SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
JANGAN SOK SUCI!


__ADS_3

Hanna menjenguk Anthony di rumah sakit. Ia datang bersama dengan Hansel.


"Bagaimana kata dokter?" tanya Hanna.


"Sudah tidak apa apa, tenang saja."


"Tenang, tenang. Kamu itu, sudah terluka masih saja mengatakan tidak apa apa."


"Aku memang tidak apa apa. Kimberly merawatku dengan baik," ucap Anthony. Mereka terus berbicara, Anthony juga menanyakan pada Hansel tentang keadaan perusahaan selama ia tidak ada.


Tanpa mereka sadari, King dan Kimberly masuk ke dalam kamar rawat tersebut dan melihat bagaimana kedekatan mereka bertiga.


Kalau saja dulu aku tak emosi dan mengambil kesimpulan sendiri, mungkin aku akan berada di sana bersama mereka ... dan masih bersama dengan Hanna. - King.


Kak, apakah wanita yang kamu cintai adalah Kak Hanna? kalian begitu dekat. Apa karena itu juga Kak Hanna tidak menerima Kak King kembali? - Kimberly.


"Kim, kamu sudah datang?" ucap Anthony saat melihat keberadaan Kimberly dan King.


"Iya kak, baru sampai," jawab Kimberly, "Kapan kakak boleh pulang? Apa dokter sudah mengatakannya?"


"Sudah, nanti sore aku sudah boleh pulang," Kimberly tersenyum meski agak sedikit dipaksakan, sementara King hanya duduk di sofa tanpa banyak bicara.


*****


Di dalam sebuah bar, terlihat Jeremy dan William. Mereka duduk di hadapan seorang bartender.


"Ngapain lo ajak gue kesini, Wil? Bukannya lo nggak suka ke sini?"


"Sekali sekali nggak apa apa lha. Lagian gue lagi butuh semua ini."


"Lo kenapa?"


"Apa gue salah Jer? gue kan cuma mau nikahin dia, kenapa dia harus marah marah. Bukannya dulu dia maunya gitu?"


"Tapi itu kan dulu. Sekarang semua pasti udah berubah," jawab Jeremy.


"Nggak mungkin! Nggak semudah itu cinta akan hilang, bro!" ucap William dengan nada sedikit tinggi.


"Apa karena cinta lo sama Viera belum hilang?"


Degghh ...

__ADS_1


Ya, memang cinta William pada Viera belum menghilang. Ia menyukai wanita itu sejak pertama kali ia bertemu. Semakin hari ia semakin cinta, apalagi saat Viera mengatakan bahwa ia sedang hamil, perasaan William semakin dalam. Mungkin sekarang kalau di dalam hatinya digali, setiap orang masih akan menemukan nama Viera yang masih berakar cukup dalam.


William tertawa sumbang, "Buat apa gue cinta sama wanita murahan itu. Dia aja nggak cinta sama gue, bahkan nggak pernah anggap gue," William tersenyum miris.


Dua orang wanita dengan pakaian seksi datang mendekati mereka. Mereka mulai mendekatkan tubuh mereka pada Jeremy dan juga William dan sikap yang sangat menggoda.


"Pergi!" perintah Jeremy. Ia sudah berjanji untuk tidak melakukannya lagi, sejak adik perempuan satu satunya meninggal karena diperkosa.


"Biarkan mereka, Jer. Aku membutuhkan mereka."


"Apa maksudmu, Wil? Jangan lakukan hal seperti ini, kamu bukan laki laki seperti itu."


"Tapi aku harus berubah kan. Untuk apa aku menjadi laki laki setia, tapi ternyata diselingkuhi dan tidak dicintai. Aku lelah, Jer. Kamu pulanglah, aku akan bersenang senang," Ia memerintahkan seorang bartender untuk memberitahukan untuk menyiapkan kamar untuknya yang memang disiapkan di lantai atas bar tersebut.


"Wil!"


"Pulanglah! Biarkan aku sendiri," William pun membawa salah satu wanita itu untuk memuaskan hasratnya, dan melupakan sejenak apa yang sedang ia alami.


Jeremy akhirnya pulang. Ia harus selalu pulang, karena orang tuanya sangat membutuhkannya sejak kepergian adiknya. Sementara itu, sepasang mata memperhatikan mereka berdua dan tersenyum.


