
Setelah semalaman pergi dengan Akmal dan menikmati keindahan puncak di malam hari Tiara setelah menjalankan ibadah di pagi hari kembali di peraduan. Tiara nampak enggan untuk keluar dari kamarnya yang kebetulan kalender menunjukan libur hari besar.
“Sayang…, anak mami kenapa malas ayo bantu mama masak di dapur. Hari ini akan ada tamu ke rumah kita,” ucap mama Dewi sambil mengusap rambut Tiara.
“Tamu? memangnya siapa sih ma?” tanya Tiara penasaran.
“Ada deh. Pokoknya surprise buat kamu nak!” ucap mama Dewi sengaja membuat Tiara semakin penasaran.
“Ih…, mama males dech kalau begini! Ogah ach aku mau tiduran saja! Mama sukanya main teka-teki,” ucap Tiara sambil masuk kedalam selimutnya lagi. Mama Dewi yang sudah biasa menghadapi Tiara langsung menarik selimut Tiara.
“Sayang…, ayolah bangun. Anak gadis jangan malas, anak gadis kalau habis subuh tidur lagi pamali lo jauh dari jodoh! Dan satu lagi kamu mau tubuh tambun kamu kembali?” ancam mama Dewi membuat Tiara langsung semburat bangun dan pergi ke dapur.
“Betul-betul anak gadis susah dibilangin!” gumam mama Dewi langsung menyusul Tiara setelah melipat selimut Tiara.
“Mbok…, belanjaannya banyak banget! Ini benar-benar masak karya ya?” tanya Tiara kepada si mbok yang sedang memetik sayur-sayuran.
“Iya non, kata nyonya hari ini ada tamu yang katanya calon menantunya!” ucap si Mbok membuat Tiara wajahnya memerah menahan rasa malu.
“Mbok jangan mengada-ngada ya? Aku belum ada calon kok!” ucap Tiara dengan penuh malu.
“Nona jangan bergurau ya? Tuan dan nyonya sudah lampu ijo lo?” ucap si mbok sambil mengedipkan matanya.
Tiara yang malas berdebat akhirnya hanya diam tidak mau lagi membalas ucapan si mboknya. Sementara itu mama Dewi yang baru datang hanya tersenyum simpul melihat tingkah putrinya.
Mereka bertiga selanjutnya masak tanpa ada suara sama sekali namun kadang-kadang diselingi tingkah lucu Tiara yang tidak tahu bumbu dapur. Merica disamakan dengan ketumbar hingga si mbok tertawa melihat putri majikannya itu.
“Makanya non jadi anak gadis harus belajar memasak di dapur biar nanti kalau sudah punya suami kita bisa merasakannya masakan special kita,” ucap si mbok menggurui putri majikannya.
“Memang harus ya mbok. Bukannya sekarang jamannya jaman canggih? Kalau perlu apa-apa tinggal delivery, jaman modern gitu lo mbok,” ucap Tiara yang memang dari kecil tidak pernah memasak namun hobby makan hingga badannya yang dulu tambun tumbuh subur untuk sekarang bisa ke body slimming berkat bantuan pak Akmal.
__ADS_1
“Beda sayang kalau kita masak sendiri kita bisa memberi makan suami kita dengan masakan yang kita masak dengan bumbu cinta jadi suami kita semakin sayang dan betah dengan kita?” ucap mama Dewi memberi nasehat putrinya.
“Betul non. Apa yang dikatakan nyonya. Nyonya saja yang banyak aktivitas menyempatkan diri memasask untuk Tuan,” ucap si mbok membumbui percakapan merekaa sehingga terkesan akrab antara majikannya dengan si mbok.
“Iya…, iya ntar aku usahakan belajar memasak dech!” ucap Tiara sambil membantu menghaluskan bumbu dengan cobek.
Acara memasak selesai mereka sudah menyempatkan diri untuk sarapan. Papa dan mamanya Tiara sudah berada di ruang makan menunggu Tiara yang masih bersiap diri di kamarnya. Tidak lama kemudian Tiara keluar dan ikut bergabung dengan mereka. Baru makan kira-kira dua sendok bel rumah berbunyi dan si mbok bergegas membukakan pintu setelah mempersilahkan masuk tamunya si mbok kembali ke ruang makan.
“Tuan…, di ruang tamu ada tuan muda yang kemarin datang kesini!” ucap si mbok memberitahu papa Roy.
“Siapa mbok? Akmal kah?” ucap papa Roy senang.
“Iya…, nak Akmal yang keren dan tampan itu! Non pokoknya si mbok setuju kalau non Tiara menikah dengan nak Akmal!” ucap si mbok senang.
