SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
STATUSMU SUDAH BERUBAH


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya King yang melihat seorang Dokter keluar dari ruang tempat Hanna dirawat.


"Masih sama, ia belum sadarkan diri," Dokter itu pun berlalu pergi.


Tak berselang lama, Ben datang dan ingin masuk ke dalam ruangan Hanna. Ia melihat King yang masih setia menunggu di sana. Ia terlihat lelah dan agak kurus. Ben pun akhirnya menghampiri.


"Pulanglah, tak ada gunanya kamu berada di sini. Kita belum tahu kapan Hanna akan sadar."


King menengadahkan wajahnya ke arah Ben, "Bolehkah aku masuk? Aku ingin bicara padanya."


"Sebaiknya kamu istirahat dulu dan nanti kembali lagi. Aku akan mengijinkanmu masuk."


"Benarkah?" wajah King berubah, terlihat ada sedikit senyuman yang muncul.


"Hmm ..."


"Baiklah, aku akan pulang untuk beristirahat. Setelah itu aku akan kembali kemari. Berjanjilah aku boleh masuk untuk menjaganya."


"Aku hanya mengijinkanmu masuk 1 kali saja," ucap Ben.


"T-tapi aku ingin menjaganya."


"Aku memeriksa kesehatan psikologisnya dulu saat ia sadar nanti."


"Aku mohon, maukah kamu menceritakan padaku tentang kesehatannya? Aku berjanji tak akan mengatakan pada siapapun."


Ben menghela nafasnya, ia sudah seringkali menolak King. Tapi laki laki ini tetap bersikeras.


"Kita lihat nanti. Sekarang sebaiknya kamu pulang dulu."


King menganggukkan kepala dan akhirnya pulang. Ia sudah lama pulang hanya untuk sekedar mengganti pakaiannya dan kembali lagi. Bahkan ia menyerahkan urusan kantor kepada Max.

__ADS_1


*****


Kimberly tak langsung pulang ke rumah. Ia tak mau Maminya bertanya ini dan itu. Di sinilah ia sekarang ruangan kantor Anthony. Ntah mengapa ia merasa nyaman berada di sana, melihat Anthony bekerja, seperti pemandangan yang menyenangkan untuknya saat ini.


"Jangan terus memandangiku seperti itu, bisa bisa kamu jatuh cinta padaku," goda Anthony.


"Ihhh kakak!"


Kalau saja Kak Lee tahu, jantungku berdetak lebih cepat saat bersamanya. Tapi, aku tidak boleh kan ... mengambil apa yang bukan milikku. Kalau tidak, kejadian yang sama akan terulang kembali.


"Masalah apa yang membuatmu kemari, Kim?" tanya Anthony sambil menandatangani berkas berkas di hadapannya.


"Hmm, Kak Lee selalu tahu saja."


"Ayo ceritakan padaku, hmm ...," Anthony bangkit dari kursinya, kemudian menghampiri Kimberly yang sedang duduk di sofa.


"Kak, apa aku memang tidak bisa melakukan apapun sendiri?"


"Pekerjaanku sekarang ini, aku mendapatkannya tidak dengan kemampuanku sendiri. Awalnya aku marah pada Kepala HRD ku, yang mengatakan bahwa aku masuk ke Megatech karena koneksi. Tapi setelah aku tahu semuanya .... aku malu untuk kembali bekerja di sana."


"Apa yang sebenarnya?" tanya Anthony sambil menatap Kimberly lekat.


"William ... William yang mengajukan referensi pada Jeremy, sahabatnya, untuk menerimaku di sana. Menyebalkan! Aku lebih baik tidak diterima daripada dipermalukan seperti sekarang ini."


"Kalau begitu, tunjukkan pada mereka bahwa kamu bisa mengerjakan pekerjaan yang mereka berikan. Perlihatkan kemampuanmu sehingga mereka tidak akan berani menjelekkanmu atau mempermalukanmu lagi."


