
Keberangkatan Kimberly sudah di depan mata, karena kini ia sudah berdiri di bandara, memegang tiket dan paspornya. Ia akan bertolak ke Amerika untuk melanjutkan studinya.
"Sayang ... Mami akan sangat merindukanmu," ucap megan sambil memeluk Kimberly.
"Kim juga akan merindukan Mami, masakan Mami, pelukan Mami, semuanya ...," Kimberly tersenyum meski ada rasa pedih juga di dalam hatinya.
"Belajar yang giat, sayang. Papi yakin kamu pasti bisa, kamu akan berhasil. Papi dan Mami akan selalu mendoakanmu," Alan mengusap pucuk kepala putrinya.
"Kak ..."
"Apa kamu tak ingin merubah keputusanmu, Kim?" tanya King.
"Tidak, Kak."
"Apa kamu melakukan semua ini hanya untuk melarikan diri, Kim?" tanya King lagi.
"Maafkan aku, Kak. Ini bukan hal yang mudah untukku. Mungkin dengan berjauhan dan tak melihatnya, perasaan ini perlahan akan menghilang."
Tak semudah itu, Kim. Bahkan kakakmu ini masih terjebak pada masa lalu, dan ntah kapan bisa kembali.
"Baiklah jika itu keputusanmu, kakak akan menghargainya. Tapi ingat Kim, kami di sini menyayangimu. Kami akan selalu melindungimu dari siapapun yang akan menyakitimu," King mengacak rambut Kimberly.
"Kakakkk!!"
Panggilan penerbangan sudah menggema. Kimberly sudah berpamitan dengan Lady dan Kristy kemarin. Namun, ia masih mengedarkan pandangannya ke sekeliling, berharap ...
"Kamu mencari seseorang, Kim?" tanya King.
"Ooo tidak, Kak. Aku hanya ....," panggilan penerbangan kembali menggema, Kimberly pun akhirnya masuk ke dalam untuk melakukan semua proses hingga masuk ke dalam pesawat.
*****
Perjalanan yang memakan waktu sekitar 20 jam, membuat tubuh Kimberly terasa pegal. Sesaat setelah keluar dari pesawat, ia menggerak gerakkan tubuhnya sedikit, melemaskan otot otot tubuhnya.
"Aduhhh!!!" teriak Kimberly karena tiba tiba saja tubuhnya terdorong ke depan.
"Sorry, sorry ..."
Kimberly menatap dengan nyalang, "Apa kamu nggak punya mata, jalan seenaknya."
"Aku sudah minta maaf. Aku sedang terburu buru." Laki laki itu langsung pergi meninggalkan Kimberly yang tengah menggerutu.
__ADS_1
Dengan menyeret kopernya, Kimberly menuju ke arah pintu keluar. Ia tidak mengenal siapapun di sini dan ini pertama kalinya ia berada jauh dari keluarganya.
"Kim," suara yang sedari tadi ia ingin dengar, kini terasa begitu dekat di telinganya.
"Kak Lee!" Kimberly langsung melompat ke arah Anthony, "Kok kakak ada di sini?"
"Tentu saja untuk menunggumu. Aku berpikir sebaiknya aku menjemputmu, daripada harus melepas kepergianmu."
Blushhh ....
Ntah pikiran dari mana, tiba tiba saja pipi Kimberly merona. Sudah beberapa hari ini ia tidak bertemu dengan Anthony. Sahabat sahabatnya selalu membicarakan dan kembali membahas kedekatan antara Kimberly dengan Anthony, membuat Kimberly kadang menjadi salah tingkah.
Ya Tuhan, mengapa tiba tiba saja jantungku tak bisa diajak kompromi. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Kapan kakak kemari?" tanya Kimberly memecah keheningan.
"Sudah seminggu aku berada di New York, dan tadi pagi aku sengaja terbang ke sini untuk menjemputmu. Aku tahu, kamu belum mengenal kota ini dengan baik. Kalau nanti kamu nyasar dan hilang, bisa bisa kakakmu itu akan menjadi seperti orang gila," goda Anthony.
Kimberly teringat kembali akan hubungan Anthony dan kakaknya yang belum terlalu jelas baginya.
"Ayo, kita ke apartemenmu," Alan dan Megan sudah menyiapkan sebuah apartemen yang mereka sewa selama 2 tahun untuk tenpat tinggal Kimberly selama ia melanjutkan kuliahnya. Lokasinya sengaja dipilih yang tidak jauh dari kampus, agar memberi kemudahan bagi Kimberly untuk bolak balik.
*****
9 bulan berlalu, Viera telah melahirkan seorang bayi perempuan yang diberi nama Vivian Smith. William bahagia saat pertama kali menggendong putrinya untuk pertama kali.