*****


1 bulan berlalu,


"Tidak perlu, tha. Kita cukup melapor pada Tuan Arman saja. Bukankah ia adalah asisten pribadi Tuan William."


"Apa kamu malu Kim karena akan menjadi istri dari seorang William Smith?"


"Maaf, tha. Aku tak ingin membicarakan masalah itu," Kimberly diam sambil terus membereskan berkas berkas yang ada di hadapannya. Anantha jadi merasa bersalah menanyakan hal tersebut, karena melihat perubahan pada wajah Kimberly.


"Oya, Kim. Kalau begitu aku akan memberikan ini pada Tuan Arman."


"Baiklah, tha. Oya, katakan juga pada Tuan Arman agar mengatur jadwal meeting bersama setelah ini. Kita akan menjelaskan semua tentang hasil analisis yang kita dapatkan."


"Ok, Kim," Anantha pun pergi sambil membawa 2 buah tumpuk kertas yang sudah dijilid, sebagai bentuk laporan mereka.


Namun, suara interkom di ruangan tersebut membuyarkan pikiran Kimberly saat ia sedang berberes sendirian. Ia pun mengangkat telepon tersebut setelah mengetahui siapa yang berbicara.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Kimberly.


Ke ruanganku!

__ADS_1


Kimberly sangat kesal pada William yang semakin seenaknya saja. Kimberly tak bisa menolak karena ia membawa nama baik perusahaan. Apalagi saat William mengumumkan bahwa ia adalah calon istri dari seorang William Smith, semua orang mulai menyangka yang tidak tidak padanya. Bahkan Bu Melisa mulai mengatakan kalau dirinya telah menggoda seorang William Smith selama bekerja di sana.


Tookk ... tokkk ... tokkk ...


"Masuk."


Kimberly masuk ke dalam, "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"


"Kim, mengapa kamu bersikap formal seperti itu. Bukankah kamu adalah calon istriku" William langsung memegang pinggang Kimberly dan menariknya mendekat, sehingga tubuhnya menempel pada William. Namun Kimberly tetap memberi jarak dengan kedua tangannya.


"Lepas!!" Kimberly terus mendorong William dan berusaha melepaskan dirinya.


"Aku tahu kamu menyukainya, Kim. Bukankah sejak dulu hal ini yang kamu inginkan?" bisik William di telinga Kimberly


"Aku bukan Kimberly yang dulu! Lepas! atau aku akan berteriak."


"Teriaklah. Tidak akan ada yang mendengar. Bahkan tidak akan ada seorang pun yang akan masuk ke dalam ruangan ini tanpa perintah dariku. Jadi ... apa kita bisa bermain?" seketika ucapan William membuat bola mata Kimberly membulat.


"Lepas!!"


"Jangan sok suci, Kim!" William berusaha mencium bibir Kimberly, tapi Kimberly terus memalingkan wajahnya, menghindar.


"Sialannn!!! kamu bajingannn!!"


Plakkk!!!


Sebuah tamparan mendarat di wajah William. Hal itu bukan membuatnya sadar, malah membuatnya semakin ingin membuat Kimberly mengikuti keinginannya. Ia mendorong Kimberly ke atas sofa dan menindihnya.


"Aaahhhh!!!" teriak Kimberly, "Lepaskan aku, brengsekkkk!!"


William menekan suatu tombol, "Sekarang kita akan buat semuanya menjadi nyata."


William membuka kemejanya dan dengan senyum liciknya ia menahan tangan Kimberly ke atas, kemudian dengan kekuatan penuh mulai membuka satu persatu kancing kemeja Kimberly.


"Tidakkk!!! jangan lakukan itu. Sialannn!!!" Kimberly terus berusaha melepaskan diri, tapi kekuatannya kalah dari William.


Tiba tiba pintu terbuka, terlihat kedua orang tua mereka masing masing masuk ke dalam bersama Arman.


"K-kalian?! Apa yang kalian lakukan?" teriak mereka bersama sama.


William menoleh sedikit dan tersenyum, sebelum melihat lagi ke arah Kimberly, "Aku pasti menang."

__ADS_1


Kimberly akhirnya menyadari maksud dari kata kata William. Ia dijebak. William sengaja melakukan itu padanya.


__ADS_2