"Kak ..."


"Jangan karena mereka seperti itu, kamu menjadi putus asa dan kehilangan semangatmu, Kim. Itu bukan Kimberly yang kukenal. Dengarkan aku, kamu adalah wanita yang kuat. Hal seperti itu tidak ada apa apanya dibanding semua hal yang telah kamu lewati."


"Kakak benar, jika aku menyerah, itu sama saja aku membiarkan mereka memandang rendah diriku, padahal aku punya kemampuan." Anthony mengangguk dan mengelus pucuk kepala Kimberly, membuat jantung Kimberly kembali berdetak tak tahu aturan.

__ADS_1


"Kalau begitu, kamu mau kan menemani kakak makan siang, bersama teman temanmu?" tanpa banyak bicara, Kimberly menganggukkan kepala dengan senyum yang terukir di wajahnya. Anthony selalu tahu bagaimana membuatnya kuat, membuatnya senang.


*****


Setelah pertemuannya dengan Anthony dan berkumpul bersama sahabat sahabatnya, perasaan Kimberly menjadi lebih baik. Sahabat sahabatnya juga mendukungnya, agar Kimberly menunjukkan kemampuannya. Kimberly dikenal sebagai mahasiswi berprestasi, baik saat mengambil titel sarjana ataupun master.


Ia tak akan mendengarkan perkataan negatif dari Bu Melisa ataupun Pak Lukas, karena meskipun semua itu mungkin benar, tapi ia harus menunjukkan bahwa dirinya memiliki kemampuan.


Kimberly merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tersenyum sambil memandang langit langit kamarnya. Ia memang pernah mengalami bagaimana pahitnya mencintai seseorang, tapi ia memiliki sahabat yang luar biasa. Mereka selalu ada untuknya, terutama Anthony.


"Jika nanti Kak Lee sudah menikah, pasti ia tak akan memperlakukanku seperti sekarang. Kak Lee sangat baik, mungkin terlalu baik untuk wanita egois sepertiku. Wanita yang akan menjadi istrinya sungguh sangat beruntung. Biarlah ... menjadi adiknya saja sudah menjadi hal yang luar biasa untukku," Kimberly tersenyum kembali dan memeluk salah satu bantal miliknya, sampai akhirnya ia terlelap.


*****


Pagi itu, William duduk berhadapan dengan Arman di dalam ruangannya.


"Kamu yakin, Wil? Kamu benar akan melakukan langkah ini?"


"Aku yakin. Aku mencintainya, man. Tapi .... ternyata sejak awal ia tak pernag sungguh sungguh mencintaiku. Aku sudah terbiasa mentolerir semua sikapnya, tapi tidak untuk yang 1 ini. Siapkan semuanya dan aku ingin hak asuh Vivian tetap ada padaku, meskipun ... ia bukan putri kandungku."


Arman cukup kaget mendengar apa yang dikatakan oleh William. Jadi alasan William menggugat cerai Viera adalah karena Vivian, bukan karena Viera berselingkuh.


"Lalu, bagaimana jika istrimu meminta pembagian harta?"


"Berikan saja apa yang memang menjadi miliknya, tapi hanya dari apa yang kumiliki saat ini, bukan apa yang menjadi milik orang tuaku."


"Baiklah Wil, jika kamu sudah yakin, aku akan menjalankannya. Lalu bagaimana dengan kedua orang tuamu?"


"Itu akan menjadi urusanku. Aku sendiri yang akan mengatakan kepada mereka. Sejak awal ini adalah kesalahanku. Meskipun mereka akan memakiku karena hal ini, aku akan menerimanya," William berucap sembari tersenyum tipis yang terlihat dibuat buat.


Saat kamu kembali, aku ingin tahu bagaimana perasaanmu ketika statusmu sudah berubah. - William.

__ADS_1


*****


__ADS_2