
Amarah Kimberly semakin menjadi jadi. Tak pernah menyangka William sanggup melakukan hal seperti itu hanya untuk mencapai tujuannya. Kedua orang tua mereka langsung melakukan pertemuan untuk membahas masalah pernikahan mereka. Kekecewaan timbul di wajah mereka, melihat kelakuan putra putri mereka.
Kimberly langsung meninggalkan tempat tersebut, tanpa memikirkan keadaannya. Ia mengambil kain, semacam syal yang selalu ia simpan di dalam tas miliknya. Ia membungkus tubuhnya, ia merasa jijik akan sentuhan William.
"Kim?" Anthony begitu terkejut saat Kimberly tiba tiba masuk ke dalam ruangannya dengan air mata yang mengalir di pipinya. Anthony pun meminta Hansel keluar dari ruangannya, meskipun ia belum selesai membahas masalah pekerjaan dengan Hansel.
"Apa yang terjadi?"
"Kakk ...," Kimberly menangis, Anthony segera memeluk dan mengusap punggungnya untuk menenangkan gadis itu.
"Ia licik sekali kak. Ia menjebakku," Kimberly membenamkan wajahnya di dada Anthony.
"Tenanglah dulu, setelah itu kamu bisa bercerita."
Dalam pikiran Anthony berputar hal hal yang tak ia mengerti. Perkataan Kimberly membuatnya tak tenang, perasaannya tiba tiba saja menjadi kosong.
Ponsel Kimberly berbunyi. Ia membuka tas nya dan melihat bahwa di sana tertera nama William.
"Kak, tolong aku. Bawa aku pergi dari sini. Dia pasti mencariku," pinta Kimberly.
"Baiklah, ayo," Anthony melepas jas nya dan memakaikannya pada Kimberly karena melihat penampilan Kimberly yang sedikit acak acakan. Ia mengirim pesan pada Hansel untuk mengatur semua jadwalnya kembali hari itu.
Di dalam mobil, Kimberly hanya diam dan menitikkan air mata. Anthony sesekali melirik ke arah Kimberly. Ia benci sekali melihat Kimberly menangis, apalagi jika menangis karena seorang William Smith.
Anthony membawa Kimberly ke rumahnya. Ia merasa di sana adalah tempat yang paling aman. Ia sudah memerintahkan pada security agar tidak memperbolehkan siapapun masuk.
"Kak, a-aku tidak mau ... aku tidak mau menikah dengannya. Dia jahat!" Kimberly meluapkan perasaannya pada Anthony.
"Minumlah, tenangkan dulu dirimu."
Ponselnya kembali berbunyi, kali ini tertera nama King. Kimberly pun akhirnya mengangkatnya.
__ADS_1
"Iya, Kak."
Kamu di mana, Kim?
"Aku ingin sendiri dulu, kak. Jangan cari aku."
Apa benar kamu akan menikah 3 hari lagi?
Deghhh ...
3 hari? Bahkan ia belum sempat menjelaskan semua yang terjadi di ruangan itu pada kedua orang tuanya. Lalu, apa ia harus menerima semua ini begitu saja? Tanpa bicara lagi, Kimberly langsung memutuskan sambungan ponselnya.
"Ada apa, Kim?" tanya Anthony saat melihat perubahan pada wajah Kimberly.
"Kak ... Kak King bilang mereka akan menikahkan aku 3 hari lagi dengan laki laki bajingan itu. Aku tidak mau kak, tidak mau!" Anthony langsung memeluk Kimberly. Hatinya seketika hancur mendengar itu. Apakah harus berakhir sebelum ia memulainya. Ia memang belum mengutarakan perasaannya pada Kimberly karena ia tak ingin merusak hubungan mereka saat ini.
Tiba tiba, muncul hal aneh di dalam pikiran Kimberly. Ia pun menatap mata Anthony yang berada di hadapannya.
"Iya, Kim," Kimberly tiba tiba mengajak Anthony untuk duduk di atas tempat tidur.
"Kak, apa kakak mau menolongku?"
