SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
SURAT CERAI


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Vivian?"


"Belum ada perkembangan lebih lanjut. Mereka sudah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh padanya dan ... Dokter mengatakan bahwa Vivian terkena kanker darah."


"What?!! yang bener aja, bro. Vivian masih kecil, kenapa bisa terkena penyakit itu?"


"Pertanyaanmu sama dengan pertanyaanku, tapi dokter mengatakan bahwa itu mungkin, bila diturunkan secara langsung dari salah satu keluarga."


"Lo juga diperiksa?"


"Hmm .... semalam."


"Lo udah ngabarin Keluarga lo?" William menggelengkan kepalanya.


"Gue nggak tahu gimana mau ngasih tahunya. Keadaan Vivian seperti ini san Viera malah pergi bersenang senang."


"Sabar, Wil," Jeremy menepuk bahu William.


"Oya Jer, Lo udah terima Kimberly kan buat kerja di tenpat lo?"


"Ya, sekarang dia salah satu analis keuangan di tempat gue."


"Baguslah kalau begitu. Setidaknya gue bisa bantu dia mendapatkan pekerjaan untuk pertama kalinya. Gue ngerasa banyak salah sama dia. Gue berharap dia bisa ngejalanin hidupnya lebih bahagia dan dia mau maafin gue."


"Sebenernya apa sih masalah lo berdua?"


"Ya gitu deh bro. Tapi yang pasti, gue terima kasih banget karena lo udah terima dia buat kerja di tempat lo."


"No problem Wil. Meskipun sebenarnya ...," belum sempat Jeremy meneruskan perkataannya, Kimberly memasuki ruangan.


"Permisi, Tuan Jeremy. Perkenalkan saya Kimberly. Saya diminta oleh Pak Lukas untuk mengantarkan dokumen ini," Kimberly memberikan sebuah map pada Jeremy.


"Baiklah, terima kasih."


"Kalau begitu, saya permisi dulu."


"Kim ...," gumam William.


Kimberly langsung keluar dari ruangan VIP tersebut. Kini ia tahu apa maksud dari perkataan Bu Melisa, bahwa ia masuk ke perusahaan Megatech karena koneksi.


Apa sebenarnya maumu, Wil? Apa dengan begitu kamu ingin menjatuhkanku? menganggapku tak bisa apa apa tanpa bantuanmu?

__ADS_1


"Kim, tunggu ...," William meraih pergelangan tangan Kimberly.


"Maaf, lepaskan tangan saya, Tuan," ucap Kimberly sinis.


"Maaf, maaf, Kim. Dengarkan aku, bisakah kita bicara?"


"Tak ada yang perlu dibicarakan. Tuan sebaiknya kembali ke dalam, Tuan Jeremy pasti sudah menunggu. Saya harus kembali bekerja."


"Kim ... setidaknya izinkan aku untuk meminta maaf padamu," ucap William saat Kimberly mulai melangkah.


"Anda tidak memiliki kesalahan apapun pada saya, Tuan. Kita tidak saling mengenal. Saya permisi," Tanpa menoleh, Kimberly pun melangkahkan kakinya pergi dari cafe tersebut.


"Argghhh!!!"


*****


Sesampai di kantor, Kimberly duduk di depan mejanya. Ia masih memikirkan apa yang tadi dibicarakan oleh William dan Jeremy.


Kalau aku tahu kalau aku diterima di sini hanya karena permintaan William, lebih baik aku tidak diterima sama sekali. Ini jauh lebih menyakitkan. - Kimberly.


Ia masuk ke dalam ruangan Lukas, "Permisi Pak. Saya ingin minta izin pulang lebih cepat, kepala saya sedikit pusing."


Ia kembali ke mejanya dan mengambil tas nya, "Kamu mau kemana, Kim?" tanya Anantha.


"Aku izin pulang, tha. Kepalaku agak sakit."


"Apa mau kuantar?"


"Tidak usah, tha. Terima kasih. Aku bawa mobil dan aku masih bisa mengendarainya."


"Baiklah kalau begitu. Berhati hatilah, telpon aku saat kamu sampai di rumah ya."


"Baiklah," Kimberly tersenyum kemudian meninggalkan ruangan divisi keuangan tersebut.


*****


William melangkahkan kakinya dengan gontai memasuki rumah sakit. Ia hanya keluar sebentar untuk meminta bantuan Jeremy untuk mengaudit keuangan perusahaannya.


Sebelum sampai di ruang rawat Vivian yang berada di lantai atas, William melihat seseorang yang sedang duduk termenung di salah satu kursi di depan ruang ICU.


"Kak King?" gumam William.

__ADS_1


Apa yang ia lakukan di sini? Apa Om Alan sakit? atau Tante Megan? - William.


Namun, William tidak berani untuk menemui mereka. Sejak kejadian di pernikahannya, ia belum berani bertemu dengan keluarga Harisson. Ia harus meminta maaf kepada Kimberly terlebih dahulu, setelah itu baru ia menemui keluarga Harisson.


Dokter Freya meminta janji bertemu, sehingga ia harus segera menemuinya. Kesehatan putrinya, itulah yang utama.


Tokkk ... tokk ... tokkk ...


"Ooo Tuan William, silakan masuk."


"Silakan duduk," Dokter Freya mengeluarkan sebuah amplop besar berwarna coklat. Di sana terlihat hasil pemeriksaan pada Vivian dan juga terhadap William.


"Tuan William, sudah dipastikan bahwa Vivian mengidap kanker darah. Kami sudah mulai memberikan beberapa obat untuk Vivian. Ia masih terlalu kecil untuk menerima obat obatan terlalu banyak, jadi kami menyarankan untuk segera mencari pendonor."


"Apakah milik saya tidak cocok, Dok?" tanya William.


"Maaf sebelumnya, Tuan William. Untuk pendonor sebaiknya dari pihak keluarga karena tingkat kecocokan akan lebih besar, meskipun ada kemungkinan tidak. Tapi akan lebih baik jika keluarganya yang mendonorkan, bukan orang lain."


"Maksud Dokter?"


"Coba bicarakan dengan Ayah dan Ibu kandung Vivian, apakah mereka bersedia untuk melakukan pemeriksaan."


"T-tapi ..."


Dokter Freya membalikkan kertas yang ia pegang jadi mengarah menghadap William, "Bisa anda lihat, Tuan William, bahwa tidak ada kecocokan sama sekali antara anda dengan Vivian. Bahkan golongan darah pun berbeda."


Deghhh ....


William seakan dihantam palu besar yang tak terlihat, mengetahui kenyataan bahwa ia bukanlah ayah kandung dari Vivian. Seorang anak perempuan yang ia anggap anak kandungnya sejak masih ada di dalam kandungan.


"Jadi ... maksud Dokter bahwa Vivian bukan putri kandung saya?" tanya William untuk memperjelas.


"Benar, Tuan. Kami bahkan melakukan test DNA secara sepihak untuk memastikan," ucap Dokter Freya.


"Baiklah, terima kasih," William bangkit dari duduknya, keluar dari ruangan dengan hati yang benar benar sakit.


Kurang ajar!! Sialannn!!!


William langsung mengambil ponselnya, "man, siapkan surat ceraiku!"


*****

__ADS_1


__ADS_2