“Ajak ke sini mbok sekalian biar sarapan!” ucap mama Dewi seolah memberi lampu hijau. Sementara itu Tiara nampak gelisah dengan kehadiran Akmal karena dirinya sangat berharap yang datang Vino.
“Tiara ayo kamu ambilkan nasi dan lauknya untuk nak Akmal!” bisik mama Tiara yang duduk dekat dengan Tiara sehingga membuat Tiara kaget.
Tiara yang iseng dengan cekatan mengambilkan makanan untuk Akmal dan tanpa sepengetahuan mamanya Tiara langsung membubuhkan sambal yang banyak untuk pak Akmal.
“Rasain lu biar mampus dn cepet pulang. Lama-lama ngeselin juga pak akmal ini! Tadi malam sudah memaksaku membawa ke puncak eh sekarang nongol lagi. Meskipun aku di puncak menikmatinya sih!” gumamnya lirih sambil sedikit tersenyum penuh makna.
Sementaraa itu Akmal yang tidak menarauh curiga sama sekali langsung memakan makanan yang dihidangkan oleh Tiara dengan lahap hingga dirinya menahan air mata dan keringat karena kepedasan.
“Gila…, ini cewek benar-benar menyebalkan! Masa iya diriku disuruh makan sambal yang begini pedasnya! Awas ya balasanku! Aku akan buat dirimu ampun-ampun dengan hukumanku!” gumamnya lirih dan langsung mengambil minuman yang ada di depannya.
Tiara yang melihat pak Akmal blingsatan menahan pedas dengan nalurinya dia mengambilkan minuman kembali untuk pak Akmal. Pak Akmal yang tidak tahan langsung menyerobot juga minuman milik Tiara.
“Sayang…, kamu benar-benar keterlaluan!” ucap mama Dewi memberi peringatan kepada Tiara.
__ADS_1
“Tidak apa tante, ini hanya kebetulan saja aku yang salah makan. Memang dari kecil aku tidak doyan sambel tante?” ucap Akmal masih membela Tiara.
“Tuh Tiara…, Akmal saja yang kau sakiti masih mau membelamu? Benar-benar lelaki idaman. Mama setuju deh kalau kamu menikah dengannya,” bisik mama Dewi kepada Tiara.
“Mama apa-apaan ya? Pak Akmal bukan tipe aku?” bisik Tiara kepada mamanya. Mamanya hanya diam mendengar pembicaraan Tiara dan tak lama kemudian ada yang datang lagi ternyata Vino.
Vino yang diharapkan oleh Tiara datang juga berkunjung ke rumahnya. Tiara merasa heran karena ternyata kedua orang tuanya tidak menyambut hangat kedatangan Vino. Kedua orang tua Tiara terutama papanya sangat tidak bersahabat dengan Vino bahkan dari caranya ngobrol papa Roy jelas berpihak kepada Akmal.
Akmal dan Vino sama-sama tampan namun dari sudut pandang Tiara lebih memilih Vino dibandingkan Akmal mungkin karena Vino cinta pertamanya Tiara.
Papa Roy yang seorang dosen mengerti akan bahasa tubuh seseorang sehingga dengan gayanya yang menginginkan putrinya hidup bahagia langsung memanggil Akmal dan Vino menuju ruang kerjanya.
Papa Roy merancang suatu test gambar tentang kesetiaan. Papa Roy secara jentelmen mengatakan mereka kalau dirinya hanya ingin meminta kesediaan mereka berdua untuk mengikuti permainannya.
Akmal dan Vino mengikuti permainan yang disediakan oleh papa Roy. Akmal nampak tenang dalam mengerjakannya sedangkan disini Vino mengerjakannya dengan penuh emosi karena dirinya ambisi untuk mendapatkan Tiara.
Bagi papa Roy itu sudah merupakan nilai plus untuk Akmal, jadi secara naluri dirinya sangat menyukai Akmal. Dari hasil penilaian sketsa pekerjaan mereka berdua papa Roy menyimpulkan kalau Akmal lebih unggul segalanya termasuk kesetiaan.
Setelah puas dan bersitegang di antara keduanya akhirnya mereka berdua pamitan untuk pulang.
Setelah kepulangan mereka berdua Papa Roy menyampaikan hasilnya kepada putrinya. Dari hasil analisa papanya membuat hati Tiara bimbang.
“Papa kalau seperti ini aku harus bagaimana?” tanya Tiara kepada papanya.
“Ikuti hati nuranimu! Kau lah penentunya! Papa dan mama tidak bisa memutuskan, tapi janganlah gegabah dalam membuat keputusan. Papa yakin kamu bisa mengatasinya sendiri,” ucap papa Roy setelah memberi penjelasan kepada putrinya.
Tiara akhirnya bengong dengan kebimbanan setelah papanya pergi meninggalkannya.
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?
__ADS_1