"Tentu saja, Kim. Apa yang bisa aku bantu?" tanya Anthony.
"Jika aku memang harus menikah dengan laki laki brengsek itu, aku tidak mau ... aku tidak mau memberikan milikku yang berharga padanya."
"Maksudmu, Kim?"
"Tidurlah denganku, Kak. Aku akan menyerahkan milikku pada kakak, orang yang telah menyelamatkanku. Daripada aku harus memberikan padanya, aku ... tolong aku kak."
"Kim, bukan seperti itu caranya."
__ADS_1
"Tidak, Kak. Hanya itu caranya. Aku selalu menjaganya untuk seseorang yang aku cintai, untuk suamiku. Tapi ... tidak! jika dia yang harus menjadi suamiku ... Aku tidak akan rela. Tidurlah denganku, Kak."
Anthony memalingkan wajahnya, permintaan macam apa itu, pikirnya.
"Kak, apa kamu mendengarkan aku? tolong aku. Bukankah tadi kakak mau membantuku. Aku hanya meminta satu ini saja, tidurlah denganku."
"Kim!"
"Kakak tidak mau? kakak tidak mau membantuku? Kalau begitu, lebih baik aku pergi. Aku akan mencari seseorang yang mau membantuku," Kimberly ingin berdiri dari tempat tidur, tapi ditahan oleh Anthony.
"Kim! sadarlah! Bukan seperti itu jalan keluarnya."
"Aku harus pergi. Aku ... aku ... akan mencari seseorang untuk membantuku. Kalau perlu, aku akan membayar mereka. Akan lebih baik jika aku mencari laki laki hidung belang di luar sana dari pada harus memberikannya pada laki laki brengsek itu!"
"Kimberly berhenti!" Anthony sedikit meninggikan suaranya. Baru kali ini ia melakukannya pada Kimberly.
"Kakak membentakku? Apa kalian semua menyetujui hal ini? Kalian jahat! Kalian semua tidak sayang padaku," Kimberly menangis, tubuhnya luruh ke lantai. Ia menutupi wajah dengan kedua tangannya.
Anthony langsung memeluknya, "Maaf, maafkan aku, Kim. Tapi memang bukan itu caranya. Ayo, tenangkan dirimu dulu."
Anthony membawa Kimberly untuk beristirahat. Ia menyelimuti Kimberly dan berada di sampingnya.
"Kak, peluk aku," pinta Kimberly. Anthony akhirnya berbaring di sebelah Kimberly, menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Kimberly.
Kimberly mendekap Anthony dan membenamkan wajahnya di dada Anthony. Wangi tubuh Anthony dan kehangatan yang diberikan membuat Kimberly merasakan nyaman. Ia memejamkan matanya dan memeluk Anthony erat. Hingga akhirnya Kimberly tenang, membuat Anthony merasa Kimberly telah tertidur.
Anthony mengelus rambut Kimberly dan sesekali mencium pucuk kepalanya, "Maafkan aku, Kim. Bukan aku tak mau membantumu. Aku melakukan semua itu karena aku menyayangimu, karena aku mencintaimu. Aku ingin kamu menjadi wanita baik baik. Berikanlah apa yang memang menjadi hak siapapun yang menjadi suamimu. Meskipun kamu bersamanya, aku pasti akan tetap menjagamu, melindungimu, dan selalu menyayangimu. Aku mencintaimu," sebuah ciuman yang begitu dalam Anthony sematkan di kening Kimberly.
Buliran air keluar dari sudut mata Kimberly. Ia belum tertidur, ia mendengar semua ucapan Anthony. Hatinya merasa bahagia saat mendengar bagaimana perasaan Anthony padanya, yang artinya cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Tapi, sekarang semua sudah terlambat. Ia harus menjalani sesuatu yang tak ia inginkan.
Apa aku harus menyerah? Tuhan, tolong aku. Bukakan jalan bagiku, agar aku tahu jalan mana yang harus kupilih. Aku percaya kehendakMu adalah yang terbaik dan rancanganMu indah bagiku. - Kimberly.
__ADS_1