SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
KETAKUTAN


__ADS_3

Hanna mengerjapkan matanya, sekelilingnya berwarna putih dan tercium bau obat obatan, khas rumah sakit. Kini ia tahu dimana ia berada. Pikirannya kembali mengingat apa yang terjadi sebelum ini.


Laki laki bajingan!!! Ahhhh!!!


Hanna meremas rambutnya jika kembali mengingat masa masa ia hampir saja dilecehkan.


* Flashback on *


"Han, gue boleh pinjam catatan lo nggak? Ketinggalan nih gue," ucap Sam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Boleh kok. Lagian lo kalau lagi waktunya nyatet, malah bengong."


Gimana gue nggak bengong kalau lo selalu ada dalam jangkauan pandangan gue. Lo cantik banget, Han. Tapi sayang ... lo ...


"Han, makan yuk!"


"Ayo. Gue ke kantin dulu ya Sam. Lo makan aja dulu, itu catatan nggak apa apa kok kalau lo bawa pulang," ucap Hanna.


Gimana gue nggak makin suka sama lo. Lo itu perhatian banget. Kalau aja gue selalu dapat perhatian dari lo setiap hari, bukan King.


"Napa lo bengong bengong aja, ngeliatin Hanna lagi?" tanya Fika memukul bahu Sam.


"Kalau aja pacar Hanna itu gue, pasti gue bakalan happy banget."


"Kalau aja King juga jadi pacar gue. Kita bakalan sama sama happy. Gimana kalau lo rebut Hanna dari King, jadi nanti gue yang bakalan jadi pelipur hatinya King."


"Maksud lo?"


"Ah payah ih. Sini sini ....," Fika membisikkan sesuatu ke telinga Sam.


"Lo gila, Fik!"


"Terserah lo! Gue kan cuma bantu kasih ide aja. Kalau dia jadi milik lo seutuhnya, dia nggak bakalan lari lagi dari lo. Lo pikirin dulu deh, ntar kasih tahu gue. Jadi gue bisa ngejalanin rencana selanjutnya," Sam tampak berpikir, kemudian ia berjalan menjauhi Fika. Ia pergi menuju kantin.


Di kantin, ia melihat Hanna sedang duduk di sebelah King, berhadapan dengan Anthony dan Hansel. King yang sesekali menyuapi Hanna, membuat hatinya tiba tiba memanas, ia cemburu.


Seharusnya aku yang berada di sana, menikmati cinta dan perhatian Hanna.


Sam tidak jadi memesan makanan, ia segera beranjak dari sana dan menemui Fika.


Keesokan harinya,

__ADS_1


"Aduhh Han, gue kelupaan lagi bawa catatan lo, padahal besok ulangan. Ntar gue anterin aja ke rumah lo ya. Lo ada di rumah kan?" ucap Sam dengan nada tak enak hati.


"Iya, gue ada di rumah kok. Nyantai aja, lagian gue masih bisa belajar dari buku cetaknya."


"Ya udah, ntar gue anterin ya. Sorry banget loh."


"Iya, iya."


Mereka mengikuti pelajaran sekolah hingga selesai dan kini saatnya pulang.


"Lo udah siap lom?" tanya Fika pada Sam.


"Siap nggak siap, gue harus siap. Apalagi kalau gue berhasil buat jadiin Hanna milik gue, lo bakalan gue traktir deh!"


"Gue nggak perlu traktiran lo. Gue cuma pengen King jadi pacar gue. Jadi .. ayo cepetan kita jalanin rencananya."


Mereka pun pulang ke rumah Sam, mengambil buku Hanna yang memang sengaja ia tinggal. Ia juga berganti pakaian.


"Lo harus kerja cepet ya, gue nggak mau sampai gara gara kerja lo yang lambat, kita gagal."


"Iya, gue ngerti," Sam segera melajukan mobilnya menuju rumah Hanna.


Sam memarkirkan mobilnya di seberang rumah Hanna, tapi tidak persis di depannya. Fika tetap berada di dalam mobil untuk melihat keadaan sekitar dan juga melancarkan rencana selanjutnya.


