SEPARUH JIWAKU

SEPARUH JIWAKU
DIA KEMBALI?


__ADS_3

"Selamat pagi," sapa Kimberly pada resepsionis di perusahaan Megatech.


"Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa kami bantu?"


"Saya baru saja diterima kerja di sini dan saya diharuskan ke ruang HRD. Saya ingin bertanya ruang HRD nya sebelah mana ya?"


"Ooo ... Nona tinggal naik lift menuju lantai 3. Di sana sudah ada ruang tunggu. Silakan menunggu di sana untuk panggilan selanjutnya."


"Baiklah, terima kasih banyak," Kimberly sedikit membungkukkan tubuhnya.


Ia segera masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka. Ia menekan tombol yang tertera angka 3. Untung saja panggilan untuknya dilakukan pukul 10, sehingga tidak bersamaan dengan jam masuk kantor. Hari ini ia memang tidak diharuskan datang jam 8, karena memang hanya akan mendapatkan pengarahan. Dari kejauhan, Jeremy melihat Kimberly memasuki lift.


* Flashback on *


Melisa yang adalah kepala bagian HRD di Megatech, masuk ke dalam ruangan Jeremy. Ia kemudian duduk di hadapan Jeremy yang kini tengah memeriksa beberapa berkas.


"Apa rekrut pegawai berjalan lancar?" tanya Jeremy.


"Ya, semua sudah selesai. Kita hanya perlu memanggil mereka untuk melakukan pengarahan dan penandatanganan kontrak saja."


"Boleh saya lihat daftar nama pegawai yang telah diterima?" Melisa menyerahkan daftar nama yang telah ia susun dengan rapi di sebuah map.


"Kimberly," gumam Jeremy pelan, namun masih bisa didengar oleh Melisa. Ia ingin bertanya tapi ia urungkan. Ia kini menerka sendiri apa yang membuat atasannya itu menyebut nama Kimberly. Dari semua nama, hanya nama itu yang ia sebut.


"Baiklah, ini. Kamu boleh keluar," ucap Jeremy sambil menyerahkan map itu kepada Melisa.


"Baik, Tuan."


"Oya, kapan mereka akan menandatangani kontrak?"


"Besok, Tuan. Kami sudah memberitahukan kepada mereka yang terpilih," Jeremy menganggukkan kepala tanda mengerti, kemudian Melisa pun meninggalkan ruangan.


Tanpa bantuanku, ia sudah lolos kriteria dengan sendirinya, Wil. Kamu tak perlu khawatir. - Jeremy.

__ADS_1


* Flashback off *


Sementara itu di tempat lain,


"Kinan, Fahri, Jota ... Aku ingin menitipkan toko dan kedai makan ini kepada kalian. Ada sesuatu yang harus kulakukan di Jakarta. Maukah kalian membantuku?" pinta Hanna.


Ketiga pegawai utama Hanna itu melihat Hanna dengan tatapan bertanya tanya, apalagi di sebelahnya ada Ben yang turut mendengar dan memperhatikan mereka.


"Apa tidak bisa dilakukan dari sini saja, Kak? Bukankah sekarang zaman sudah canggih. Bertemu orang, tinggal video call saja. Surat surat, bisa kita kirim via email," Fahri merasa sedikit aneh jika tak ada Hanna di sana.


Hanna tersenyum, "Aku akan kembali kemari untuk melihat bagaimana kalian menjaga dan mengembangkan bisnis ini."


"T-tapi, Kak ... Kinan ingin kakak ada di sini."


"Maafkan aku karena mungkin ini terlalu mendadak, tapi sepupuku ini, Ben, mengharuskanku untuk ikut dengannya."


"Hei! Kenapa kamu memaksa Kak Hanna ikut bersamamu, hah?! Kamu kan sudah besar, pasti bisa menjaga diri sendiri," ungkap Kinan kesal, namun hal itu justru membuat Hanna terkekeh.


"Kami siap, Han. Kami pasti akan membantumu mengembangkan bisnis ini. Kami juga mendoakanmu agar bisa segera kembali kemari dan berkumpul bersama kami," ucap Jota bijak.


"Terima kasih, Jota. Kalian sudah kuanggap sebagai temanku, sahabatku ... bahkan kita seperti saudara. Sebagai ucapan terima kasihku, aku akan memberikan keuntungan kepada kalian bertiga, masing masing sebesar 15%."


"Tidak perlu, Han. Kamu tidak perlu melakukannya. Kami akan melakukan yang terbaik untuk toko dan kedai ini."


"Tidak ada penolakan! Aku memberikannya dengan ikhlas dan kalian harus menerimanya. Kita bersama sama membangun bisnis ini," ucap Hanna.


"Baiklah, Kak, Han," jawab mereka bertiga bersamaan.


Setelah menyerahkan semuanya kepada Kinan, Fahri, dan Jota, Hanna pun memurunkan kopernya dari kamarnya yang berada di lantai atas dengan bantuan Fahri.


"Terima kasih, Fahri," ucap Hanna. Sebelum berangkat, Hanna memberikan kunci kamarnya kepada Kinan. Ia bisa menginap ataupun membantu Hanna membersihkannya.


"Ayo, Han. Kita harus mengejar penerbangan kita," ajak Ben. Sekali lagi Hanna memutar tubuhnya, melihat ke arah teman temannya di sana dan juga tempat tinggal serta tempat usahanya. Ia tersenyum kemudian melambaikan tangan.

__ADS_1


*****


Tak pernah terpikir oleh Hanna bahwa ia akan kembali menapakkan kaki di ibukota negaranya ini. Kenangan buruk yang pernah terjadi, sebenarnya membuatnya enggan untuk kembali.


Ben merangkul pundak Hanna, "Tenanglah, aku ada di sini."


Ben menyangka bahwa laki laki yang menyebabkan Hanna depresi dan trauma, berada satu kota yang sama dengan Hanna. Oleh karena itu, lebih baik ia membawa Hanna ke Jakarta, agar dekat dengannya.


"Kita ke klinik dulu ya," ucap Ben sambil memanggil taksi yang memang sudah mengantri di bandara.


"Iya, Kak. Apa Kak Maria ada di klinik?"


"Ya, tapi hari ini ia hanya membantu Bu Mian bersih bersih saja, karena klinik sedang ditutup sementara."


"Apa karena aku kakak jadi menutup klinik itu?"


"Tidak, Han. Sebenarnya kakak berencana mengajak Maria untuk honey moon lagi, tapi ia malah menolak. Jadi kami sengaja menutup toko agar punya waktu bersantai di rumah bersama."


"Wah, aku jadi mengganggu nih," goda Hanna.


"Tentu saja ... mengganggu," mereka berdua pun tergelak. Hanna memang merasa nyaman bersama Ben. Ia tak punya siapa siapa lagi, kecuali Ben, begitu pula sebaliknya. Ben menjaga Hanna seperti adik kandungnya sendiri.


Sesampainya di depan klinik, Hanna dan Ben turun. Sang supir membantu mengeluarkan koper dari dalam bagasi.


"Terima kasih, Pak. Ambil saja kembaliannya," ucap Ben sambil menyerahkan beberapa lembar uang, kemudian merangku Hanna sambil masing masing menyeret koper mereka.


"Ayo tersenyumlah. Kita akan bertemu Maria dan Bu Mian, jangan sembunyikan senyum manismu itu."


"Ahhh Kak Ben!" Mereja pun masuk ke dalam klinik tersebut.


Sementara itu di bangunan seberang klinik,


Dia kembali? Mereka bersama ...

__ADS_1


__ADS_2