saat kamu mengetahui kebenarannya, dan ia tak mau kembali padamu, kuharap kamu juga harus menerima dengan ikhlas seperti apa yang ia lakukan saat ini.
King teringat pembicaraannya dengan Anthony kala itu. Kalau saja ia bertanya dahulu pada Hanna dan Anthony dulu, dan tidak mempercayai apa yang dilihatnya, tentu semua ini tak akan pernah terjadi.
"Ini semua kesalahanku. Kalau saja ....," King memegang dan meremas rambutnya. Ia duduk di bangku taman rumah sakit, memandang langit sore itu.
__ADS_1
Dua pasang mata melihat ke arahnya, "Apa Kak King baik baik saja?"
"Ia akan baik baik saja. Ia hanya baru menyadari kesalahannya."
"Aku tak mengerti mengenai hubungan kalian sebenarnya," ucap Kimberly sambil memainkan jarinya di dagunya.
"Kamu tidak perlu mengerti, yang perlu kamu lakukan hanyalah memberi support pada kakakmu itu ... dan katakan padanya bahwa dia terlihat berantakan," bisik Anthony di telinga Kimberly, membuat kulitnya meremang. Ia juga bisa merasakan bahwa kini wajahnya pasti sudah memerah karena merasakan hembusan nafas Anthony di telinganya.
"Kakakkk!!! geli ihhh!!!" teriak Kimberly untuk menutupi wajahnya yang memerah. Anthony pun tertawa karena berhasil mengganggu Kimberly.
"Makanya biarkan kakakmu sendiri dulu, kurasa ia memerlukan waktu untuk berpikir. Ayo kita menemui Hanna," ajak Anthony.
Di dalam ruang rawat Hanna,
"Apa Kak Hanna akan terus tidur seperti ini?" tanya Kimberly pada Anthony.
Kimberly memegang tangan Hanna, "Kak, bangunlah. Apa kakak tidak ingin bertemu dengan aku yang manis ini? Padahal aku sangat rindu loh, tapi jangan suruh aku nulis lagi ya, cape. Kalau Kak Hanna sudah bangun, aku akan ajak kakak menemui Kristy dan Lady, dijamin kakak akan tertawa sampai menangis. Bahkan kakak tidak ingin tidur lagi, karena tiap kali menutup mata, pasti wajah mereka yang terbayang, itu pasti mengerikan. Ayo kak, bangunlah! Nanti aku traktir es krim deh. Aku juga nggak akan minta punya Kak Hanna seperti sebelum sebelumnya. Kita bisa minta Kak Lee membayar semuanya, kita makan sepuasnya. Biar saja dia bangkrut, ya kan?"
"Kak, aku tidak tahu masalah apa yang Kak Hanna hadapi, tapi percayalah padaku kalau semua ini tak akan pernah selesai jika Kak Hanna hanya diam seperti ini. Bangunlah dan selesaikan semuanya. Kami akan selalu bersama kakak, melewati semuanya," Kimberly memberi pelukan pada Hanna, membuat Anthony tersenyum.
Tiba tiba Kimberly merasakan tangan Hanna bergerak, "Kak ...," ucap Kimberly sambil melihat ke arah Anthony.
"Ada apa, Kim?"
"Kak Hanna .... tangan Kak Hanna bergerak, Kak," ucap Kimberly.
__ADS_1
"Benarkah? Sebentar aku akan memanggil Dokter," Anthony menekan tombol.
Tak lama, seorang dokter yang biasa menangani Hanna datang. Anthony pun langsung menelepon Ben untuk memberikan kabar. Kimberly dan Anthony dipersilakan oleh perawat untuk keluar, sementara mereka akan memeriksa Hanna.
"Kim, aku akan mencari King terlebih dahulu. Kamu tunggu di sini ya."
"Iya, Kak," Kimberly duduk di sofa yang memang disediakan tak jauh dari ruang rawat Hanna. Saat Kimberly sedang melihat sekeliling, ia melihat William yang berlari menuju ruangan ICU sebelah ruang Hanna.
Memang sebelum Kimberly duduk, ia sempat melihat sebuah brankar masuk ke dalam bersama dengan dokter dan beberapa perawat. Kimberly bisa melihat kekhawatiran di wajah William, penampilannya juga begitu kusut.
William berjalan bolak balik. Saat ia memutar tubuhnya, ia melihat Kimberly sedang melihat ke arahnya, mata mereka bertemu. Hal itu membuat gelenyar aneh pada diri William, ia pun berjalan mendekati Kimberly yang tengah duduk sendiri.
"Apa kamu sendiri?"
"Tidak," jawab Kimberly singkat.
Tak lama, seorang dokter keluar dari ruang ICU menghampiri William. Dari raut wajahnya, Kimberly bisa membaca bahwa bukan berita baik yang akan disampaikan, "Maaf Tuan, kami sudah berusaha melakukan yang terbaik. Namun, putri anda tidak dapat kami selamatkan."
William lemas. Meskipun Vivian bukan putri kandungnya, tapi berita ini sangat menyakitkan baginya. Anak yang sering ia gendong, ia peluk dan cium, kini sudah tak ada lagi. Penyemangatnya saat ia pulang dari kantor, setelah menghadapi banyaknya dokumen di atas meja. Air matanya kini mengalir.
Dalam hati Kimberly merasa kasihan kepada William. Ia memegangi William dan mengajaknya duduk.
"Kenapa? Kenapa harus seperti ini? Mengapa Tuhan mengambilnya begitu cepat? Bahkan aku belum selesai berusaha untuk membuatnya sembuh," William terus berbicara dengan air mata di pipinya, sementara Kimberly hanya bisa menenangkan William.
Plakkk!!!
__ADS_1
*****