
Sejak pertemuan tempo hari dengan Vino mama Ratna nampak murung dan berusaha mencari informasi tentang Vino. Rasa penasaran mama Ratna mendorongnya untuk menyewa seseorang untuk mematai-matai Vino.
“Pak tolong selidiki semua hal terkait dengan Vino Sebastian! Ini biodatanya yang secara umum sudah aku ketahui!” ucap mama Ratna kepada seseorang yang dipercayanya untuk mencari berita.
“Baik bu! Dalam waktu dua hari ibu bisa menerima segala informasinya dengan baik,” ucap orang sewaan tersebut dengan penuh percaya diri.
Semantara itu Vino selalu mengingaat mama Ratna sejak bertemu dengannya di kantor pusat ketika rapat bersama Akmal.
“Ah kenapa aku merindukan sosok mama, dan anehnya kenapa mamanya Akmal selalu hadir dalam pikiranku? Ah…, benar-benar menyebalkan!” keluh Akmal dan menjambak rambutnya sendiri dengan kasar.
“Vino…, kamu kenapa?” tanya papanya yang baru saja datang dari olahraga.
“Tidak apa-apa pa! Aku hanya kesal saja pa. Kenapa Akmal punya segalanya sedangkan aku tidak. Bahkan dia juga punya mama yang selalu menyayanginya!” ucap Vino yang tidak sengaja telah menusuk perasaan papanya.
“Sabar Vino, tidak semua yang kau lihat itu benar nak! Akmal itu sama nasibnya dengan kamu. Sewaktu masih usia 5 tahun mamanya juga meninggalkannya karena keegoisan mamanya dan menikah dengan pria bule yang dianggap bisa memberinya segalanya!” jelas papa Abas pada Vino putranya.
“Betulkah pa? Kenapa papa bisa tahu segalanya?” tanya Vino sambil mengernyitkan dahinya.
“Karena papa temannya om Anggoro!” ucap papa Abas berbohong karena sebenarnya dia memang sengaja mengikuti perjalanan mantan istrinya tersebut.
“Tapi setidaknya mamanya Akmal juga memberinya kasih sayang pa? Meskipun tidak bersamanya lagi dalam satu rumah! Apalagi mamanya baik banget. Kemarin saja bertemu dengannya dia langsung mengajak Vino makan siang tapi sayang Vino buru-buru jadi tidak kesampaian,” ucap Vino yang menyangkal perkataan papanya.
“Apa? Mamanya Akmal mengajakmu makan siang bersama?” tanya papa Abas penasaran. Vino hanya menganggukan kepalanya. Papa Abas hanya menghela nafasnya dan pelan-pelan mengusap bahu Vino sebagai bentuk rasa sayangnya dan meninggalkannya menuju ke kamarnya.
Vino semakin bingung memikirkan dirinya yang menginginkan mamanya Akmal sebagai mamanya juga. Di saat dirinya kebingungan tiba-tiba datang Naira ke rumahnya yang diantar oleh pembantunya.
“Sayang…, aku datang dan ini aku bawakan makanan kesukaan kamu!” ucap Naira yang langsung lari memeluk Vino. Vino yang perasaan nya tidak menentu hanya cuek saja hingga membuat Naira kesal. Naira melepas pelukannya kemudian menangis dihadapan Vino.
__ADS_1
“Hik…, hik…, kak Vino jahat kenapa kamu melupakan aku dan tidak perhatian sama aku!” rengek Naira hingga membuat Vino semakin kesal dan meluapkan kekesalannya dengan membanting makanan yang dibawakan oleh Naira.
“Kak Vino benar-benar jahat,” Naira langsung berlari meninggalkan Vino kembali menuju mobilnya dan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sangat kencang seolah tidak percaya kalau Vino bersikap seperti itu.
Sementara itu Vino yang sadar akan perbuatannya berusaha mengejar Naira namun terlambat yang ada Vino tidak bisa mengejarnya. Vino menghela nafasnya, kemudian mengambil kunci motornya dan mengejar Naira hingga ke rumahnya.
“Mbok, Naira sudah pulang?” tanya Vino kepada pembantunya.
“Belum den? Memangnya kenapa?” tanya pembantu Naira ingin tahu.
“Kalau Nairaa sedih biasanya kemana?” tanya Vino kepada pembantu Naira kembali.
