
Berita pernikahan William Smith sudah terdengar dimana mana. Viera sendiri yang kini berada di dalam penjara juga sudah mendengar, bahkan ia bisa melihat beritanya melalui siaran televisi yang berada di ruang administrasi saat ia sedang mengurus surat surat.
Ahhh menyebalkan! Jadi dia telah menikah dengan wanita lain? cepat sekali. Apa dia benar benar tidak pernah mencintaiku? Aku dulu harus dengan susah payah membuat diriku hamil.
Tiba tiba saja Viera teringat akan pria yang ia bayar untuk menghamilinya. Dengan menggunakan uang yang diberikan oleh William, ia membayar pria itu.
"Di mana kamu sekarang Sam?"
*****
"Sialannn Fika!!" teriak King dari dalam ruangannya. Tubuhnya saat ini benar benar terasa panas dan King tahu apa yang terjadi. Ia sudah berusaha untuk bisa menerima Fika menjadi sekretarisnya, meskipun ia tahu Fika pernah membuat kesalahan.
Namun, kesempatan yang ia berikan ternyata tidak dipergunakan dengan baik. Dengan cepat King langsung meraih ponselnya, "Max, tolong aku!"
Max yang saat itu tengah berada di jalan karena mengantar salah satu klien pun langsung melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Fika yang meyakini kalau King telah menghabiskan kopi yang ia sediakan pun kini masuk ke dalam ruangan King dengan penuh percaya diri.
"Keluar!" teriak King.
"Kamu membutuhkanku, King. Jangan sok menolak. Bukankah kamu juga sudah ditolak oleh wanita itu, hmm?"
"Keluar!! atau aku yang akan menendangmu keluar dari sini."
Fika semakin mendekatkan diri pada King yang telah membuka jas dan dasi yang ia kenakan. Ia juga perlahan membuka kancing kemejanya karena tubuhnya saat ini benar benar panas, "Ahhh sialannn!!!"
"Dalam waktu 2 menit lagi, kupastikan kamu akan berada di atas tubuhku ini dan kuyakin kamu akan menikmatinya. Aku menyukaimu, King. Sudah sering aku mengatakannya, bahkan sejak dulu. Tapi kamu selalu menolakku. Apa kurangnya aku?" Fika perlahan membuka kancing kemejanya dan melemparkannya begitu saja ke lantai. Setelah itu menurunkan resleting dan kaitan rok sepan yang hanya menutupi setengah pahanya, sehingga menyisakan pakaian dalamnya saja.
Dengan sedikit meliuk liukkan tubuhnya, Fika berusaha membuat King merasa lebih panas," Kamu tak akan mampu lepas dari obat itu. Kamu tahu berapa banyak yang aku campurkan pada minumanmu? bisa membuatmu memuaskanku sampai pagi."
"Dasar wanita sialannn!!! Kamu benar benar tak tahu malu! keluar!!!" King terus berusaha menahan rasa panas yang kian menjalar merasuki tubuhnya. Bagian bawah tubuhnya semakin menegang dan seperti ingin dilepaskan karena gairah yang tak bisa ia keluarkan.
Fika semakin mendekat dan mulai menempelkan tubuhnya pada King, sehingga benar benar tak ada jarak di antara mereka. Ia mengelus dada King dengan jari jemarinya, "Aku memang tak tahu malu, tapi ini semua karena dirimu. Kamu yang telah membuatku seperti ini. Bagaimana, kamu menyukainya kan? Kemarilah, aku yang akan memuaskanmu."
__ADS_1
Namun, Fika salah besar. Tangan King tiba tiba saja meraih pergelangan tangan Fika yang menempel di dadanya, kemudian dengan kasar ia menghempaskannya, sehingga membuat Fika terjerembab di atas lantai. Sakit, ya itulah yang ia rasakan untuk ketiga kalinya ketika ia harus terjatuh di dalam ruangan King.
"Kamu tidak mau keluar, hah!? maka aku yang akan keluar," dengan gerakan cepat, King langsung menuju ke arah pintu. Ketika ia membuka pintu, ia melihat Max baru saja akan masuk ke dalam.
"Tuan?"
"Max, tolong aku. Bawa aku pergi dari sini, dan aku mau kamu melemparkan wanita ular itu sejauh mungkin dari hadapanku."
Max langsung membawa King ke rumah sakit seperti permintaan atasannya itu. Ia juga meminta security untuk segera membawa Fika ke pihak kepolisian. Nanti ia akan menyusul ke sana.
