SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
KONEKSI


__ADS_3

Kimberly melangkah menyusuri Rumah Sakit Internasional, tempat dimana Papinya menjadi Dokter Jantung di sana. Setelah semalam mendapat telepon dari King untuk menghubungi Anthony agar menelepon keluarga Hanna.


"Kak!" sapa Kimberly pada King. Penampilan kakaknya masih acak acakan, benar benar kusut.


"Ini pakaian ganti kakak. Apa kakak tidak mau pulang?"


"Tidak, Kim. Aku akan di sini sampai ia sadar."


"Kak Hanna?" tanya Kimberly dan diangguki oleh King.


Melihat keadaan King, Kimberly tak bertanya lebih jauh lagi, "Ini sarapan untuk kakak, Mami yang membuatkannya."


"Terima kasih, Kim."


"Kakak bisa istirahat di ruangan Papi katanya. Ini kuncinya," Kimberly membuka telapak tangan King dan meletakkan sebuah kunci di sana, "Istirahatlah dulu, Kak. Penampilan kakak benar benar .... berantakan."


"Baiklah, Kak. Aku pergi dulu. Aku harus ke kantor. Nanti aku akan kembali lagi," setelah memeluk King, Kimberly pun melangkahkan kakinya pergi.


Ketika ia berjalan, pandangannya menangkap sosok William yang sedang berjalan bolak balik, dengan wajah yang cemas. Hati dan pikiran Kimberly seakan tak sejalan. Ketika pikirannya menentang untuk mendekat, sementara hatinya kasihan melihat keadaan William.


Namun, akhirnya pikirannya menang. Ia terus berucap sendiri untuk menganggap William tak pernah ada. Meskipun hanya menjadi teman, itu hanya bagian masa lalu. Ia pun akhirnya berjalan menuju parkiran, mengambil mobilnya untuk berangkat ke kantor.


Sementara William di rumah sakit merasa khawatir dan tegang. Vivian kembali mengalami demam dan kini disertai mimisan. Dokter pun segera melakukan penanganan.


"Bagaimana" tanya William pada Dokter Freya.


"Kita bicara di ruanganku saja," Freya mengajak William untuk duduk berhadapan di ruang prakteknya, kemudian menghela nafasnya pelan. Ketegangan muncul di wajah William.


"Katakan, apa yang terjadi pada Vivian?"


"Setelah melakukan secara fisik dan juga laboratorium, kami telah membentuk tim dokter untuk menangani Vivian. Ia terkena penyakit kanker darah atau yang kita kenal dengan Leukimia."


"T-tapi Vivian masih kecil. Mana mungkin ia bisa terkena penyakit seperti itu."


"Penyakit ini tidak mengenal usia, Tuan William. Melihat usia Vivian, saya bisa mengatakan bahwa ia mengalami penyakit ini karena diturunkan, yang artinya salah satu anggota keluarganya memiliki penyakit seperti ini."


"Tidak mungkin, keluarga saya tidak ada yang mengalami hal seperti itu."

__ADS_1


"Bagaimana dengan keluarga istri anda?"


William terdiam. Ia tak bisa menjawab dengan yakin, tapi seingatnya, Mama Viera juga sakit kanker tapi ia tidak tahu dengan jelas hingga Mama Viera meninggal setahun yang lalu.


"Saya kurang tahu, Dok."


"Kalau begitu, sebaiknya kami juga mengecek kesehatan anda untuk berjaga jaga. Selain itu kami memerlukan pengecekan secara menyeluruh pada seluruh anggota keluarga anda untuk membantu pengobatan Vivian, jika anda berkenan."


"Lakukan yang terbaik, Dok," ucap William.


"Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu. Saya akan mempersiapkan semuanya. Oya, saya harap anda bersiap nanti malam untuk menjalani pemeriksaan," William pun mengangguk menyetujui.


*****


Kimberly yang berada di kantor sama sekali tak bisa konsentrasi. Ia terus memikirkan kakaknya dan apa yang sebenarnya terjadi pada Hanna.


"Ayo! ngelamunin siapa? pagi pagi udah ngelamun aja. Ntar kena ocehan Bu Melisa lagi loh," ucap Anantha.


"Ihhh, siapa yang ngelamun, aku cuma lagi mikir."


"Mikir?"


"Buset deh, makan pagi aja belum lama rasanya, udah mikir makan siang aja. Aku baru mikir makan aja, langsung berat badan rasanya naik, jadi males mikir, mending langsung makan aja," ucap Anantha, membuat Kimberly ikut tertawa.


