SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
PERGI UNTUK MENGEJARNYA


__ADS_3

Seorang wanita dengan penampilan yang sangat sederhana memasuki ruangan. Berjalan dengan sedikit menunduk dan menggenggam kedua tangannya erat.


"Dia?" Kimberly mengernyitkan dahinya.


"Dia yang akan menggantikan posisimu, Kim. Bukankah kamu tidak ingin menikah."


"T-tapi Kak. Aku tidak ingin mengorbankan wanita lain. William itu brengsek kak, apa kakak tidak kasihan dengan wanita ini?"


"Siapa namamu?" tanya Kimberly pada seorang gadis yang ia yakini usianya lebih muda darinya.


"A-aku Luna, Kak," jawabnya pelan.


"Berapa usiamu?"


"21 tahun."


"Kakk!! Apa kakak tidak kasihan padanya jika ia harus bersanding dengan William? Lagipula apa William mau?"


"Ia harus mau, Kim. Aku tidak mau kamu tidak bahagia."


"Tapi kakak akan mengorbankan kebahagiaan wanita lainnya lagi. Aku mungkin tidak akan bahagia bersamanya, tapi setidaknya aku tidak ingin mengorbankan orang lain. Mungkin ini sudah jalan hidupku, Kak."


"Kim ... wanita itu sedang mengandung. Itu adalah anak William. Kakak sudah memeriksa wanita ini, bahkan Anthony juga yang pertama kali memberikan informasi ini pada kakak."


"Benarkah? Ya ampun! Tega sekali William melakukan itu," Kimberly kembali menghampiri Luna, "Apa kamu sudah meminta pertanggungjawaban padanya?"


Luna menggelengkan kepalanya. Ia teringat kembali hari di mana William telah melakukan hal itu padanya secara paksa, bahkan itu adalah yang pertama baginya. Luna menangis saat menceritakannya, bahkan ia tak bisa dengan lancar mengatakannya.

__ADS_1


"Kamu tenang saja. Aku akan memastikan dia akan menikahimu. Ia tak akan bisa lagi melakukan hal seperti itu padamu."


"Jadi ... kamu setuju dengan semua ini kan, Kim?"


"Tentu saja aku setuju, Kak. Jika ia membalasku, maka aku akan membalasnya juga."


Kimberly meminta gadis itu untuk duduk dan meminta MUA tadi untuk merias gadis itu. Gerakan tangan yang begitu terampil membuat tampilan Luna begitu luar biasa. Ia masih terlihat sederhana, tapi dengan riasan yang begitu natural.


"Kamu cantik, Lun. Kamu tenang ya, aku akan meminta orang tuaku untuk menjadi pengganti orang tuamu. Aku akan menganggapmu saudaraku, karena kamu telah menolongku. Aku juga akan selalu ada bagimu, jadi jika sampai laki laki itu berbuat hal yang tidak baik padamu, aku akan berdiri di depanmu untuk melawannya. Yang terpenting sekarang jagalah calon bayimu. Aku akan pastikan Uncle dan Aunty akan menyayangimu dan bayimu," Kimberly mengusap rambut Luna dan juga perutnya yang masih rata, sambil tersenyum.


"Terima kasih, Kak," Luna memeluk Kimberly dan meneteskan air mata.


"Ayo jangan menangis, nanti make up nya luntur," canda Kimberly


Kimberly bangkit dan menoleh ke arah King, "Kak, bisakah aku berbicara dengan Mami, Papi, Uncle dan Aunty."


"Tentu saja, Kim. Aku sudah mengumpulkan mereka di ruang sebelah."


*****


Kedua orang tua mereka sudah berdiri di hadapan para tamu undangan. Hari ini adalah hari besar bagi keluarga Smith, yaitu pernikahan William Smith.


William berdiri dekat panggung, menunggu kehadiran sang mempelai wanita, untuk bersama menaiki panggung dan mengucapkan janji pernikahan mereka.


Lampu lampu dibuat kesan romantis ketika sang mempelai wanita telah siap memasuki ruangan. Alan, masuk ke dalam ruangan sambil menggandeng seorang wanita dengan gaun putih yang indah. Di belakang mereka, berjalan King bersama dengan Kimberly.


Para tamu melihat mereka dengan tatapan heran, begitu juga dengan William. Sementara kedua orang tuanya dan calon mertuanya terlihat biasa saja.

__ADS_1


Saat sampai di depan, Alan memberikan tangan Luna pada William dan melihat William dengan tatapan tajam.


"Ia juga anakku. Jangan pernah kamu sakiti dia. Jika kamu berani menyakitinya, maka kamu akan berhadapan dengan kami semua," ucap Alan pelan namun tegas. William agak sedikit ciut nyalinya saat mendengar Alan berkata seperti itu.