*****
Anita dan Lee memperhatikan Kimberly. Mereka mengajaknya berbicara dari hati tentang keinginan Anthony untuk menikahi gadis itu. Anita dan Lee tak memiliki keraguan sama sekali mengenai pilihan putra semata wayangnya itu.
"Kamu cantik sekali, sayang. Aunty bisa melihat kebaikan dari matamu. Anthony sangat beruntung bisa bertemu denganmu."
"Tidak, Aunty. Justru aku yang sangat beruntung karena memilikinya. Ia selalu menjaga dan menyayangiku. Aku malu jika melihat bagaimana tulus dirinya padaku," wajah Kimberly tiba tiba berubah menjadi sendu.
"Sayang, maukah kamu memanggilku Mommy, seperti Anthony?" Anita tersenyum sambil mengelus rambut Kimberly. Kimberly memeluk Anita, ia tak dapat lagi mengungkapkan kebahagiaannya.
"Mom, ini makan malamnya. Aku akan mengantar Kim ke hotel dulu, setelah itu aku akan kembali kemari."
"Kamu langsung pulang saja, An. Kamu juga pasti lelah."
"Tapi, Mom. Mom juga harus istirahat," Anthony menghela nafasnya pelan.
"Tidak, tidak. Besok juga Daddy sudah pulang. Justru kamu yang perlu istirahat. Kamu sudah lelah mengurus perusahaan."
"Baiklah, Mom. Aku akan kembali besok pagi untuk menjemput Daddy."
"Hati hati, sayang. Jaga menantu Mommy," Anita tersenyum pada Kimberly yang wajahnya sudah memerah.
*****
__ADS_1
Kota New York menjadi saksi acara pertunangan antara Anthony dan Kimberly. Acara diadakan di kota tersebut, mengingat kesehatan dari Mr. Lee Graham yang tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan.
Acara tersebut hanya dihadiri oleh keluarga dan sahabat dekat. Sebuah taman disulap menjadi begitu indah, seindah suasana hati pasangan tersebut.
Dengan balutan busana berwarna pastel dan rangkaian bunga dengan warna senada, namun lebih tua, membuat Kimberly tampil begitu cantik. Sementara Anthony menggunakan tuxedo berwarna hitam dengan pita kupu.
Acara berlangsung dengan lancar, membuat kedua keluarga terlihat bahagia. Keduanya telah mengenakan cincin pertunangan yang sangat indah. Cincin tersebut dipersiapkan oleh Anita. Ia yang memaksa Anthony karena sudah sejak lama ia menantikan hari ini tiba. Anthony pada akhirnya mempersilakan Mommynya untuk mempersiapkan apa yang ia inginkan.
"Sayang, kamu bahagia, hmm?" tanya Megan yang berdiri persis di samping suaminya, Alan.
"Kim bahagia, Mi. Bahkan sangat bahagia," Kimberly memeluk Mami dan Papinya, "Doakan Kim agar semuanya bisa lancar sampai hari H nya."
"Papi dan Mami tidak akan hanya mendoakan sampai hari H saja, sayang. Tapi Papi dan Mami akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu selamanya. Papi tahu kamu telah melewati banyak hal, ini semua adalah buah dari kesabaranmu," ucap Alan sambil mengecup kening Kimberly.
"Iya, sayang. Kami akan selalu mendoakanmu," lanjut Megan.
"Kim ..."
"Kak," Kimberly menoleh ke arah King yang kini tengah sedikit merentangkan kedua tangannya.
"Selamat atas pertunanganmu, kakak ikut bahagia melihatmu."
"Terima kasih, Kak. Tapi Kimberly juga mau minta maaf."
"Maaf? memang kamu berbuat kesalahan lagi?" tanya King mengerutkan keningnya.
"Maaf karena Kim ngelangkahin kakak ... habis kakak kurang gencar sih ngejar Kak Hanna nya. Lihat tuh Kak Hanna udah mulai dideketin sama cowo lain. Nanti kakak kalah saing loh," Kimberly sengaja memanas manasi King dengan menunjuk ke arah Hanna yang sedang berbincang dengan Rod, asisten pribadi Mr. Lee Graham.
Tanpa pikir panjang, King langsung menjauh dari Kimberly. Ia tak ingin kehilangan Hanna lagi, ia harus mulai melakukan sesuatu untuk kembali mendapatkan Hanna.
__ADS_1
*****