“Ke Villa den?” jawab pembantunya Naira.
“Si mbok tau alamat villanya?” tanya Vino berusaha mengorek keterangan dari pembantunya.
Sementara itu Vino yang sudah berada di depan Villa langsung menerobos masuk Villa yang kebetulan tidak dikunci.
“Naira…, kamu dimana?” teriak Vino sambil berlarian dari ruang satu ke ruang lainnya. Hingga akhirnya Vino melihat tubuh Naira yang tergeletak tak sadarkan diri dengan tangan penuh darah di salah satu kamar villa tersebut. Vino langsung menyobek kemejanya dan mengikatkan ke tangan Naira kemudian membopongnya ke dalam mobil. Vino yang kalut segera melarikan Naira ke rumah sakit terdekat.
Begitu sampai ke UGD Vino langsung meminta pertolongan dan dokter jaga beserta perawatnya langsung melakukan perawatan. Mereka berjuang keras untuk menghentikan pendarahan yang terjadi.
Setelah selesai menangani Naira dokter pun meminta Vino untuk datang ke ruangannya. Dokter pun menjelaskan kalau kondisi Naira sedang rapuh dan perlu perhatian. Dokter juga menyarankan kalau Naira perlu psikologi sebagai pendamping agar mentalnya stabil.
Vino menghela nafasnya kemudian kembali menemui Naira yang sudah berada di ruang perawatan. Vino kemudian menelpon orang tua Naira dan memberitahu keadaan Naira.
Setelah menelpon kedua orang tua Naira Vino mendekati Naira dan menggenggam tangannya dengan erat. Vino merasa bersalah dengan sikap Naira karena dirinya Vino bersikap nekat.
__ADS_1
“Sayang, aku mohon sadarlah! Aku tahu kalau semua ini salah aku!” Ucap Vino yang terus memanggil-manggil nama Naira.
Sementara itu Naira yang mendengar suara Vino pelan-pelan membuka matanya.
“Kak Vino, dimanakah aku?” tanyanya dengan berlinang air mata dan terlihat sedih.
“Sayang kamu di rumah sakit, aku mohon kau jangan melakukan itu! Maafkan aku bukan maksud aku aku ingin melukai hatimu. Aku lagi ada masalah di kantor!” ucap Vino sambil menciumi tangan Naira.
“Kak Vino aku sayang dan cinta kak Vino!” ucap Naira lirih. Vino langsung mengangkat jarinya dan menutup ke mulut Naira.
“Aku juga sayang kamu Naira!” bisik Vino sedih melihat Naira tidak berdaya.
“Naira…, apa yang terjadi dengan kamu?” tiba-tiba mamanya Naira muncul dan ditemani oleh papa Naira.
“Buk…, Buk…, ini pasti karena kamu,” papanya Naira lagsung melepaskan bogemnya ke arah Vino.
“Pa…, jangan pa! Kak Vino tidak bersalah! Aku yang salah pa?” ucap Naira lirih karena masih lemah akibat banyak mengeluarkan darah.
“Naira! kamu masih membelanya. Ingat nak masih banyak laki-laki lain di luar sana yang bisa menerima cinta kamu! Tinggalkan dia!” ucap papanya Naira kesal.
“Tidak pa, aku cinta dan sayang kak Vino! Dia laki-laki yang pertama dan terakhir yang kelak menjadi pendamping hidupku!” ucap Naira sambil menangis sesenggukan.
“Om…, maafkan aku. Aku berjanji akan menjaga Naira dengan baik! Aku akan menikahinya! Tidak ada rasa cinta dari perempuan lain selain cinta Naira kepadaku. Naira sangat tulus mencintaiku om. Aku siap menikahinya kapan saja!” ucap Vino memohon kepada papanya Naira.
“Pa…, biarkanlah mereka menentukan jalannya pa! Kita selaku orang tuanya harus mendukungnya!” ucap mama Naira memohon kepada suaminya. Papanya Naira melihat ke arah putrinya kemudian mengucapkan sesuatu kepada Vino sekaligus ancaman kepada Vino.
“Ok, aku percayakan putriku padamu tapi kalau putriku tidak bahagia, aku akan mengambilnya!” ancam papanya Naira kepada Vino. Vino pun menyetujuinya, kemudian mencium kening Naira.
__ADS_1
Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar, like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?