William melihat ke arah Kimberly yang menatapnya dengan sorot mata yang tidak dapat ia mengerti. Ia menoleh ke arah Kimberly bergantian ke arah Luna.


Kimberly mendekati William, "Kamu ingin membalasku dengan membawaku ke dalam pernikahan kan? Tapi ingatlah satu hal, kamu meninggalkanku saat acara pernikahan kita dulu. Jadi aku akan melakukan yang sama, kita impas. Aku mencintai orang lain, dan aku juga berharap kamu bisa mencintai Luna. Aku akan memaafkanmu atas semuanya, Wil. Jaga Luna seperti kamu dulu bisa menjagaku. Ia akan menjadi ibu dari anakmu, jangan pernah menyakitinya. Ia juga telah kuanggap sebagai adikku. Jika memang kamu tidak bisa mencintainya, kembalikan dia padaku. Aku akan menjaga dia dan anaknya, kamu mengerti?" Kimberly menghapus buliran air mata yang turun di ujung matanya.


"Kim, maksudmu?"


"Aku tidak ingin membuat keributan di sini, karena aku masih menghargai Uncle dan Aunty. Aku ingin kamu berubah, Wil. Uncle dan Aunty sudah mengetahui semuanya, bahkan mereka menyetujui semua keputusanku," William melihat ke arah Daddy dan Mommynya, serta Alan dan Megan, calon mertuanya.


Ia melihat seorang wanita di hadapannya, dengan wajah yang masih ditutup dengan sebuah slayer. William menghela nafasnya, sekali lagi ia merasa telah kalah dari Kimberly. Ternyata Tuhan tak merestui apa yang telah ia lakukan pada Kimberly, membawanya paksa dalam sebuah pernikahan.


"Mungkin kita tidak ditakdirkan untuk menjadi pasangan, tapi kita masih bisa menjadi saudara, Wil. Bagaimanapun Luna kini adalah adikku. Aku juga minta maaf atas semua kesalahanku dulu."


"Tidak mudah sebenarnya bagiku memaafkanku, setelah apa yang kamu lakukan. Tapi ... aku melihat seseorang yang sangat mencintaiku. Ia bahkan rela mengorbankan perasaannya dan tetap menyayangiku, meskipun aku akan menikah denganmu. Ia mencintaiku dengan sangat tulus, dan mungkin itulah yang seharusnya kulakukan padamu dulu. Maaf jika dulu aku memaksakan kehendakku padamu."


"Kim ... maaf, maafkan aku," tiba tiba saja William berlutut di hadapan Kimberly dan memegang kedua tangannya. Para tamu undangan melihat haru ke arah mereka, kilat cahaya dari kamera pun mulai terlihat. King memerintahkan Max untuk memeriksa semua ponsel para tamu sebelum mereka keluar dari ruangan nanti. Tak ada yang bisa keluar dengan membawa foto tentang hal ini. Ia juga telah menyewa ahli bidang IT untuk memblokir semua berita tentang pernikahan keluarga Smith.


Kimberly ikut berlutut, mensejajarkan dirinya dengan William, "Jujur aku marah padamu, aku benci, sangat benci atas apa yang kamu lakukan. Tapi karena hal itu aku justru mengetahui rasa cinta seseorang yang selama ini ada untukku. Kamu harus mengejar kebahagiaanmu seperti aku juga akan pergi untuk mengejarnya."


"Oya 1 lagi ... aku baru sadar, seharusnya aku tidak perlu takut dengan ancamanmu. Jika kamu berani, maka aku akan meminta Uncle untuk mencoret namamu dari keluarga Smith. Ingat itu! Benarkan Uncle?" Kimberly tersenyum pada Michael, membuat William mengerucutkan bibirnya kesal. Hilang sudah nyalinya jika berhadapan dengan Daddynya.


Akhirnya, acara pernikahan pun dimulai. Kimberly menyaksikannya dengan senyum di wajahnya. William membuka slayer yang menutupi wajah Luna. Ia melihat seorang wanita cantik yang terlihat sangat sederhana. Jujur ia sama sekali tidak mengenal Luna, tapi ia ingat apa yang telah ia lakukan pada Luna.


"Maaf atas semua yang telah kulakukan. Aku berjanji akan belajar untuk mencintaimu, beri aku waktu," ucap William sambil memandang Luna, yang menjawabnya dengan anggukan.

__ADS_1


Kimberly pun mendekati William dan Luna, "Selamat atas pernikahan kalian. Aku mendoakan yang terbaik untuk kalian sekeluarga. Sekarang ... aku harus pergi, untuk mengejar seseorang."


Kimberly segera pergi meninggalkan ruangan setelah pamit pada kedua orang tuanya, Uncle dan Aunty Smith, juga pada Kakaknya.


__ADS_2