"Eh tapi kenapa ya Bu Melisa itu kayanya senewen banget sama kamu. Padahal dia juga bukan Kepala bagian keuangan kan? Kerjaan kamu kayaknya banyak bener, sedangkan aku dan rekan yang lain biasa aja. Bener deh, aku kadang suka kasihan sama kamu, Pak Lukas kok kayaknya ngasi kerjaan banyak banget ke kamu."


"Ah masa sih? Kerjaanku biasa aja ah, kamu lebay tha."


"Ihhh beneran! Kamu nggak punya kesalahan apapun kan sama Pak Lukas atau Bu Melisa?"


"Kesalahan gimana? kenal aja baru sekarang ini," ucap Kimberly.


"Kalian mau terus ngobrol atau kerja?!" Anantha langsung berbalik dan duduk di tempatnya setelah tiba tiba saja Melisa datang dan masuk ke dalam ruangan Lukas.


"Kim, kerjakan ini dan serahkan pada saya sebelum jam makan siang," perintah Lukas. Di belakang Lukas ada Melisa yang tersenyum sinis.


"Baik, Pak," Kimberly tak membantah permintaan Lukas, meskipun ia melihat bahwa perkerjaan yang diberikan oleh Lukas sungguh sangat banyak, sepertinya tak mungkin ia menyelesaikannya sebelum jam makan siang. Kimberly pun langsung mengerjakannya.

__ADS_1


Tuh liat Kim, rasanya Bu Melisa kayak ada dendam sama kamu. Aku bisa melihat sendiri bagaimana cara dia melihatmu, meskipun kita belum lama bekerja di sini. - Anantha.


Jam makan siang sudah tiba, Kimberly masih sibuk dengan semua pekerjaan yang diberikan oleh Lukas.


"Kim, makan yuk!"


"Kamu duluan aja, tha. Aku masih harus mengerjakan ini," ucap Kimberly tanpa mengalihkan pandangannya.


"Jangan pernah menunda makan, Kim. Nanti kalau kamu sakit gimana?"


"Nggak kok, tha. Tadi pagi aku udah makan sebakul, udah disimpan juga buat cadangan."


"Ya ampun, Kim. Kamu kira unta apa punya punuk buat nyimpen makanan. Kamu mau nitip apa nggak? Aku mau keluar sama Marisa."


"Nggak usah. Aku selesaiin ini dulu. Kalau ada makanan malah nanti aku nggak konsen. Sana cepet makan, sebelum Bu Melisa datang dan nggak ngasi kamu keluar makan loh," ucap Kimberly.


"Ya udah, aku pergi dulu ya."


Anantha segera pergi meninggalkan Kimberly, sementara Kimberly masih terus menyelesaikan pekerjaannya. Setelah kepergian Anantha dan rekan kerja yang lain, kini tinggal Kimberly yang berada di ruangan itu.


"Sudah selesai?" tanya Lukas


"Maaf Pak, belum. Tapi saya pastikan hari ini selesai."


"Payah! Kerjaan segitu aja lama sekali. Emang kalau orang masuk ke sini karena koneksi, pasti tidak sesuai dengan kemampuannya," ejek Melisa dari arah pintu masuk.


Deghhh ....


Koneksi? Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu. Dari mana Bu Melisa bisa berkata seperti itu. - Kimberly.


"Maaf, Bu. Tapi saya melamar ke sini tanpa koneksi dari siapapun. Bahkan saya melihat iklan lowongan pekerjaan di perusahaan ini juga lewat online," Kimberly pun akhirnya angkat bicara karena ini sudah menyinggung perasaannya. Ia tidak masalah jika Melisa tidak suka dengannya atau Lukas yang memberikannya pekerjaan segunung, tapi tidak dengan menyinggung harga dirinya.


"Alahhh, nggak usah banyak ngomong lha. Kita juga udah pada tahu kok kalau kamu itu ada hubungan sama CEO perusahaan ini kan?"


"Bu Melisa jangan sembarangan bicara. Saya sudah berusaha untuk diam dan hormat sama ibu, tapi bukan berarti ibu bisa seenaknya mengatakan hal seperti itu."


Lukas yang melihatnya pun akhirnya membawa Melisa pergi, sebelum ruangan tersebut menjadi tontonan dari divisi lain. Kimberly menghela nafasnya dan duduk kembali di kursinya.

__ADS_1


Ada apa sebenarnya?


__ADS_2