Si Buruk Rupa Mengejar Cinta

Si Buruk Rupa Mengejar Cinta
Kemarahan Vino


__ADS_3

“Plak…, plak! Kenapa kalian begitu ceroboh dan kenapa kalian bisa kecolongan kalau Tiara ikut serta bersama Akmal!” Vino marah besar menampar kedua anak buahnya yang diberi tugas mengawasi Tiara.


“Maaf pak waktu itu aku bersamanya sedang capek dan beristirahat sejenak untuk melepas rasa lelah kami tapi kami ketiduran karena udaranya yang sejuk membuat kami terlelap,” ucap kedua anak buah Vino berusaha meminta maaf agar terlepas dari kemarahan Vino.


Setelah pertemuan rahasianya dengan orang-orang suruhannya, Vino langsung menemui Bayu. Vino yang tahu kalau Tiara juga ikut menghilang memohon kepada Bayu untuk ikut membantu mencari Akmal dan Tiara. Namun Bayu yang tahu kalau Vino menyembunyikan sesuatu tidak memperbolehkannya.


“Pak Bayu, aku dan Arya ikut mencari mereka berdua, rasa-rasanya aku tidak tenang kalau mereka tidak ditemukan!” ucap Vino memohon.


“Tidak usah pak Vino. Kami tidak butuh bantuan anda, pak Anggoro sudah mengirimkan beberapa orang anak buahnya untuk mencari mereka selain melibatkan tim Sar,” ucap Bayu yang sengaja tidak mengijinkan Vino ikut terlibat.


“Baiklah! Nanti kalau sudah ketemu saya dikasih kabar,” ucap Vino sambil mengulurkan tangannya untuk pamitan kepada Bayu untuk pulang duluan bersama rombongan.


Sementara itu di gubuk Tiara tiba-tiba demam tinggi karena kehujanan, Akmal nampak panik dengan keadaan Tiara. Di pagi hari yang cerah tersebut Akmal membaringkan tubuh Tiara di atas dipan bambu kemudian mengecek kening Tiara dan masih terasa suhu tubuhnya tinggi. Tiara mengigau tidak jelas hingga menyebut-nyebut Akmal untuk tetap Tinggal bahkan tanpa dia sadari tiba-tiba tangannya menarik Akmal untuk tetap tinggal dan memeluknya.


“Kak Akmal jangan tinggalkan aku, aku takut sendirian…. Tolong aku kak Akmal mereka mengejarku dan hendak menjebakku!” ucapnya yang terus gemetar tubuhnya karena panasnya yang terlalu tinggi.


Akmal yang tidak tega langsung merengkuhnya dalam pelukannya kemudian berusaha menggosok punggung Tiara dengan minyak agar tubuhnya terasa hangat.


“Maaf, kamu jangan berpikir macam-macam. Semoga kamu memaafkanku dan tidak berpikiran negatif terhadapku,” ucap akmal yang santai namun dirinya sebagai naluri kelelakiannya langsung mengecup kening Rara.


“Sayang  kamu harus sembuh dan bertahan! Yakinlah kita berdua akan bisa melewati saat sulit seperti ini!” bisik Akmal bermaksud menenangkan Tiara.

__ADS_1


Tiara hanya menggeliat sambil terus mengigau namun setelah Akmal memeluknya seolah-olah dirinya merasakan kenyamanan dan tertidur dalam pelukan Akmal yang menyandarkan dirinya di dinding gubuk yang mulai reyot.


Akmal kembali mengusap kening Tiar dan terasa panas, Akmal kemudian membaringkan Tiara dan menyobek kain kaosnya kemudian menuangkan air dalam botol untuk mengompres keningnya.


“Tiara aku mohon kamu harus bertahan, aku yakin Bayu tidak tinggal diam! Dan papa pasti akan segera mengirim bantuan untuk mencari kita,” bisik Akmal sambil mengompres Tiara.


Bayu kembali koordinasi dengan pihak tim SAR kemudian setelah sarapan pagi dilanjutkan menyisir hutan, berharap Akmal dan Tiara segera ketemu. Inge pun juga ikut serta mencari Akmal dan Tiara.


“Inge coba kau hubungi terus ponsel mereka berdua, aku kuatir kalau terjadi apa-apa dengan mereka,” ucap Bayu mengingatkan Inge. Inge nampak santai menanggapi pertanyaan Bayu.