Setelah masa pemulihan selama 1 bulan, Viera kembali ke kehidupannya yang dulu. Ia sering bepergian, berkumpul bersama teman temannya.
"Apa kamu tidak bisa menemani Vivi di rumah?" tanya William.
"Kan sudah ada babysitter. Untuk apa kita menggaji mereka tapi tidak dipergunakan," ucap Viera sedikit kesal.
William yang kini tengah menggendong Vivian hanya bisa diam, sambil memperhatikan istrinya yang sedang merias diri, karena akan pergi ke tempatnya biasa berkumpul.
"Minggu depan Daddy dan Mommy akan pulang. Mereka ingin bertemu dengan Vivi dan juga dirimu," jelas William.
Aduhh, kenapa sih mereka harus pulang. Mereka pasti akan berceramah lagi. Aku harus begini, aku harus begitu.
"Iya, aku mengerti."
"Aku juga akan pergi ke kantor sekarang. Ini kamu gendong Vivi dulu," ujar William.
__ADS_1
"Letakkan saja di tempat tidur, atau langsung kamu berikan saja pada babysitter. Apa kamu tidak lihat aku sedang berdandan, mengganggu saja," William menghela nafasnya pelan.
"Oya, honey. Aku minta uang ya, hari ini aku arisan."
Uang lagi?
"Berapa?"
"20 juta," jawab Viera dengan santainya.
"20 juta? bukankah kemarin aku baru memberimu 25 juta?"
"Itu kan untuk kebutuhanku, yang ini untuk arisan. Masa segitu saja perhitungan. Apa kata orang nanti kalau istri keluarga Smith tidak bisa arisan, padahal cuma 20 juta," ucap Viera kesal.
"Bukan begitu, honey. Tapi sekarang perusahaanku baru berjalan, masih banyak yang harus kulakukan dan itu membutuhkan uang."
"Ahhh, perusahaan kecil saja. Apa orang tuamu itu pelit hingga tidak memberikanmu jabatan di perusahaan Smith? sampai sampai putra satu satunya harus bekerja keras di perusahaan kecil."
"Honey, cukup!"
"Apa kamu berteriak padaku?"
"Bukan maksudku begitu, tapi mengertilah diriku sedikit. Saat ini kita harus sedikit menekan pengeluaran kita. Jika nanti perusahaan menjadi besar, aku akan memberikan apapun permintaanmu."
"Menunggu perusahaan besar? sampai kapan? Kamu sudah hampir setengah tahun berada di sana, tapi tetap saja tidak ada perkembangan."
"Sudahlah, ini masih pagi dan aku tidak ingin bertengkar denganmu," ujar William, kemudian mengambil ponsel dan dompetnya, dan melangkahkan kaki keluar dari kamar tidur mereka. William memanggil seorang babysitter untuk menjaga putrinya.
"Arggghhh!!! sialannn!! sialannn!!! Menjadi menantu keluarga Smith bukan membuat aku bebas, justru malah membuatku tetap terkekang. Aku juga harus menjagamu, mengesalkan!!" ucap Viera sambil melihat ke arah putrinya, Vivian.
Di dalam mobil, William terdiam sesaat. Ia memijat pelipisnya, ntah mengapa kepalanya terasa begitu penuh. Sejak menikah, seperti begitu banyak ujian yang harus ia lewati.
Tinnn.... tinnn ....
Suara klakson membuyarkan lamunannya, ia baru sadar kalau lampu jalan sudah berubah hijau. Ia pun akhirnya melajukan mobilnya menuju perusahaan. Sebuah perusahaan kecil yang terletak di pinggir kota, yang bergerak di bidang konstruksi.
William sendiri masih perlu banyak belajar tentang ilmu konstruksi, karena ia tidak mengambil jurusan tersebut saat kuliah. Setelah berkendara sekitar 1 jam, ia sampai di sebuah gedung berlantai 5, Smith Construction. Ia memarkirkan kendaraannya, dan berjalan masuk ke dalam.
Belakangan ini ia merasa kurang bersemangat. Saat ia pulang, tak ada yang menyambutnya. Bahkan ia pulang lebih dulu daripada Viera yang hampir keluyuran setiap hari. Sementara putri mereka dijaga oleh seorang babysitter. Awalnya William meminta Viera sendiri untuk menjaga Vivian, namun dengan tegas Viera menolak karena ia tidak mau menjadi seorang ibu ibu yang hanya menjaga bayi dan menunggu suami pulang. Ia adalah menantu keluarga Smith, maka ia harus selalu berada dalam lingkungan sosialita agar keberadaannya dikenal banyak orang.
*****
__ADS_1