Sam sedikit menggoyangkan gembok yang tergantung di pintu pagar rumah Hanna. Hanna keluar untuk memastikan siapa yang datang.


"Ooo Sam, tunggu sebentar," Hanna mengambil kunci ke dalam karena ia selalu mengunci pintu pagarnya saat ibunya sedang keluar.


"Masuk, Sam," Hanna membiarkan pintu pagarnya terbuka dan mempersilakan Sam untuk duduk di teras.


"Ini buku lo, Han. Thank you ya," ucap Sam.


"Sama sama. Oya, lo mau minum apa?"


"Apa aja, Han. Gue nggak mau ngerepotin lo," Hanna masuk ke dalam untuk membuatkan segelas jus untuk Sam, sementara Fika di mobil terus memperhatikan gerak gerik Sam. Ia pun mengirimkan pesan singkat pada Sam.


Sekarang!! jangan buang buang waktu.


Sam akhirnya masuk ke dalam rumah. Ia mendapati Hanna sedang berada di dapur. Tanpa basa basi, Sam langsung melingkarkan tangannya di pinggang Hanna, membuat Hanna terperanjat dan langsung memutar tubuhnya.


"Sam, apa yang lo lakuin? lepas!" teriak Hanna.

__ADS_1


"Jangan jual mahal, Han. Gue suka sama lo."


"Tapi gue nggak suka sama lo, Sam. Kita ini teman."


"Teman? Gue nggak mau cuma jadi teman lo. Gue mau lo jadi pacar gue."


"Gue udah punya pacar, Sam. Lepasin!!" Hanna terus mendorong Sam menjauh.


"Nggak akan gue lepasin, Han. Lo harus jadi milik gue."


Hanna berpikir bahwa ia harus melepaskan diri. Ia mencari benda yang bisa ia gunakan. Ia mengambil gelas blender yang akan ia gunakan untuk membuat jus. Meskipun terbuat dari plastik, setidaknya ia harus melakukan sesuatu.


Brughhh ...


"Aduhhh!!!" teriak Sam sambil memegang kepalanya yang sedikit berdarah karena pukulan Hanna. Hanna langsung berlari ke kamar dan menguncinya.


"Kamu tidak akan bisa lari, Han! Aku akan membuatmu membayar perlakuanmu ini padaku."


Sementara di dalam kamar, Hanna langsung meraih ponselnya yang terletak di atas nakas. Ia mencoba menghubungi King, namun sedang dipakai. Ia terus mencoba tapi tetap tak bisa tersambung, sementara Sam sudah mulai memukul pintu kamarnya.


Hanna pun menelepon Anthony dan Hansel, tapi hanya Anthony yang mengangkatnya.


Ada apa, Han?


"T-tolongin gue, An. Gue telepon King nggak bisa. T-tolong!!!"


Brakkk ....


"Aahhhh!!" Anthony langsung beranjak dari tempat tidurnya dan melajukan mobilnya. Untung saja rumah Hanna tidak terlalu jauh dari rumahnya.


Karena begitu kagetnya, ponselnya terlempar. Hanna berusaha meraihnya, namun gagal. Kini kedua tangannya sudah dicekal oleh Sam. Kilatan mata Sam membuat ketakutan bagi Hanna.


"Lepas, Sam. Lepasin gue!!"


Plakkk !!


Sam dengan keras menampar Hanna, kemudian dengan cepat membaringkannya di tempat tidur dan berada dalam kungkungannya. Hanna merasakan sakit yang amat sangat di wajahnya, tapi lebih sakit hatinya.


Dalam satu kali tarikan, Sam berhasil merobek baju Hanna, menyisakan pakaian dalamnya saja, membuat Hanna kembali berteriak, kemudian menendang Sam. Namun, tenaganya yang tak sebesar Sam membuat Sam tetap menjalankan aksinya. Ia berusaha mencium bibir Hanna, meskipun Hanna terus memalingkan wajahnya.


Ia juga menyentuh tubuh Hanna dengan jari jarinya, membuat dirinya seakan terkena sengatan listrik yang hebat. Hal itu membuatnya merasakan gairah yang besar.

__ADS_1


Brughhh!!!


__ADS_2