“Santai ae Bro kalau perlu kita beri waktu sehari lagi mereka di hutan, biar mereka bisa bersatu. Dan aku jamin setelah ini ada cinlok karena keadaan. aku lebih suka Tiara sama pak akmal daripada si Vino yang tidak jelas dan terkesan memanfaatkan Tiara,” ucap Inge.


“Pletak!” Bayu menjitak kepala Inge membuat Inge kesakitan.


“Kamu itu kalau ngomong dipikir dulu! Jangan main jepplak aja! Aku juga setuju mereka bersatu tapi kalau bisa pakai cara lain,” ucap Bayu sambil menarik tangan Inge yang hendak masuk jurang.


“Pak jangan kasar dong,bapak dendam ya sama aku!” ucap Inge yang tidak menyadari kalau sebenarnya dirinya akan masuk jurang.


“Siapa yang kasar, tuh lihat bawah kamu!” ucap Bayu sambil menunjuk ke bawah ternyata ada jurang yang menganga. Inge langsung pucat pasi andaikan tidak ditolong Bayu entah apa yang terjadi dengannya kalau dirinya terjatuh di dalam jurang dan di bawah banyak batu-batu.


“Terimaksih pak. Maaf…,” ucapnya tanpa sengaja terus berpegangan tangan Bayu.

__ADS_1


Tim Sar yang memimpin di depan memberi intruksi untuk membagi beberapa kelompok untuk mempermudah pencarian. Belum sampai ke tengah hutan tiba-tiba hujan kembali menguguyur dan petir pun menyambar-nyambar menggelegar seolah ingin membelah bumi mereka ketakutan hingga akhinya memutuskan untuk kembali ke penginapan.


“Bagaimana ini pak? Aku kawatir pak Akmal mengalami Hipotermia. Apalagi mereka hanya membawa baju yang melekat dibadannya bersama baju penghangat seadanya,” tanya Bayu kepada ketua Tim Sar.


“Yah…, mudah-mudahan mereka bisa bertahan. Dan yang lebih mengkhawatirkan ada beberapa titik di lokasi terjadi longsor karena hujan yang semalaman tidak berhenti,” ucap ketua Tim Sar hingga membuat Bayu wajahnya pucat karena takut jika pak Anggoro marah besar.


“Adakah jalan lain agar mereka bisa di temukan?” tanya Bayu kepada Tim Sar.


“Tidak ada pak! Kita tetap harus menunggu hujan reda agar kita bisa mencarinya dengan aman karena cuaca sangat tidak mendukung dan bisa berbahaya untuk keselamatan kita semua,” ucap ketua Tim Sar.


“Bukankah kita bisa memanggil pawang hujan, agar hujan di sekitar bukit segera mereda?” ucap Inge tiba-tiba hingga membuat Bayu mendelik menatap Inge. Namun tiba-tiba tim Sar justru merespon perkataan Inge.


“Boleh tuh, kalau kamu punya kenalan pawang hujan! Apa salahnya kita coba?” ucap ketua Tim Sar sambil tiba-tiba mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.


Setelah beberapa menit menunggu tiba-tiba datang seseorang dengan pakaian adat dan membawa peralatan untuk melakukan ritual menghentikan hujan.


Semua orang terdiam dan tidak ada pergerakan sama sekali. Mereka melihat dan menyaksikan ritual pawang hujan tersebut. Namun tiba-tiba Bayu yang tidak mempercayai ritual tersebut langsung keluar hotel dengan Inge dan mengajaknya pergi kembali menyusuri hutan.


Bayu juga membawa beberapa anak buahnya untuk menemaninya. Bayu dengan memakai mantel hujan.


“Inge, kamu pakai juga mantel hujan ini! Ayo kita berangkat kembali menyusuri hutan. Kalau kamu ragu mendingan tidak usah ikut. Kamu bisa menunggunya disini!” ucap Bayu sambil menyodorkan mantel kepada Inge.

__ADS_1


“Apapun itu, aku tetap ikut sama pak Bayu! Aku ingin segera bertemu Tiara. Aku merasa sepi kalau tidak bertemu dengannya,” Inge langsung memakai mantelnya dan bergabung dengan Bayu dan beberapa teman-temannya. Inge berharap pak Akmal dan Tiara bisa ditemukan hari ini juga.


Terimakasih para pembaca yang setia, atas kontribusi anda dalam memberikan komentar,  like, hadiah dan votenya. Ikuti keseruannya ya?


__ADS_2